Sukses

Sehat Pedia, Inovasi Kemenkes Sambut Era Digital

Liputan6.com, Jakarta Menyambut era digital, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ikut berinovasi, salah satunya dengan mengeluarkan aplikasi Sehat Pedia. Hal ini salah satunya untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan lebih mudah, khususnya dalam penguatan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta.

Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Agus Hadian Rahim, masyarakat Indonesia saat ini sudah bertransisi menjadi masyarakat informasi. Sehingga, kebutuhan akan informasi yang tinggi bergantung pada inovasi teknologi yang terus berkembang.

Agus menyatakan, Kementerian Kesehatan harus memberikan contoh yang baik mengenai penyebaran informasi kesehatan. Hal ini juga merupakan perintah langsung dari Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek agar Kemenkes terus berinovasi, termasuk dengan Sehat Pedia.

Sehat Pedia telah diluncurkan Kemenkes pada 8 November 2018. Aplikasi ini memudahkan masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan, berupa konsultasi dengan dokter umum, gigi, dan spesialis. Selain itu, disediakan juga berbagai artikel yang terkait dengan kesehatan dan ditulis oleh para dokter UPT Kemenkes. Selain sebagai edukasi, artikel dalam aplikasi ini juga berguna menangkal hoaks kesehatan yang banyak beredar di masyarakat.

Walaupun begitu, Sehat Pedia bukan satu-satunya startup kesehatan di Indonesia yang memungkinkan pasien bisa berkonsultasi dengan dokter secara langsung. Namun, Agus mengakui bahwa aplikasi Sehat Pedia berbeda dengan layanan kesehatan daring lainnya.

"Sehat Pedia pasti yang menjawab konsultasinya adalah SDM-SDM (Sumber Daya Manusia) yang sudah bekerja di rumah sakit vertikal kita," kata Agus dalam temu media di sela Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2019 di Tangerang, Banten pada Rabu (13/2/2019).

"Kompetensinya sudah pasti dijamin. Sudah lewat kredensial dan lain-lain," imbuh Agus.

 

2 dari 2 halaman

Tak terbatas di kota besar

Selain itu, Sehat Pedia juga tidak terbatas hanya di kota besar saja seperti Jakarta. Namun, layanan konsultasinya tersebar di seluruh Indonesia. Lewat aplikasi ini, setelah pasien berbicara dengan dokter, dirinya bisa diarahkan untuk menuju ke fasilitas kesehatan tertentu.

"Ada dari Jayapura, Papua. Nanti kita arahkan, kalau memang di sana rumah sakitnya bisa mengerjakan dan ada dokter terdekat, kita arahkan. Tapi kalau tidak bisa nanti bisa dirujuk," tambah Agus.

Selain itu, pengguna Sehat Pedia bisa terkoneksi dengan aplikasi pendaftaran online milik Kemenkes. Masyarakat juga bisa mengetahui fasilitas rawat inap yang kosong lewat aplikasi SIRANAP.

Adapun, saat ini, dokter yang sudah terlibat dalam Sehat Pedia berjumlah 582 dokter dari 32 RS vertikal. Dengan rincian, 49 dokter umum, 66 dokter gigi, dan 467 dokter spesialis. Berdasarkan data dari Google Play Store, hingga saat ini aplikasi tersebut telah diunduh hingga lebih dari lima ribu unduhan.

Loading
Artikel Selanjutnya
6 Sikap Organisasi Farmasi Soal Wacana Izin Edar Obat Dipegang Kemenkes
Artikel Selanjutnya
PUSTARA Tak Setuju Izin Edar Obat Dipegang Kemenkes