Sukses

Penyebab Penyakit Campak dan Rubella serta Cara Mencegahnya

Liputan6.com, Jakarta Penyakit Campak dan Rubella menjadi salah satu perhatian utama pemerintah Indonesia. Kedua penyakit tersebut dikenal ganas karena cukup mematikan dan menyebabkan cacat.

Indonesia pun berkomitmen untuk mencapai eliminasi penyakit campak (measles) dan pengendalian penyakit Rubella (Congenital Rubella Syndrome) pada tahun 2020. Salah satu strateginya dengan melaksanakan Kampanye dan Introduksi Imunisasi MR (Measles Rubella).

Merebaknya virus Campak dan Rubella tak hanya terjadi di Indonesia saja. Pasalnya, banyak negara yang terjangkit kedua virus tersebut dengan korban yang tidak sedikit.

2 dari 5 halaman

Gejala Penyakit Campak dan Rubella

Penyakit campak disebut juga sebagai Morbili atau Measles. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan mudah menular melalui batuk dan bersin. Campak atau Measles awalnya muncul dengan gejala berupa demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk saja atau pilek saja, dan bisa juga keduanya sekaligus. Selain itu, gejala lainnya adalah mata merah. Campak dapat merenggut nyawa seseorang apabila disertai dengan komplikasi pneumonia, meningitis, dan diare.

Sementara itu, tidak berbeda dengan penyakit campak, Rubella atau yang biasa disebut Campak Jerman juga cukup berbahaya yang bisa ditularkan melalui batuk atau bersin. Meski terbilang tidak begitu berbahaya seperti Campak, namun Rubella tidak pandang bulu menyerang penderitanya.

Pasalnya, Rubella bisa menyerang wanita hamil yang dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir dengan cacat pada kehamilan trimester pertama. Cacat bawaan ini disebut dengan congenital rubella syndrome atau sindrom rubela kongenital.

Sindrom rubela kongenital, menurut siaran di laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia, adalah kumpulan gejala penyakit yang terdiri dari katarak (kekeruhan lensa mata), penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan, termasuk keterlambatan bicara dan disabilitas intelektual.

Sindrom rubela kongenital disebabkan oleh infeksi virus rubela pada janin selama masa kehamilan karena ibu tidak mempunyai kekebalan terhadap virus rubela. Sedangkan pada anak-anak, biasanya gejala berupa demam ringan. Namun tidak menutup kemungkinan tidak adanya gejala yang terjadi sehingga sering tidak diketahui.

3 dari 5 halaman

Penyebab Penyakit Campak dan Rubella

Tidak sedikit orang yang menganggap penyakit Campak dan Rubella adalah penyakit yang sama. Padahal, kedua penyakit ini disebabkan oleh virus yang berbeda. Selain itu, dampak yang ditimbulkan pun berbeda. Untuk itu, berikut Liputan6.com paparkan perbedaan antara penyakit Campak dan Rubella, yang dilansir dari situs Centers for Disease Control and Prevention, Senin (4/3/2019).

Penyebab Penyakit Campak

Melansir dari situs Centers for Disease Control and Prevention, Senin (4/3/2019), penyebab penyakit Campak berupa virus RNA, yaitu virus yang materi genetiknya berupa asam nukleat yang berbentuk rantai ganda berpilin. Virus ini masih tergolong famili Paromyxavirus. Jika virus HIV menular jika bersentuhan, Campak menular melalui saluran pernapasan.

Virus RNA biasanya menyerang mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah ataupun mereka yang belum pernah mendapatkan vaksin Campak sebelumnya. Seseorang yang tertular virus ini akan mengalami viremia primer, yaitu keadaan dimana virus menyebar ke seluruh pembuluh darah dan menginfeksi tubuh selama 2-3 hari.

Penyebab Penyakit Rubella

Jika Campak disebabkan oleh virus RNA berantai ganda, berbeda dengan Rubella. Dilansir Liputan6.com dari situs Centers for Disease Control and Prevention, Senin (4/3/2019), Rubella atau Campak Jerman ini berasal dari virus RNA berantai tunggal dari genus Rubivirus. Meski sama-sama menular melalui saluran pernapasan, Rubella punya medium lain.

Rubella bisa menyerang penderitanya yakni melalui transmisi vertikal seperti dari ibu kepada janinnya. Saat menginfeksi, virus RNA tunggal itu akan masuk ke sel-sel tubuh dan menetap di sana. Lalu menyerang dengan reaktivasi virus ketika tubuh dalam keadaan lemah.

4 dari 5 halaman

Cara Mencegah Campak dan Rubella

Setelah penderita campak dan rubella semakin banyak berjatuhan, dapat disimpulkan bahwa dua penyakit ini tidak dapat diobati. Pengobatan yang diberikan kepada penderita sayangnya hanya bersifat sementara. Namun, campak dan rubella bisa dicegah dengan dilakukan imunisasi sejak usia dini.

Mengingat dua penyakit ini berasal dari virus RNA berbeda rantai, peneliti menemukan kombinasi vaksin yang bisa mencegah seseorang dari tertularnya virus ini. Vaksin tersebut disebut dengan Measles-Rubella atau MR.

 

5 dari 5 halaman

Kampanye dan Introduksi Imunisasi MR

Indonesia sendiri berkomitmen untuk mendukung eliminasi penyakit campak dan pengendalian penyakit Rubella pada tahun 2020. Salah satu strateginya dengan melaksanakan Kampanye dan Introduksi Imunisasi MR (Measles Rubella).

Imunisasi dengan vaksin MR adalah pencegahan terbaik untuk kedua penyakit ini. Satu vaksin mencegah dua penyakit sekaligus. Imunisasi MR diberikan pada anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama masa kampanye. Imunisasi MR masuk ke dalam jadwal imunisasi rutin segera setelah masa kampanye berakhir, diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan dan anak kelas 1 SD/sederajat tanpa dipungut biaya.

Untuk mengatasi penyakit Campak dan Rubella, vaksinasi dibutuhkan untuk mencegah merebaknya kedua virus tersebut. Melalui kegiatan kampanye dan introduksi imunisasi MR dengan cakupan yang tinggi, terbukti kasus penyakit Campak dan Rubella menurun di provinsi Pulau Jawa pada tahun 2017 silam.

Selanjutnya, diharapkan akan tercapai eliminasi penyakit campak dan pengendalian penyakit rubella sehingga anak-anak Indonesia dapat terlindungi dari penyakit berbahaya dan menimbulkan kecacatan ini.

Loading
Artikel Selanjutnya
Wabah Campak Meningkat, Badan PBB Ingatkan Dunia untuk Waspada
Artikel Selanjutnya
Gara-Gara Bocah 5 Tahun, Campak Kembali Muncul di Kosta Rika