Sukses

LIVE REPORT:PELANTIKAN PRESIDEN JOKOWI DAN WAKIL PRESIDEN MA'RUF AMIN

Awas, Stres Berlebihan Bisa Sebabkan Obesitas

Liputan6.com, Jakarta Emosi negatif, seperti depresi dan stres yang kita rasakan ternyata bisa memicu seseorang alami obesitas. Dalam hal ini, seseorang makan sebagai respons terhadap emosi negatif (emotional eating). Kondisi tersebut dapat menyebabkan berat badan naik yang bisa mengarah pada obesitas.

Peneliti Tatjana van Strien dari Behavioral Science Institute, Radboud University Nijmegen, Belanda memaparkan, bukti-bukti tentang kemungkinan hubungan antara emosi dan obesitas. Makan yang berlandaskan emosi, khususnya emosi negatif (depresi, stres, frustasi, bosan). 

Stres dapat merusak (menghilangkan atau melepaskan) kontrol diri terhadap pembatasan asupan makanan. Yang terjadi adalah seseorang dapat kehilangan kontak dengan perasaan lapar dan kenyang. Alhasil, ada kecenderungan untuk makan saat tubuh dilanda stres. 

Dalam jurnal berjudul Causes of Emotional Eating and Matched Treatment of Obesity, yang dipublikasikan di Current Diabetes Reports pada 25 April 2018, rasa tertekan atau depresi biasanya dikaitkan dengan hilangnya nafsu makan dan penurunan berat badan selanjutnya. Namun, ada seseorang yang depresi justru ditandai dengan peningkatan nafsu makan.

Tak ayal, kenaikan berat badan terjadi. Jika nafsu makan tidak terkontrol, maka obesitas akan dialami seseorang.

"Depresi bisa memicu nafsu makan meningkat. Ini sebagai respons terhadap perasaan depresi. Hasil penelitian menemukan, orang-orang yang depresi alami kenaikan berat badan setelah 5 tahun," tulis Tatjana, dilansir dari National Center for Biotechnology Information, Rabu, 16 Januari 2019. 

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Makanan sebagai penghibur

Dokter Nabila Viera Yovita dari KlikDokter menjelaskan, kondisi emosi yang seseorang tidak stabil dapat berujung pada kelebihan berat badan. Bagi orang yang sudah obesitas bisa memicu timbulnya gangguan kesehatan mental.

Kondisi seseorang yang makan berlandaskan emosi pada umumnya bukan karena merasa lapar.

“Mengonsumsi makanan akan membuat seseorang merasa nyaman. Namun, rasa bosan, sedih, atau kesal yang memicu seseorang untuk makan, belumlah hilang. Akibatnya, kalori berlebih yang baru saja dikonsumsi,” jelas Nabila, dikutip dari KlikDokter.

Nafsu makan emosional bisa dipicu perasaan bosan, cemas, frustasi dan tertekan, kesepian, serta marah. Nafsu makan yang terbilang palsu membuat seseorang terus-menerus makan camilan, minuman manis, hingga makanan dalam porsi besar.

"Anda akan merasa bahwa makanan tersebut berfungsi sebagai penghibur atau penyelesaian masalah sementara," Nabila menambahkan.

Ketika makanan sebagai penghibur dapat menyebabkan ketergantungan. Artinya, saat seseorang ada masalah sedikit saja, maka langsung mencari makanan untuk “mengobati” rasa tidak nyaman pada perasaan tersebut. Kalau itu terus-menerus dilakukan, bukan tak mungkin berat badan cenderung bertambah dan bisa berujung obesitas.

Loading
Artikel Selanjutnya
Selamat Hari Pangan Sedunia, Ayo Perbaiki Pola Makan Sehat
Artikel Selanjutnya
Kota Ini Tempati Posisi Kedua dengan Angka Obesitas Tertinggi di Australia