Sukses

Sholat Jumat Perdana di Masjidil Haram, Jemaah Haji RI Diimbau Datang Lebih Awal

Liputan6.com, Jakarta - Jemaah haji asal Indonesia yang telah berada di Kota Makkah untuk pertama kalinya akan melaksanakan sholat Jumat di Masjidil Haram pada hari ini, Jumat (17/6/2022). Total jemaah yang tiba di Makkah berjumlah 11 ribu orang.

Kasie Transportasi Daker Makkah, Asep Subhana mengimbau para jemaah haji yang ingin melaksanakan sholat Jumat di Masjidil Haram agar datang lebih awal.

"Jemaah yang akan melaksanakan (sholat) Jumat agar datang lebih dini menuju Masjdil Haram mengingat sudah beberapa negara memasuki Kota Makkah," kata Subhan kepada Media Center Haji (MCH) di Makkah.

Subhan menambahkan, jemaah yang ingin ke Masjidil Haram lebih baik datang ke halte bus shalawat pada satu hingga dua jam sebelum azan berkumandang.

Begitupun setelahnya, jemaah diimbau tidak tergesa-gesa menuju halte bus setelah selesai melaksanakan salat Jumat untuk mencegah penumpukan. Mengingat, cuaca Kota Makkah cukup panas yakni berada di kisaran 40-45 derajat celcius.

"Imbauan kami dari trasportasi, agar jemaah berdiam sejenak di haram 1,15 jam baru menuju terminal. Agar terminal lengang lalu diangkut ke hotel masing-masing," tutur Subhan.

Dikarenakan masih pekan awal, lalu lintas menuju Masjidil Haram belum akan ditutup meskipun bertepatan dengan salat Jumat. Penutupan akses ke haram baru dilakukan bila jemaah haji tiba di Makkah mendekati 100 persen.

"Saat itu, kepolisian Saudi akan tutup-tutup akses ke Saudi mengingat mereka prioritaskan pejalan kaki. Biasanya 1-2 minggu sebelum Armina. Kalau sekarang belum ada penutupan, tapi agar terbiasa, jemaah diingatkan ketika menuju terminal bus tidak mendekati waktu salat, sehingga saat puncak haji, polanya sudah terbentuk," tutup Subhan.

 

Reporter: Lia Harahap

Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Jemaah Haji Jangan Sampai Dehidrasi

Tim Dokter Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, dr Eva Delsi, Sp. Em mengingatkan para jemaah haji untuk menjaga kondisi tubuh agar jangan sampai dehidrasi karena cuaca panas di Tanah Suci.

Menurut Eva, tidak adanya penanda gerah seperti berkeringat membuat jemaah haji Indonesia acapkali tidak sadar tubuhnya sedang mengalami dehidrasi.

"Cuaca di sini memang panas banget dan tidak mengeluarkan keringat, beda dengan di Indonesia, kita bisa merasa gerah. Di sini kita merasa baik-baik aja karena tidak ada penanda, kalau di Indonesia kan ada penanda, contohnya berkeringat," jelasnya, dikutip dari laman Sehatnegeriku.

Dehidrasi dan kondisi melepuh pada telapak kaki karena tidak mengenakan alas kaki jadi salah satu penyebab jemaah asal Indonesia tidak bisa menunaikan ibadah.

Kondisi dehidrasi pada tubuh, kata Eva, tidak hanya berpengaruh pada kondisi kulit atau bibir yang kering dan pecah pecah, melainkan dapat mengarah pada kondisi yang lebih gawat, terutama di tengah cuaca yang panas dengan kelembapan yang rendah.

“Kalau kita dehirasi yang terganggu semua sel tubuh, akibatnya mulai dari yang teringan seperti rasa mual, kulit terasa kering, sampai dengan bergejala berat seperti delirium (berperilaku seperti orang bingung) sampai dengan terjadinya heat stroke yang ditandai gangguan kesadaran atau pingsan. Itu yang kita mau hindari,” lanjut Eva.