Sukses

Ide Brilian Ismail agar Difabel Tuli dan Bisu Mudah Berkomunikasi

Liputan6.com, Jakarta Penyandang difabel tuli dan bisu kerap mengalami kesulitan berbicara dengan orang lain saat bepergian. Apalagi kalau mereka membutuhkan pelayanan di tempat umum, seperti mengurus KTP-el atau meminta pertolongan orang lain di jalan.

Orang lain pun tidak memahami apa yang ingin dikatakan difabel. Keinginan mendapatkan layanan bagi difabel jadi terkendala. Layanan atau permintaan dari para difabel ini pun tidak dapat terwujud.

Menilik adanya kesulitan penyandang difabel tuli dan bisu untuk berbicara dengan orang lain, Mohammad Ismail, seorang difabel tuli asal Yogyakarta, tergerak menciptakan aplikasi cerdas untuk mereka yang tuli dan bisu.

Aplikasi ini bernama Signteraktif berupa layanan video call, yang menghubungkan antara difabel tuli dan bisu dengan juru bahasa isyarat.

"Pengguna tinggal mengunggah aplikasinya di Google Play Store pada ponsel android masing-masing. Setelah diunggah, nanti ada verifikasi dulu, apakah pengguna ponsel tuli, bisu, atau juru bahasa isyarat. Untuk penggunaannya, difabel bisa berkomunikasi langsung dengan juru bahasa isyarat yang sudah bergabung dan terdaftar di aplikasi tersebut," kata Ismail dalam bahasa isyarat saat ditemui dalam acara "Talkshow tentang Inklusi Difabel" di Kedutaan Besar Australia, Jakarta, ditulis Jumat (15/12/2017).

 

 

Simak video menarik berikut ini:

1 dari 3 halaman

Penyampaian kepada orang lain

Cara kerja aplikasi Signteraktif, yakni difabel berkomunikasi dengan juru bahasa isyarat. Kemudian juru bahasa isyarat akan menerjemahkan apa yang ingin disampaikan difabel kepada orang lain.

Orang lain akan menyaksikan langsung juru bahasa isyarat lewat video call, yang ditunjukkan oleh difabel.

Dalam pembuatan aplikasi, Ismail berperan sebagai inovator (penyampai ide). Pembuatan aplikasi ia serahkan kepada developer.

"Jadi, orang lain bisa tahu, apa yang ingin disampaikan difabel tuli dan bisu. Saya ciptakan ide terinspirasi dari teman. Dari kecil saya sudah tuli. Sering bertemu dengan teman yang tuli juga dan bergabung dengan komunitas penyandang tuli. Teman pernah cerita, dia pernah ngantre buat ngurus KTP-el, tapi karena memang tidak bisa mendengar. Dia hanya menunggu dan terus menunggu. Dia tidak tahu, kalau nomor antrean dia sudah dipanggil dari tadi," cerita Ismail.

2 dari 3 halaman

Kekurangan juru bahasa isyarat

Ismail mengungkapkan beberapa kendala penerapan aplikasi Signteraktif. Aplikasi yang baru rilis pada Oktober 2017 ini baru bergabung 14 juru bahasa isyarat. Penggunaan aplikasi juga mencakup seluruh Indonesia.

Namun, jumlah juru bahasa isyarat, terutama di luar Pulau Jawa, masih terbilang kurang. Selain itu, bahasa isyarat tiap daerah juga berbeda.

"Misalnya, difabel di Jawa, Kalimantan, dan Bali punya bahasa isyarat berbeda. Jumlah juru bahasa isyarat masih sedikit di aplikasi ini. Yang paling banyak ada juru bahasa isyarat baru di Pulau Jawa saja," kata Ismail.

Ia berharap teknologi aplikasi Signteraktif dapat berkembang perlahan-lahan. Juru bahasa isyarat juga diharapkan banyak yang bergabung di aplikasi tersebut.

Artikel Selanjutnya
PDIP: Kartini Pasti Menangis Lihat Sikap Elite Bangsa Saat Ini
Artikel Selanjutnya
Autism Awareness Festival, Menerima dan Memahami Individu Autistik