Sukses

Bolehkah Menggabungkan Tawaf Ifadah dan Wada?

Liputan6.com, Jakarta - Tawaf merupakan ibadah mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali. Di mana tiga putaran pertama, jika memungkinkan dengan lari- lari kecil (raml), dan putaran selanjutnya berjalan biasa.

Tawaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad (tempat batu hitam) dengan menjadikan Baitullah di sebelah kiri. Selain Hajar Aswad sebagai tanda awal dan akhir tawaf, jemaah umrah dan haji juga bisa melihat di lantai ada garis hijau yang lurus ke arah dinding Masjidil Haram.

Tujuan tawaf ialah agar keterikatan hati dengan pemilik dan pemelihara Kakbah.

Macam-macam thawaf ada lima, di antara kelima macam tawaf tersebut ada yang sunah (tawaf qudun), selain itu yang menjadi rukun haji (tawaf ifadah), dan ada juga yang dikerjakan (tawaf wada). Tetapi boleh kah menggabungkan thawaf ifadah dan thawaf wada?

Yusuf Al Qaradhawi dalam bukunya 100 Tanya Jawab Haji menjawab, bahwa itu tidak masalah. Yang terpenting ialah, amalan terakhirnya sebelum keluar dari Makkah adalah tawaf di Kakbah. Jika seseorang menunda tawaf ifadah, itu sama saja seperti merenguhkan dua pulau sekali dayung.

"Itu diperbolehkan dan tidak menjadi masalah sama sekali," tulis Yusuf. 

 

(Desti Gusrina)

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Malaysia Puji Kemampuan Indonesia Atur Jemaah Haji
Artikel Selanjutnya
19.841 Jemaah Haji Tiba di Tanah Air