Sukses

Presiden China Xi Jinping Perdana Kunjungan Kenegaraan ke Arab Saudi Sejak 2016

Liputan6.com, Beijing - Presiden China Xi Jinping melakukan kunjungan pertamanya ke negara eksportir minyak mentah terbesar dunia, Arab Saudi, sejak 2016. Demikian diberitakan media pemerintah Saudi SPA pada hari Selasa 6 Desember 2022.

Ia dijadwalkan tiba di Arab Saudi pada Rabu (7/12/2022) untuk kunjungan tiga hari, seperti dilaporkan VOA Indonesia.

Lawatan ini akan mencakup pertemuan puncak bilateral yang dipimpin Raja Salman dan dihadiri putra mahkota Pangeran Mohammed bin Salman, penguasa de facto kerajaan itu, kata kantor berita resmi SPA.

Xi, pemimpin ekonomi terbesar kedua dunia, juga akan menghadiri KTT dengan para pemimpin dari Dewan Kerja Sama Teluk yang beranggotakan enam negara, dan melakukan pembicaraan yang mempertemukan para pemimpin dari kawasan lain di Timur Tengah, kata kantor berita pemerintah itu.

Kedatangan pemimpin China itu bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi dan AS terkait berbagai isu mulai dari kebijakan energi hingga keamanan regional dan HAM.

Pukulan terbaru terhadap kemitraan yang telah terjalin puluhan tahun itu terjadi pada Oktober lalu sewaktu blok minyak OPEC+ setuju untuk mengurangi produksi hingga dua juta barel per hari, suatu langkah yang oleh Gedung Putih disebut “memihak Rusia” dalam perang di Ukraina.

Hari Minggu yang lalu, OPEC+ memilih untuk mempertahankan pemangkasan tersebut. China adalah pembeli minyak mentah terbesar Arab Saudi, dengan sekitar seperempat ekspor minyak Saudi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Raja Salman Undang Xi Jinping ke Arab Saudi

Berdasarkan laporan Arab News, Selasa (6/12/2022), Raja Salman mengajak Presiden Xi Jinping untuk menghadiri Saudi-Chinese summit yang digelar di Saudi. Acara berlangsung pada 7 hingga 9 Desember 2022.

Raja Salman dan Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) akan memimpin summit tersebut. Tujuan summit itu adalah melihat hubungan antara Gulf Cooperation Council (GCC) dan negara-negara Arab dengan Republik Rakyat China.

GCC terdiri dari Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Diskusi diperkirakan akan membahas penguatan kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Hubungan AS dan Arab Saudi sedang renggang karena OPEC Plus mengurangi pasokan minyak. Presiden AS Joe Biden secara terbuka mengaku kecewa dengan Arab Saudi yang notabene memimpin OPEC Plus.

Gedung Putih pun berkata melakukan peninjauan terhadap relasi antara Arab Saudi dan AS. 

Sementara, hubungan AS dan China tampak menghangat di G20 Bali. Meski AS dan China terlibat perang dagang sebelum pandemi COVID-19 dan ada cekcok terkait Taiwan, Presiden Joe Biden bertemu Presiden Xi Jinping ketika di Bali. 

Media pemerintah China, Global Times, menyebut pertemuan antara Presiden Biden dan Presiden Xi berlangsung tiga jam lebih. Media pemerintah China menyebut pertemuan itu memberikan kesan positif pada hubungan keluarga negara, terutama setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

3 dari 4 halaman

Xi Jinping Siap Bekerjasama dengan Kim Jong-un untuk Perdamaian Dunia

Bicara soal pemimpin China itu, sebelumnya Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bahwa Beijing bersedia bekerja sama dengan Pyongyang untuk perdamaian dunia, kata media pemerintah Korea Utara pada Sabtu (26 November).

Pesan dari Xi datang beberapa hari setelah Korea Utara menembakkan rudal balistik antarbenua dalam salah satu uji cobanya yang paling kuat, menyatakan akan memenuhi ancaman nuklir AS yang dirasakan dengan nukesnya sendiri.

Korea Utara telah melakukan serangan kilat peluncuran rudal yang memecahkan rekordalam beberapa pekan terakhir dan kekhawatiran telah berkembang bahwa mereka sedang membangun uji coba nuklir ketujuh, yang pertama sejak 2017.

Dalam pesannya kepada Kim, Xi mengatakan Beijing siap bekerja sama dengan Korea Utara untuk "perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran kawasan dan dunia", demikian yang dilaporkan Korean Central News Agency (KCNA) resmi Pyongyang, dikutip dari Channelnewsasia, Sabtu (26/11/2022).

Xi mengatakan dia bersedia berkolaborasi dengan Pyongyang karena "perubahan di dunia, waktu, dan sejarah terjadi dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya", kata KCNA, mengutip dari pesan yang dikatakannya diterima sebagai tanggapan atas ucapan selamat dari Kim setelah Kongres Partai Komunis China bulan lalu memberi Xi masa jabatan ketiga.

 

4 dari 4 halaman

Joe Biden Ungkap Kesan Pertama Bertemu Xi Jinping: Dia Tegas, Kami Saling Blak-blakan

Sebelumnya dilaporkan, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengungkapkan kesan pertamanya saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Biden secara blak-blakan mengungkapkan kesan pertamanya.

“Ia sangat tegas dan sangat berterus terang,” ujar Biden saat menyampaikan pernyataan pers-nya di Grand Hyatt Nusa Dua Bali bersama wartawan Indonesia dan asing, Senin (14/11).

Joe Biden juga mengaku blak-blakan saat berbicara dengan Xi Jinping.

"Kami sangat blak-blakan satu sama lain tentang hal-hal apa saja yang kami tidak setuju atau di mana kami tidak yakin tentang posisi satu sama lain," kata Biden.

"Dan kami setuju akan mengatur dan melakukan mekanisme untuk saling bertemu kembali."

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengaku menghabiskan waktu kurang lebih 3,5 jam saat berbincang dengan Presiden China Xi Jinping saat melakukan pertemuan di Bali, sebelum KTT G20.

Ini adalah kali pertama keduanya bertemu secara tatap muka setelah Biden resmi dilantik sebagai presiden.

"Tidak ada salah paham. Itu kekhawatiran terbesar yang saya miliki. Kesalahpahaman tentang niat atau tindakan di pihak kita," ujar Joe Biden.

"Saya ingin bertanya ke tim saya, berapa lama pertemuan itu berlangsung? Tiga setengah jam. Jadi perbincangan kami tadi mencakup banyak hal." 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS