Sukses

Terkuak, Saudi Penerima Terbesar Investasi China di Dunia Arab

Liputan6.com, Riyadh - Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berkunjung ke Arab Saudi pada hari Rabu ini (7/12/2022). Kunjungan Xi Jinping akan berlangsung selama tiga hari. 

Undangan berasal dari Raja Salman agar Xi Jinping dapat menghadiri tiga pertemuan tingkat tinggi: Saudi-Chinese Summit, the Riyadh Gulf-China Summit for Cooperation and Development, dan Riyadh Arab-China Summit for Cooperation and Development. 

Dilaporkan Arab News, Rabu (7/12/2022), ekonomi menjadi salah satu isu utama dalam kunjungan Xi Jinping. Republik Rakyat China diketahui menanam investasi besar di Kerajaan Arab Saudi. 

Antara 2005-2020, Arab Saudi menerima porsi terbesar investasi China di Dunia Arab. Arab Saudi mendapatkan porsi 20,3 persen atau senilai US$ 196,9 miliar dari investasi China di kawasan tersebut. 

Pada kunjungan terkini, Saudi-China akan menandatangani 20 perjanjian senilai 110 miliar riyal. Ada juga agenda harmonisasi Vision 2030 dari Arab Saudi dan Belt and Road Initiative (BRI) dari China.

Kedua negara turut bersiap meluncurkan SABIC-Fujian Petrochemical Industrial Group, sebuah joint venture senilai 22,5 miliar riyal. SABIC yang dimiliki oleh Saudi Aramco memiliki 51 persen saham. 

Acara-acara pertemuan antara China-Arab Saudi akan dihadiri 30 pemimpin dan pejabat dari kedua negara dan organisasi-organisasi internasional.

Arab News juga mencatat berkembangnya hubungan budaya antara Arab Saudi dan Republik Rakyat China. Prince Mohammed bin Salman Award for Cultural Cooperation akan diluncurkan dalam kunjungan Presiden Xi. 

Terkait bahasa, ada 44 universitas di China yang mengajarkan Bahasa Arab. Sejumlah universitas Saudi juga menawarkan kelas Bahasa China. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kunjungan Pertama ke Arab Saudi Sejak 2016

Dilaporkan VOA Indonesia, lawatan ini akan mencakup pertemuan puncak bilateral yang dipimpin Raja Salman dan dihadiri putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan itu, kata kantor berita resmi SPA.

Xi, pemimpin ekonomi terbesar kedua dunia, juga akan menghadiri KTT dengan para pemimpin dari Dewan Kerja Sama Teluk yang beranggotakan enam negara, dan melakukan pembicaraan yang mempertemukan para pemimpin dari kawasan lain di Timur Tengah, kata kantor berita pemerintah itu.

Kedatangan pemimpin China itu bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan AS terkait berbagai isu mulai dari kebijakan energi hingga keamanan regional dan HAM.

Pukulan terbaru terhadap kemitraan yang telah terjalin puluhan tahun itu terjadi pada Oktober lalu sewaktu blok minyak OPEC+ setuju untuk mengurangi produksi hingga dua juta barel per hari, suatu langkah yang oleh Gedung Putih disebut “memihak Rusia” dalam perang di Ukraina.

Hari Minggu yang lalu, OPEC+ memilih untuk mempertahankan pemangkasan tersebut. China adalah pembeli minyak mentah terbesar Arab Saudi, dengan sekitar seperempat ekspor minyak Saudi.

3 dari 4 halaman

Ekonomi China Melemah, tapi Ekspor RI Jalan Terus

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, melihat perlambatan ekonomi China tidak akan berpengaruh besar terhadap pasokan ekspor RI ke Tiongkok, yang dinilainya sudah terlampau bergantung pada Indonesia untuk komoditas bahan baku.

"Sebenarnya sih enggak begitu. memang sekarang kan ekspor kita tertinggi ke China, impor juga juga paling tinggi di China. Tapi kan kalau kita lihat komoditas, itu kan mereka banyak yang bahan baku berasal dari Indonesia," ujar Iskandar di Jakarta, Selasa (6/12).

Menurut dia, relasi antara pelemahan ekonomi China dan ketergantungannya atas komoditas ekspor RI tidak bisa dilihat secara one on one. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu saat ini punya pangsa ekspor tertinggi dengan share 25,7 persen, juga impor sebesar 29,5 persen.

"Tapi kita enggak bisa melihat kalau pertumbuhan ekonomi China melamban otomatis Indonesia ekonominya lamban one on one. Karena mereka membutuhkan bahan baku yang berasal dari Indonesia," imbuhnya.

 

4 dari 4 halaman

Sektor Favorit

Iskandar mencontohkan, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil komoditas mineral semisal nikel, bauksit hingga cobalt untuk perangkat kendaraan listrik. Di sisi lain, demand atas komponen penunjang electronik vehicle itu pun masih besar.

"Maka walau terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi itu enggak langsung besar turunnya. Tadi saya bilang kan 25 persen ekspor ke China. Berarti kalau terjadi perlambatan, kalau kita membaca one on one seolah-olah kan berarti kalau setiap 1 persen, 0,25 persen penurunan," paparnya.

"Tapi enggak gitu, karena mereka butuh bahan baku. Memang akan terjadi penurunan, tetapi penurunannya relatif kecil karena China ketergantungannya bahan baku ke Indonesia sangat besar. Jadi walau pertumbuhan ekonominya melambat, tapi untuk sektor-sektor tertentu kebutuhannya sangat besar dia," ungkapnya.

 

Iskandar berujar, China tidak akan menurunkan permintannya untuk sektor-sektor tertentu seperti nikel, cobalt, bauksit yang jadi kebutuhan utama dari EV battery. "Jadi walaupun itu melambat, kebutuhan komponen bahan baku ini tidak akan turun," sambungnya.

Menurut dia, transaksi pasar itu tidak bertolak belakang dengan program hilirisasi pemerintah, karena walaupun bahan bakunya diolah di Tanah Air, tapi pasokannya pasti ke China juga.

"Kita kan belum bisa mengahsilkan EV, tapi kebutuhan EB dunia itu sangat besar. Jadi walau ekonominya melemah, tapi untuk sektor yang saya bilang tadi, nikel, cobalt, tetap tinggi, enggak turun. Mungkin untuk sektor tertentu bisa menurun," tuturnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS