Sukses

Tanpa Keterlibatan FDA, Sukarelawan Racik Sendiri Vaksin COVID-19 Buatan RADVAC

Liputan6.com, Jakarta Apabila selama ini penelitian mengembangkan vaksin COVID-19 dilakukan di bawah pengawasan dari institusi resmi sebuah negara, jalur berbeda ditempuh oleh sekelompok peneliti yang bernaung di bawah nama Rapid Deployment Vaccine Collaborative atau RADVAC.

RADVAC, terdiri dari lebih dari 20 ilmuwan, ahli teknologi, dan "penggemar sains" yang memiliki keterkaitan dengan institusi seperti Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology.

Namun dalam pengembangan vaksin COVID-19 yang dilakukannya, RADVAC tidak meminta izin dari badan pengawas obat Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA) sebelum dirancang atau diuji.

Selain itu, mengutip dari Live Science pada Rabu (5/8/2020), mereka juga tidak meminta persetujuan dari dewan etik sebelum merilis proyeknya dan menjadikan diri mereka sendiri sukarelawan uji klinis.

Dilaporkan, RADVAC juta telah membagikan bahan-bahan untuk vaksin yang berupa semprotan hidung ini kepada lingkungan sosial mereka sendiri, untuk disiapkan dan diracik sendiri oleh penerimanya. Mereka pun bisa memakainya secara mandiri.

2 dari 4 halaman

Vaksin Berpotensi Memberikan Perlindungan Berlapis

Pendiri RADVAC yang juga kepala ilmuwan dan ahli genetika Preston Estep mengatakan bahwa FDA tidak memiliki yurisdiksi atas proyek mereka karena para peserta meracik dan mengelola vaksinnya sendiri, tanpa membayar biaya kolaboratif apa pun sebagai imbalan.

"Kami tidak menyarankan orang-orang untuk mengubah perilaku mereka untuk memakai masker, tetapi (vaksin) memang berpotensi memberikan perlindungan berlapis," kata Estep kepada MIT Technology Review.

Belum diketahui apakah vaksin yang mereka kembangkan mendorong respons tubuh untuk COVID-19. Namun mereka sudah melakukan penelitian untuk menjawab pertanyaan itu. Salah satu yang telah mencobanya adalah ahli genetika George Church yang sudah menggunakan dua dosis vaksin.

"Saya rasa kita berada pada risiko yang jauh lebih besar dari COVID (daripada akibat vaksin eksperimental), mempertimbangkan berapa banyak cara Anda bisa mendapatkannya dan seberapa besar konsekuensinya," kata Church.

Church sendiri percaya bahwa vaksin yang mereka kembangkan aman walau tidak ada data yang membuktikannya. Menurutnya, risiko yang lebih besar adalah dari tidak efektifnya vaksin itu sendiri.

3 dari 4 halaman

Risiko Pengujian Vaksin Tanpa Pengawasan

George Siber, mantan kepala vaksin di perusahaan farmasi Wyeth mengatakan bahwa bereksperimen dengan vaksin buatan sendiri bukanlah ide yang baik bahkan bisa memicu hal yang lebih buruk misalnya kondisi langka seperti tubuh yang lebih rentan infeksi parah setelah divaksinasi atau antibody dependent enhancement (ADE).

"Anda benar-benar perlu tahu apa yang Anda lakukan di sini," ujarnya.

Selain itu, Siber mengatakan bahwa pemberian vaksin yang lewat hidung membuatnya lebih tidak yakin akan kekuatannya dalam melindungi, sekalipun itu aman.

Dalam sebuah laporan mengenai bahan-bahan vaksin, RADVAC menyatakan bahwa formulasinya berisi fragmen protein pendek yang disebut peptida, yang ditemukan dalam virus corona.

Peptida ini tidak dapat menyebabkan COVID-19, namun secara teori, bisa dikenali sistem imun dan mendorong pembuatan antibodi sehingga mampu menargetkan dan menonaktifkan virus. Namun menurut Siber, peptida ini tidak secara konsisten mendorong respon kekebalan yang kuat.

Selain itu, vaksin RADVAC juga disebut mengandung kitosan. Zat ini ditemukan dalam cangkang krustasea seperti udang. Kitosan ini ditujukan untuk melapisi peptida dan memudahkan penggunaannya lewat jaringan mukosa di hidung.

"Kami telah mengirimkan materialnya kepada 70 orang," kata Estep. "Mereka harus mencampurnya sendiri, tetapi kami belum memiliki laporan lengkap tentang berapa banyak yang telah menggunakannya."

Belum diketahui apakah FDA nantinya akan terlibat dalam penelitian yang dilakukan RADVAC. Selain itu, belum dilaporkan adanya komentar dari mereka.

4 dari 4 halaman

Saksikan Juga Video Menarik Berikut Ini