Sukses

Kecacatan Seumur Hidup Intai Orang yang Terlambat Obati Kusta

Liputan6.com, Jakarta Lima belas tahun yang lalu, Tribuwan (33) mengabaikan bercak putih kusta yang muncul pertama kali di jari tangannya. Ketika area yang terdapat bercak putih mulai mati rasa, ia tetap mengabaikan. Setelah menikah dan punya tiga anak, gejalanya kian memburuk. Tetapi ia tetap menghindari pergi ke dokter karena tidak punya biaya.

Seiring waktu, matanya memerah, bahkan merah menyala. Rekan-rekan kerja pria asal India ini semakin mengkhawatirkan. Akhirnya, ketika jari-jari pria yang bekerja di pom bensin ini berbentuk seperti cakar baru pergi ke dokter.

“Suatu hari, saat saya selang bensin di mobil seseorang, si pengemudi melihat ke tangan saya. Dia mengatakan kepada saya, dirinya juga telah dirawat karena kusta dan menyuruh saya untuk datang (karena menilai kondisi yang saya alami itu juga kusta), ” kata Tribuwan sambil duduk di Leprosy Mission Trust Hospital, Shahdara, Delhi bagian timur, dikutip dari South China Morning Post, ditulis Senin, 11 Februari 2019.

Efek lain yang terjadi, Tribuwan tidak bisa lagi menutup matanya. Kondisi seperti yang dialami Tribuwan termasuk serius.

Padahal bila ia segera tanggap sejak awal untuk pergi ke pusat layanan kesehatan, kondisinya tak separah itu.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI, Wiendra Waworuntu menjelaskan, kusta yang terlambat diobati bisa semakin parah.

“Mata penderita kusta nanti tidak bisa tertutup. Tangan dan kaki bisa mati rasa. Bakteri kusta menyerang kulit saraf tepi sehingga membuat penderita mati rasa. Penderita jadi tidak merasakan sentuhan atau sakit sama sekali,” jelas Wiendra dalam  konferensi pers "Stop Diskriminasi: Ayo Sukseskan Eliminasi Kusta" di Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Kusta ditularkan oleh bakteri Mycobacterium leprae melalui percikan saluran pernapasan. Penularan penyakit menular kronik ini pun lewat udara.

Bercak merah dan putih pada kulit menjadi salah satu gejala awal kusta. Kian lama jika dibiarkan, penderita bisa cacat. Jari tangan atau kaki membengkok.

Dalam jurnal berjudul Leprosy: Current situation, clinical and laboratory aspects, treatment history and perspective of the uniform multidrug therapy for all patients, yang ditulis Rossilene Conceição da Silva Cruz dan Samira Bührer-Sékula dkk tahun 2017 menulis, gejala awal kusta bercak pucat putih atau merah pada kulit. Penderita merasa tidak nyaman. Apalagi ada pembengkakan seperti benjolan pada wajah.

“Pada akhirnya, penderita kusta akan cacat. Ketika sudah cacat, nanti malu. Kemudian mengalami gangguan sosial dan diskriminasi atau stigma terhadap diri sendiri dan orang lain. Misalnya, takut dikucilkan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Bisa juga ketakutan tidak bisa menikah dan bekerja,” jelas Wiendra.

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Komplikasi yang berujung kecacatan

Ahli Eliminasi Kusta Sri Linuwih Menaldi memaparkan, ada komplikasi kusta yang berujung kelumpuhan dan kecacatan.  Efek buruk juga berdampak pada mata tidak bisa tertutup.

“Kalau pada mata, refleks kedip tidak seimbang. Antara kedipan mata kiri dan kanan enggak sama. Kita bisa merhatiin, orang punya kedip mata sama atau enggak. Kalau kedipan matanya enggak sama  berarti ada kelainan pada tubuhnya,” ungkap Linuwih, yang juga dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Pada tahap yang parah, jari-jari yang membengkok pada akhirnya menimbulkan kecacatan. Fungsi jari tidak bisa digunakan. Ketika sudah menyerang saraf, kusta berujung pada kebengkokan jari.

Sayangnya, seringkali penderita kusta datang dalam kondisi sudah parah seperti yang dialami Tribuwan. Alasan mereka baru berobat ada yang mengabaikan kondisi dan baru datang ke dokter setelah parah.

Selain jari membengkok, komplikasi lain meliputi jari makin memendek, otot lemas dan mengecil. Ketika dibiarkan saja, jari akan kaku,  lalu tidak bisa diluruskan lagi. Kelumpuhan fungsi jari terjadi.

“Kami suka nanya, kapan mulai sakit. Pada umumnya, mereka enggak tahu kapan mulai sakit. Tahu-tahunya sudah parah saja kondisinya. Paling dijawab, misalnya, sekitar 5 tahun lalu mulai terasa sakit. Bahkan mereka tidak tahu di mana terinfeksi bakteri kusta,” Linuwih menjelaskan.

Untuk mengatasi hal itu, amputasi menjadi pilihan. Kecacatan yang ditimbulkan dari  amputasi pun akan dialami sepanjang hidup.

Kecacatan pada tangan, kaki, dan mata tidak bisa dikurangi. Artinya, jika sudah mengalami kondisi itu, maka kecacatan tidak bisa disembuhkan. Walaupun begitu, bila penderita kusta menjalani perawatan sampai tuntas, bakteri kusta yang ada pada dirinya akan hilang.

3 dari 3 halaman

Tahapan infeksi kusta

Sebelum terjadi kondisi parah dan kecacatan, masyarakat harus memahami tahapan-tahapan gejala kusta. Genetics Home Library, US National Library of Medicine mencatat, penderita kusta akan mengalami episode yang dapat menyebabkan kerusakan saraf lebih lanjut. Episode-episode ini termasuk reaksi pembalikan (reversal reaction), yang melibatkan rasa sakit dan pembengkakan pada lesi kulit dan saraf di tangan dan kaki.

Penderita dengan jenis kusta yang lebih parah dapat mengembangkan jenis reaksi yang disebut erythema nodosum leprosum (ENL). Pada tahap ini, penderita mengalami demam dan muncul nodul (benjolan) kulit yang menyakitkan. Selain itu, ada rasa nyeri dan saraf membengkak dapat terjadi. ENL pun bisa menyebabkan radang pada sendi, mata, dan testis.

Rentang waktu tahapan kusta yang parah sampai mengalami kecacatan pun butuh waktu bertahun-tahun (5 tahun atau lebih). Untuk masa inkubasi yang menimbulkan seseorang terinfeksi bakteri kusta, yakni selama 3-5 tahun, menurut Linuwih. Namun, bakteri kusta sebenarnya tidak mudah menyebabkan infeksi.

“Kalau kekebalan kita kuat, meski terpapar bakteri, ya tidak akan terinfeksi. Bakteri kusta juga berbeda dengan jenis bakteri lainnya. Ketika terpapar cahaya matahari, bakterinya lebih cepat mati,” tambahnya.

Sanitasi yang buruk menjadi faktor risiko penularan tinggi. Ini karena lingkungan yang kotor dapat menurunkan daya tahan tubuh. Tubuh akan rentan terinfeksi bakteri, termasuk bakteri kusta.

Kusta telah lama distigmatisasi karena sifat menularnya dan cacat yang ditimbulkannya. Stigma ini dapat menyebabkan masalah sosial dan emosional bagi individu yang terkena dampak. Namun, perawatan modern dapat mencegah kusta memburuk dan menyebar ke orang lain.

Pengobatan menggunakan kombinasi Multi Drugs Therapy (MDT), yaitu 6 blister/keping selama 6 bulan untuk kusta kering dan 12 blister/keping selama 12 bulan untuk kusta basah. Kusta kering berupa kulit kering bersisik, sedangkan kusta basah berupa kulit yang basah sehingga tampak mengkilap.

Jatuh dari Balkon, Nenek Mendarat di Pagar Tajam

Tutup Video
Loading
Artikel Selanjutnya
Hewan Lucu Pembawa Bakteri Kusta
Artikel Selanjutnya
Hati-Hati, Kusta Basah Tularkan Lebih Banyak Bakteri