Sukses

71 Persen Orang Indonesia Tak Dapat Akses Air Bersih

Liputan6.com, Jakarta Ketersediaan air bersih dan layak minum menjadi masalah yang kian serius saat ini. Sumber daya air bersih untuk minum yang seharusnya dapat dinikmati dengan mudah oleh masyarakat pada kenyataannya kini makin sulit ditemui dan mahal harganya.

Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2012 mencatat, negara ini memiliki peringkat terburuk dalam pelayanan ketersediaan air bersih dan layak konsumsi se-Asia Tenggara.

Pendiri dan pimpinan Indonesia Water Institute, Dr. Ir. Firdaus Ali, M.Sc mengatakan, hingga saat ini, baru 29 persen masyarakat Indonesia yang dapat mengakses air bersih melalui perpipaan, jauh di bawah target pemerintah hingga 2019, yaitu sebesar 60 persen.

"Kualitas air permukaan mengalami penurunan yang memprihatinkan. Diperkirakan kelangkaan sumber daya air bersih akan semakin buruk dengan prediksi musim kemarau berkepanjangan dan curah hujan yang menurun disebabkan oleh gejala penyimpangan pada suhu permukaan air laut di Pasifik atau dikenal sebagai fenomena El Nino di Indonesia," katanya melalui keterangan pers, ditulis Kamis (27/8/2015).

Lebih lanjut, kata dia, kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat pun masih berada dalam taraf mengkhawatirkan. Seringkali masyarakat tidak menyadari,air yang mereka konsumsi dapat tercemar baik oleh bakteri pathogen maupun limbah yang mengandung B3 (bahan berbahaya dan beracun) seperti timbal.

Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH, Ph.D pun berpendapat, kualitas air minum yang dikonsumsi sangat memengaruhi kualitas sumber daya manusia. Apalagi saat ini semakin banyak bakteri dan virus serta bahan kimia beracun yang dapat terbawa oleh air dan menyebabkan penyakit berbahaya. Namun, kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi air higienis masih sangat rendah.

"Mengonsumsi air dengan kualitas buruk dapat meningkatkan risiko penyakit yang diakibatkan oleh kuman dalam air (waterborne diseases) seperti kolera, rotavirus, diare, tipus, sakit kuning, polio dan lainnya," ungkapnya melalui keterangan pers.

Fakta mengenai bahaya waterborne diseases terungkap melalui penelitian diare rotavirus yang dilakukan di RS Hasan Sadikin Bandung pada 2008. “Dalam penelitian tersebut disebutkan, rotavirus yang ditularkan melalui air yang tidak higienis menimbulkan angka kematian tertinggi yang sering dijumpai pada balita laki-laki."

"Untuk mendapatkan air minum higienis, akhirnya masyarakat bergantung pada air kemasan yang membutuhkan biaya yang cukup besar tiap bulannya. Kondisi ini cukup memberatkan masyarakat terutama di tengah kondisi ekonomi saat ini," katanya.

Oleh karena itu, tambah dia, masyarakat harus memastikan air yang dikonsumsi benar-benar higienis, yaitu memenuhi syarat: tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna dan tidak berbakteri.