Sukses

Indonesia Sulit Jadi Negara Maju Kalau Rakyatnya Masih Merokok

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan terus mensosialisasikan mengenai bahaya merokok‎. Selain berbahaya untuk kesehatan, merokok juga mempengaruhi tingkat produktivitas masyarakat.

Guru Besar Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany,‎ mengusulkan kepada pemerintah untuk bisa memaksa para pengusaha agar membuat aturan mengenai larangan merokok saat jam kerja.

"Kalau bicara produktivitas jelas kebiasaan merokok itu sangat mempengaruhi. Banyak orang itu kalau lagi jam kerja, keluar hanya untuk merokok. Para pemilik kantor mestinya melarang itu," kata dia saat diskusi di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (20/12/2016).

Dari data yang ia miliki, di Indonesia, mayoritas pecandu rokok berasal dari masyarakat menengah ke bawah. Dengan demikian, menurut Hasbullah rokok bisa menyulitkan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.

Tak hanya itu, saat ini Indonesia tengah memiliki bonus demografi di mana sebagian besar masyarakat Indonesia berada dalam usia produktif. Jika konsumsi rokok tidak dikendalikan, maka bisa merusak bonus demografi tersebut.

"Ada yang bilang kalau nggak merokok itu tidak bisa berpikir. Pertanyaannya, apakah orang yang tidak merokok itu tidak bisa berpikir dan tidak produktif, tidak juga. Jadi ini masalah kebiasaan saja," kata Hasbullah memaparkan.

Sementara itu, di kesempatan yang sama, Ekonom Senior Emil Salim menegaskan dirinya mendorong Kementerian Keuangan untuk melakukan upaya-upaya demi mengurangi konsumsi rokok.

‎"Demi kemajuan bangsa, kalau kita tidak selamatkan generasi muda, bubar cita-cita Indonesia jadi negara maju pada 2045, hanya karena diinjak sama industri rokok. Industri rokok bukan industri biasa, industri rokok adalah industri racun," kata Emil.