Sukses

Misteri Penyebab Hepatitis Akut di Berbagai Negara, Gara-Gara Adenovirus atau COVID-19?

Liputan6.com, Jakarta Hepatitis akut kini menjadi kekhawatiran publik di tengah-tengah pandemi COVID-19. Penyakit ini bahkan diduga sudah ada di Indonesia.

Kementerian Kesehatan melaporkan hingga Jumat (13/5) sudah ada 18 kasus terduga hepatitis akut yang saat ini masih diteliti. 

“Dari 18 kasus ini ada 9 laki-laki dan 8 perempuan, satu lagi dalam proses verifikasi. Usia paling banyak adalah 5 sampai 9 tahun ada 6 orang. Kemudian di atas 15 sampai 20 tahun ada 4 orang. Lalu, ada empat kasus pada umur 0-4 dan empat kasus juga pada anak umur 10-14," ujar Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso, dr. Mohammad Syahril, SpP, MPH dalam konferensi pers, Jumat (13/5/2022).

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI Prof Dr dr. Hanifah Oswari, Sp.A (K) menjelaskan penyakit hepatitis akut ini memang sebelumnya muncul di sejumlah negara. Dari catatan WHO, penyakit ini awal mulanya terdeteksi di Alabama pada Oktober 2021. Ketika itu, ada 5 kasus hepatitis berat dengan kadar adenovirus tinggi (viremia adenovirus).

Selanjutnya, pada 5 April lalu penyakit hepatitis akut ini dilaporkan di Inggris. Tiga hari kemudian, 8 April 2022 sebanyak 3 negara lain melaporkan hal serupa.

Hingga 15 April 2022, hepatitis akut ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) oleh WHO. Dan pada 21 April 2022, kasus ini terus bertambah menjadi 169 kasus di 12 negara.

Di Indonesia, ada 3 dugaan kasus hepatitis akut anak yang meninggal pada periode 16-30 April 2022.

WHO bahkan mencatat ada 228 kasus probable (diyakini memiliki gejala) dengan 50 kasus dalam investigasi di setidaknya 20 negara. Masalahnya, pakar kesehatan lalu menemukan adenovirus (72%) dari 163 total kasus hepatitis akut di Inggris.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 6 halaman

Klasifikasi Hepatitis Akut

Menurut Prof Hanifah, ada beberapa kriteria pasien hepatitis akut menurut WHO yaitu: 

Probable

- Memiliki gejala hepatitis akut virus non hepatitis A, B, C, D, E)

- SGOT atau SGPT >500 IU/L

- Usia di bawah 16 tahun

- Terdeteksi sejak 1 Oktober 2021

EPI-Linked

- Memiliki gejala hepatitis akut virus non hepatitis A, B, C, D, E)

- terjadi pada segala usia

- Kontak erat dengan kasus probable sejak 1 Oktober 2021

Pending

- Hasil serologi hepatitis A-E belum keluar

- SGOT atau SGPT >500 IU/L

- Usia di bawah 16 tahun

- Sejak 1 Oktober 2021

Discarded

- Kasus dengan penyebab lain

Konfirmasi

- Belum diketahui

 

3 dari 6 halaman

Dua virus terdeteksi

Prof Hanifah mengatakan, ada dua virus terbanyak yang terdeteksi sejauh ini di Inggris yang berkaitan dengan kasus hepatitis akut ini, yaitu Adenovirus (72,22%) dan SARS-CoV-2 (11,3%). Namun PAHO (Pan American Health Organization) menyatakan, penyebab pasti penyakit belum bisa dipastikan.

"Adenovirus ditemukan pada banyak sampel darah, namun viral load rendah. Dan Adenovirus belum bisa ditemukan di sampel jaringan hati. Inilah yang masih dipertanyakan," katanya dalam Webinar Kesehatan Infeksi Emerging: Hepatitis Akut Berat yang Belum Diketahui Penyebabnya, ditulis Minggu (14/5/2022).

Prof Hanifah mengatakan ada beberapa hipotesis penyebab hepatitis akut ini:

1. Adenovirus biasa

“Virus biasa tetapi mungkin karena anak-anak 'dikurung di rumah' selama pandemi untuk melindungi mereka dari virus sehingga ketika keluar tertular virus,” kata prof Hanifah.

Kemungkinan lain, seperti adanya gelombang besar infeksi adenovirus, atau didahului infeksi Sars cov-2/infeksi lain, atau ko infeksi Sars cov 2/ infeksi lain, atau juga pengaruh atau paparan obat/toksin/lingkungan.

2. Adenovirus varian baru 

“Karena sebetulnya Adenovirus tipe 41 itu menyebabkan kelainan hati pada anak immunocompromised (memiliki masalah sistem imun). Tapi dalam laporan Inggris, mereka yang kena justru memiliki kekebalan tubuh (immunocompetent), jadi mungkin ada varian baru,” jelas prof Hanifah.

3. Sindrom post infeksi SARS CoV 2

4. Paparan obat/lingkungan /toksin

5. Patogen baru: sendiri atau ko-infeksi

6. Varian baru SARS-CoV-2

 

4 dari 6 halaman

Adenovirus dari Perspektif Pakar Mikrobiologi

Budiman Bela dari Departemen Mikrobiologi FKUI RSCM-Pusat Riset Virologi dan Kanker Patobiologi FKUI memiliki pandangan yang lebih spesifik terkait penyebab hepatitis akut yang diduga akibat dari paparan Adenovirus dan SARS-CoV-2.

“Adenovirus dan SARS cov-2 adalah dua virus yang dicurigai namun masih dipertimbangkan kemungkinan lain. Walaupun keduanya masih kandidat kuat, namun (penyebab hepatitis akut) bisa virus apa saja. Dalam teori lain yang belum terbukti, ada juga yang memiliki anggapan penyakit ini akibat Adeno-associated viruses,” kata dokter spesialis konsultan mikrobiologi klinik di RS Universitas Indonesia (RSUI) di Depok tersebut.

Lebih lanjut, Budiman menjelaskan, sebelumnya Adenovirus tipe 41 ditemukan pada pasien dengan keluhan diare, muntah, demam dan kadangkala disertai gangguan pernapasan. “Jadi sebelumnya Adenovirus 41 ini tidak diketahui sebagai penyebab Hepatitis Akut pada anak sehat.”

Masalahnya struktur Adenovirus 41 ini bisa berubah. “Ada bagian virus yang menempel pada sel-sel dan itu bisa di hati, bisa di sel jaringan ikat, sel epitel, bisa juga di sel darah putih. Jadi Adenovirus itu tipenya memilih tempat tertentu.”

“Jadi apakah Adenovirus tipe 41 ini benar-benar bisa menginfeksi Hati, belum diketahui. Karena sebelumnya belum bisa. Tapi apakah sekarang jadi bisa, itu masih diteliti,” katanya.

Selain itu, ada banyak jenis Adenovirus, bukan hanya pada manusia tapi juga pada hewan.

“Adenovirus lain ada yang menginfeksi saluran napas (spesies B1), mata, kemih dan kelamin, saluran napas, mata (keratokonjungitis --mata merah pilek (spesies D),” terangnya.

Meski begitu, Budiman tidak menampik teori lain yang menyebutkan bahwa dua jenis virus bisa bergabung dalam satu virus. “Ada kemungkinan virus baru ini dari gabungan 2 virus, karena ada lineage 3a dan 2.”

“Dari pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan darah misal plasma, kemungkinan virus ketemu menurun. Sementara saat mengambil darah utuh, kemungkinan menemukan materi genetik Adeno ini lebih besar,” ujarnya.

Lantas, apakah Adenovirus menginfeksi sel darah putih? Menurut Budiman, beberapa Adenovirus pada manusia ada yang relatif baru ditemukan dan bisa bereplikasi atau berkembang biak di sel darah putih juga.

“Pada publikasi sebelumnya, ada bukti bahwa sering terjadi rekombinasi-penggabungan materi genetik antara virus Adeno yang menginfeksi manusia sehingga bisa muncul sifat baru,” katanya.

 

 

5 dari 6 halaman

Tidak berhubungan dengan vaksin COVID-19

dr Budiman mengatakan, sebagian besar anak yang terkena hepatitis tidak menerima vaksin COVID-19.

"Kasus hepatitis yang terjadi kebanyakan menyerang anak di bawah 5 tahun, sehingga tidak memenuhi persyaratan untuk vaksin COVID-19," katanya.

Selain itu, Adenovirus yang dikaitkan dengan sebagian bsar kasus (Adenovirus ipe 41) berbeda dari vektor adenoviral yang digunakan dalam beberapa vaksin COVID-19.

"Vaksin Johnson and Johnson berbasis adenovirus 26, sedangkan vaksin AstraZeneca berbasis ChAdOx1," jelasnya.

"Jadi jangan artikan sebagai virus karena itu cuma seperti suatu kapsul yang digunakan menghantarkan gen, berbasis pada protein virus," jelasnya.

6 dari 6 halaman

Cara mencegah Hepatitis Akut

Budiman mengatakan, orang tua tidak perlu langsung panik dengan munculnya penyakit hepatitis akut ini. Sebab hepatitis akut ini bisa dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. 

“Di masa pandemi ini kita terbiasa 3M. Jadi tingkatkan kewaspadaan untuk pencegahan penyakit melalui kebersihan makanan dan minuman. Bukan berarti nggak usah beli, silakan tapi dipanaskan dulu sebelum dimakan. Dan pastikan menjaga kebersihan tangan dengan baik, sebelum makan dan minum,” katanya. 

Selain itu, petugas kesehatan yang terlibat disarankan menggunakan standar pencegahan dan pengendalian infeksi. “Anak dirawat dalam kamar yang memiliki kamar mandi sendiri karena hepatitis menular melalui Fekal Oral (penyebaran mikroorganisme dari feses yang terinfeksi dari satu orang ke dalam mulut orang lain) sehingga kebersihannya harus terjaga. Selain itu pasien dianggap menular sampai gejala sembuh,” katanya.

Retno Asti Werdhani dari Departemen Ilmu Kedoketran Komunitas FKUI menambahkan, budaya hidup sehat harus semakin diperkuat. 

“Menjaga kebersihan diri, imunitas (anak kecil imunitas rendah sehinggarentan infeksi) sehingga penting menjaga status nutrisi anak tetap baik,” katanya.

Selain itu, pastikan cuci tangan 6 langkah sesuai anjuran WHO, menjaga sanitasi bersih, rutin olahraga dan istirahat cukup.