Sukses

1 Desember 1988: Peringatan Perdana Hari AIDS Sedunia

Liputan6.com, Jenewa - Setiap tahunnya, pada tanggal 1 Desember, dunia memperingati World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Orang-orang di seluruh dunia bersatu untuk menunjukkan dukungan bagi orang-orang yang hidup dengan HIV dan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena penyakit terkait AIDS.

Joint United Nations Programme on HIV and AIDS atau UNAIDS terus mendesak masyarakat global untuk mengatasi ketidaksetaraan yang menghambat kemajuan dalam mengakhiri AIDS. 

Dimulai pada 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari internasional pertama untuk peringatan kesehatan global. Setiap tahun, badan-badan PBB, pemerintah, dan masyarakat sipil bergabung bersama untuk mengkampanyekan tema-tema khusus terkait HIV, dikutip dari laman resmi UNAIDS, Rabu (30/11/2022).

Pada hari itu, berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesadaran tentang AIDS berlangsung di seluruh dunia. Banyak orang memakai pita merah sebagai simbol universal atas kesadaran, dukungan, dan solidaritas untuk orang-orang yang hidup dengan HIV

Kelompok orang-orang dengan HIV dan organisasi masyarakat sipil lainnya yang terlibat dalam penanggulangan AIDS bergerak untuk mendukung komunitas yang mereka layani dan menggalang dana. 

Hari AIDS Sedunia masih relevan hingga sekarang untuk mengingatkan orang dan pemerintah bahwa HIV belum hilang. Masih ada kebutuhan kritis untuk meningkatkan pendanaan untuk penanggulangan AIDS, untuk meningkatkan kesadaran akan dampak HIV pada kehidupan masyarakat, untuk mengakhiri stigma dan diskriminasi dan untuk meningkatkan kualitas hidup para penyandang HIV.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

World AIDS Day 2022

Menurut UNAIDS, setiap tahunnya, dalam peringatan Hari AIDS Sedunia selalu ada tema yang berbeda. Tahun ini, World AIDS Day bertemakan "Equalize" (menyamakan) sebagai sebuah seruan untuk bertindak secara praktis untuk mengatasi ketidaksetaraan dan membantu mengakhiri AIDS.

Data dari UNAIDS tentang penanggulangan HIV global mengungkapkan bahwa selama pandemi COVID-19 dua tahun terakhir, kemajuan melawan HIV tersendat, sumber daya menyusut, dan akibatnya jutaan nyawa terancam.

Empat dekade setelah penanggulangan HIV secara global, ketidaksetaraan masih bertahan untuk layanan paling dasar seperti tes, pengobatan, dan kondom, terlebih lagi untuk teknologi baru.

Wanita muda di Afrika masih terkena dampak HIV secara tidak proporsional, sementara cakupan program khusus untuk mereka masih terlalu rendah. Di 19 negara dengan beban tertinggi di Afrika, program pencegahan kombinasi khusus untuk gadis remaja dan wanita muda beroperasi hanya di 40% lokasi dengan insiden HIV tinggi.

Hanya sepertiga populasi kunci—termasuk laki-laki gay dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan laki-laki, transgender, pengguna narkoba, pekerja seks, dan narapidana—memiliki akses pencegahan reguler. Populasi kunci menghadapi hambatan hukum utama termasuk kriminalisasi, diskriminasi dan stigma.

 

3 dari 4 halaman

37 Juta Orang Hidup dengan HIV Selama 2020 dan 680 Ribu Meninggal karena AIDS

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan, pada 2020 ada 37,7 juta orang yang hidup dengan human immunodeficiency virus (HIV), 1,5 juta infeksi HIV baru, dan 680 ribu kematian terkait acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

Sekitar 65 persen dari infeksi HIV secara global berada di antara populasi kunci. Populasi kunci yang dimaksud termasuk pekerja seks dan klien mereka, gay dan laki-laki lain yang berhubungan seks dengan sesama jenis, orang-orang yang menyuntikkan narkoba, transgender dan pasangan seksual mereka.

“Bahkan sebelum pandemi COVID-19 melanda, banyak populasi berisiko tinggi yang tidak mendapat layanan tes, pencegahan, dan perawatan HIV,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO mengutip keterangan pers Kamis (2/12/2021).

Setelah adanya pandemi COVID-19, keadaan semakin buruk. Ini dikarenakan terganggunya layanan kesehatan esensial dan meningkatnya kerentanan orang dengan HIV terhadap COVID-19.

“Seperti COVID-19, kita memiliki semua alat untuk mengakhiri epidemi AIDS, jika kita menggunakannya dengan baik. Kami menyerukan pada semua negara untuk menggunakan setiap alat untuk mempersempit ketidaksetaraan pengobatan, mencegah infeksi HIV, menyelamatkan nyawa dan mengakhiri epidemi AIDS.”

4 dari 4 halaman

Penyebab Penyakit AIDS, Gejala, Faktor Risiko, dan Pengobatannya

Sebenarnya apa penyebab AIDS?

Penyebab penyakit AIDS perlu dipahami oleh setiap orang. Pasalnya, penyakit ini belum memiliki obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkannya. HIV AIDS sendiri merupakan penyakit yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh kesulitan melawan kuman, virus, jamur, dan lain sebagainya.

AIDS adalah tahapan akhir dari penyakit infeksi HIV. HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh, yang mana adalah pertahanan tubuh dari berbagai penyakit. Kemudian jika kekebalan tubuh seseorang telah dirusak oleh virus, maka akan berkembang menjadi AIDS.

Namun, orang yang mengidap HIV belum tentu terjangkit AIDS jika ditangani dengan cepat dan tepat. Sementara itu, orang yang mengalami AIDS dipastikan di dalam tubuhnya terdapat virus HIV. Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Minggu (10/7/2022) tentang penyebab penyakit AIDS.

Selengkapnya klik di sini ...

Penulis: Safinatun Nikmah

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS