Sukses

Peneliti Temukan Penyebab Tuli Nada

Liputan6.com, New York: Apakah temen-temen menutup telinga ketika mendengar Anda bernyanyi mengikuti lagu? Apakah pengarah paduan suara meminta Anda untuk lip-sync atau hanya menyesuaikan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara saat bernyanyi? Jika ya, itu berarti Anda adalah salah satu orang yang termasuk tuli nada.

Tuli nada diakibatkan lantaran pengiriman suara dalam otak bermasalah. Demikian menurut penelitian yang baru saja dipublikasikan Rabu (19/8), seperti dikutip Associated Press. Orang yang tuli nada tak mampu mendeteksi perbedaan pola nada musik. Kendati demikian, biasanya orang itu memiliki pendengaran dan kemampuan berbicara yang normal.

Tuli nada adalah penyakit keturunan. Jumlah penderitanya diperkirakan ada empat hingga 17 persen di dunia. Dalam penelitian kecil yang dilakukan di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, pemindaian terhadap otak memperlihatkan adanya perbedaan dalam sirkuit otak tertentu, yaitu mereka yang tuli nada dan yang tidak. Pada orang tuli nada, para peneliti menemukan adanya koneksi yang lebih sedikit antara dua area otak yang menganalisis dan memproduksi suara atau bunyi.

Kepala penelitian tersebut, Psyche Loui menganalogikan koneksi tersebut dengan jalan bebas hambatan antara dua pulau di otak. Pada orang yang tuli nada, lalu lintas di jalan itu lebih sedikit. Demikian menurut Loui yang merupakan seorang musisi dan juga mempelajari musik serta otak di Harvard Medical School.

Loui dan rekan sejawatnya memindai otak dari 20 orang. Sepuluh orang di antaranya tuli nada. Mereka yang tuli nada memiliki serat saraf yang lebih sedikit di antara area lobus frontal dan temporal pada otak. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, serat saraf tersebut tak dapat terdeteksi sama sekali.

Para peneliti melaporkan penemuan mereka itu di Jurnal Neuroscience edisi Rabu. "Ini adalah penemuan baru yang berkaitan dengan pemahaman kami  mengenai tuli nada dan tanggapan terhadap persepsi pola nada secara umum," ujar Nina Kraus dari Universitas Northwestern yang tak terlibat dalam penelitian tersebut.

Menurut Loui, koneksi otak yang mereka periksa sudah lama diketahui berpengaruh pada bahasa. "Karena sekarang kita mengerti jalur otak mana yang harus dilatih," katanya, "Mungkin ada cara untuk menolong orang yang tuli nada, bahkan yang memiliki gangguan berbahasa.(DIO)
    Artikel Selanjutnya
    Gegar Otak Bisa Sebabkan Parkinson, Apa Iya?
    Artikel Selanjutnya
    Tak Hanya Bikin Tulang Rapuh, Kekurangan Vitamin D Tingkatkan Risiko Diabetes