Sukses

COVID-19 di Korsel Dekati Puncak Lonjakan, Kisaran 60 Ribu Kasus per Hari

Liputan6.com, Seoul - Kasus harian COVID-19 di Korea Selatan masih di bawah 60.000 kasus selama tiga hari berturut-turut pada Sabtu, ketika gelombang pandemi memperlihatkan tanda-tanda telah mencapai puncak meski masih ada kekhawatiran lonjakan di musim dingin.

Otoritas mendata 52.861 kasus baru COVID, termasuk 55 kasus impor, sehingga totalnya selama pandemi menjadi 27.261.526 kasus, menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA).

Angka tersebut sedikit berubah dari 52.987 kasus sehari sebelumnya dan 52.788 kasus sepekan lalu, Yonhap mewartakan sebagaimana dikutip dari Antara, Minggu (4/12/2022).

Otoritas juga mencatat 48 kematian baru akibat COVID sehingga secara keseluruhan berjumlah 30.669 kematian, kata KDCA.

Sementara itu, pasien COVID-19 yang parah mencapai 442 orang, turun dari 460 orang sehari sebelumnya.

Otoritas kesehatan menyerukan kewaspadaan terhadap virus COVID-19 dan mengajak masyarakat untuk melakukan vaksinasi penguat, mengingat kemunculan varian baru dan meningkatnya aktivitas di dalam ruangan selama musim dingin.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

China Indikasikan Pelonggaran Kebijakan Nol COVID-19

Di wilayah lain, pemerintah China telah mengisyaratkan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan radikal "nol-COVID", menyusul gelombang protes baru-baru ini terhadap penguncian dan langkah pembatasan ketat lainnya.

Wakil Perdana Menteri China Sun Chunlan, yang bertanggung jawab atas langkah pencegahan penyebaran COVID-19, mengatakan bahwa patogenisitas varian Omicron melemah, menurut laporan kantor berita Xinhua.

Sun juga mengatakan bahwa pemerintah telah mengatur kondisi "untuk mengubah langkah-langkah tanggap epidemi", Kyodo mewartakan sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (3/12/2022).

Pernyataan Sun di Komisi Kesehatan Nasional itu disampaikan menyusul kemarahan publik di seluruh China selama akhir pekan lalu terhadap langkah-langkah pembatasan COVID yang ketat.

Beberapa demonstran secara terbuka mencela Partai Komunis yang berkuasa yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping.

Hingga Kamis, China telah mencatat kasus COVID-19 harian sekitar 33.000 di daratan, menurut komisi tersebut.

Angka itu sedikit menurun dari rekor tertinggi yang mencapai hampir 39.000 pada Minggu, tetapi masih berada pada level yang tinggi.

Setelah aksi protes, beberapa pembatasan di Guangzhou, China selatan, telah dilonggarkan, di mana restoran, bioskop, dan pusat rekreasi dibuka kembali, menurut berita Xinhua.

 

3 dari 3 halaman

Situasi di Beijing

Kota Beijing, di mana banyak permukiman dikunci karena wabah, telah mengizinkan pasar swalayan dibuka kembali setelah penutupan satu hari.

Penduduk Beijing yang tinggal di rumah, termasuk manula dan mereka yang bekerja atau belajar dari rumah, juga tidak perlu lagi menjalani tes COVID massal.

Kereta bawah tanah dan bus di Beijing pun tidak lagi mewajibkan penumpang untuk menunjukkan hasil tes COVID negatif yang diambil dalam waktu 48 jam, mulai Senin depan (5/12), kata media pemerintah China itu.

Di China, orang-orang diharuskan untuk sering melakukan tes COVID agar dapat pergi ke tempat umum. Mereka yang berada di daerah lockdown dilarang meninggalkan rumah mereka dan kerap kesulitan mendapatkan cukup makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kedutaan Besar AS di Beijing telah mendorong warga Amerika di China untuk menyimpan persediaan obat-obatan, air kemasan, dan makanan selama 14 hari. Kedutaan Besar Jepang di Beijing juga menyarankan warga Jepang di China untuk menyiapkan stok barang-barang kebutuhan untuk 10 hari.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • Negara yang berbatasan langsung dengan Korea Utara, dan memiliki ibukota bernama Seoul
    Negara yang berbatasan langsung dengan Korea Utara, dan memiliki ibukota bernama Seoul
    Korea Selatan
  • Penyebaran Covid-19 ke seluruh penjuru dunia diawali dengan dilaporkannya virus itu pada 31 Desember 2019 di Wuhan, China
    COVID-19