Sukses

Mendikbud: SKTM Palsu Rusak Karakter Anak

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan penggunaan surat keterangan tidak mampu (SKTM) palsu dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merusak karakter anak.

"Orangtua yang menggunakan SKTM palsu, di samping telah berbohong, juga telah merusak karakter anaknya sendiri dengan memberikan contoh perilaku tidak jujur," ujar Mendikbud di Jakarta, Selasa.

Muhadjir mengatakan penggunaan SKTM tidak mutlak penggunaannya karena SKTM untuk keluarga tidak mampu di zona masing-masing sudah otomatis akan diterima di zona masing-masing serta mendapatkan prioritas.

Ia mengakui memang ada masalah dalam penyalahgunaan SKTM, terutama keluarga tidak mampu yang berasal dari luar zona di satu sekolah. Kemudian, ada juga siswa yang berasal dari keluarga mampu, tetapi memaksakan diri masuk ke sekolah itu dengan menggunakan SKTM palsu.

"Saya belum tahu persis berapa jumlahnya, tapi kemungkinan tidak banyak. Hanya memang ada yang merasa lebih punya hak dibanding yang lain. Inilah yang menjadi persoalan besar."

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menambahkan, sekolah harus melakukan verifikasi penggunaan SKTM dan melakukan pengecekan di lapangan.

"Kalau memang tidak mampu, supaya disadarkan untuk ditarik."

 

2 dari 2 halaman

Pemerataan kualitas

PPDB dengan menggunakan zonasi bertujuan untuk pemerataan kualitas serta mencegah dan menghilangkan praktik yang kurang baik pada sistem penerimaan sebelumnya.

Selain itu, PPDB zonasi juga bertujuan untuk pemetaan anggaran, populasi siswa, serta tenaga pengajar. Kemudian juga sulitnya membuat peta populasi siswa di suatu daerah, karena begitu bebasnya semua siswa bisa pindah termasuk di semua tempat, sehingga sulit memetakan.

"Terkait anggaran juga begitu. Mestinya anggaran pendidikan yang digunakan oleh daerah semestinya digunakan untuk peserta didik yang ada di daerah itu. Tetapi dengan bebas seperti kemarin, banyak sekali anak di luar daerah yang masuk. Kemudian sekolah tertentu yang kenyataannya menyedot anggaran dari daerah itu."

Menurut dia, sistem zonasi akan memudahkan pemangku kepentingan memetakan anggaran, populasi siswa, dan tenaga pengajar.

"Juga perlu diingat ini bukan langkah terakhir. Setelah kebijakan zonasi, kami sudah menerbitkan peraturan soal mutasi guru. Jadi, nanti guru juga harus ada lingkup kerja dan lingkup area seperti Aparatur Sipil Negara (ASN) pada umumnya, dan itu sesuai dengan UU ASN," jelas Mendikbud.

Selama ini, guru menetap dan jarang yang dipindahkan. Ke depannya tidak bisa seperti itu, harus ada perputaran, Jadi antara sekolah itu akan ada pergantian guru.

"Pergantiannya SMA/SMK lingkupnya provinsi, untuk SD/SMP di dalam kabupaten/kota. Tapi masih sangat mungkin antardaerah kabupaten atau kota sesuai keperluan," ucap dia. (Antaranews/Indriani)