Sukses

342 Wafat, 58.210 Jemaah Haji Sudah Kembali ke Indonesia

Liputan6.com, Jeddah - Sebanyak 58.210 jemaah haji dari 143 kelompok terbang (kloter) sudah tiba di Tanah Suci. Dengan total jemaah yang dipulangkan sebanyak 62.365 orang dari 153 kloter.

Demikian mengutip Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama (Kemenag), Senin (26/8/2019).

Jemaah haji dipulangkan ke Indonesia melalui Bandara King Abdulaziz, Jeddah. Mereka merupakan gelombang pertama yang tiba di Arab Saudi.

Tahun ini, jemaah haji yang kembali ke Tanah Air melalui dua jalur. Yakni dari Terminal Haji dan jalur khusus bernama Eyab.

Jemaah yang sudah diberangkatkan ke Indonesia antara lain berasal dari Batam, Jakarta, Solo, Banjarmasin, Surabaya, Palembang, Lombok, Padang, Ujung Pandang, Medan dan Batam.

Adapun hingga hari ini, jemaah haji yang meninggal di Arab Saudi  mencapai 342 orang. Sebagian besar karena sakit.

Kepala Sektor 1 Daerah Kerja Bandara Jeddah-Madinah, Koen Ismoyo menuturkan, sejauh ini jemaah haji sudah banyak yang mengikuti imbauan pemerintah, terkait barang bawaan.

Penyisiran barang bawaan sudah berlangsung sejak jemaah haji masih di Makkah. "Tidak ada lagi sweeping barang di bandara haji. Ini sangat membantu kelancaran, mempercepat proses, baik imigrasi maupun saat cek body di dalam gate. Ini lah jamaah yang sangat membantu kita," ujar dia.

2 dari 2 halaman

Kemenag akan Tambah Konsultan Ibadah Haji Perempuan

Kementerian Agama (Kemenag) berencana menambah komposisi konsultan ibadah perempuan pada penyelenggaraan ibadah haji di masa mendatang. Proporsi konsultan ibadah haji perempuan akan disesuikan dengan kebutuhan di lapangan.

"Kuota jemaah haji Indonesia mencapai 231ribu, kebanyakan kaum ibu. Maka, perlu menambah konsultan ibadah perempuan," ujar Sekretaris Jenderal Kemenag M Nur Kholis Setiawan, kemarin.

Tahun ini, ada 25 konsultan ibadah haji di Daerah Kerja Makkah dan hanya satu yang perempuan.

Menurut dia, keberadaan konsultan perempuan penting. Sebab seringkali proses konsultasi tidak melulu dengan pendekatan teori fiqih semata. Banyak hal yang tidak terungkap jika proses konsultasi dengan kaum Adam, utamanya yang terkait dengan masalah kewanitaan.

"Ada perempuan yang perlu bimbingan untuk menbedakan darah haid dan penyakit atau istihadlah misalnya, ini akan lebih nyaman jika proses konsultasi dilakukan dengan konsultan perempuan. Jadi, sangat penting keberadaan konsultan ibadah dari perempuan," jelas dia.

Memperkuat konsultan ibadah, sesuai dengan program yang dicanangkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Bahwa pada 2020, pemerintah berkomitmen untuk lebih meningkatkan kualitas fasilitasi layanan bimbingan ibadah untuk jemaah.

"Saya kira layanan pendukung, baik akomodasi, transportasi, katering maupun perlindungan dan kesehatan sudah sangat memadai. Ke depan, kualitas ibadah akan lebih difokuskan," tandasnya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Catatan PPIH untuk Perbaikan Layanan Haji di Tahun Depan
Artikel Selanjutnya
Pemulangan Jemaah Selesai, Petugas Haji Bersiap Kembali ke Indonesia