Sukses

24 September 2015: Insiden Haji Paling Mematikan di Terowongan Mina, 2.400 Orang Tewas

Liputan6.com, Samudera Atlantik - 24 September 2015 pagi terjadi sebuah insiden mematikan di dekat kota suci Makkah, Arab Saudi.

Dikenal sebagai insiden mematikan dalam sejarah panjang haji. Kurang lebih ada 2.400 orang terinjak-injak hingga tewas hanya dalam kurun waktu 10 menit.

Sebelum tragedi terjadi, para jemaah pergi ke Mina untuk melakukan ibadah. Mereka tiba di waktu-waktu subuh setelah menginap di padang pasir.

Pada pukul 08.45 pagi, tepat sebelum kejadian itu, ratusan ribu jemaah haji bergerak berjalan melalui terowongan-terowongan menuju Jembatan Jamarat. Jalan-jalan menju Jembatan Jamarat saat itu padat dengan para jemaah, pada saat yang sama, arus balik dari jemaah yang telah menyelesaikan ibadahnya juga bergerak ke tempat yang sama dan dari awah yang berlawanan, menuju tenda-tenda yang ada di Mina. Demikian seperti dikutip dari laman Vanity Fair, Sabtu (24/9/2022).

Berdasarkan rancangan, kedua arus tersebut, arus masuk dan arus keluar, memang tidak diperuntukkan untuk bercampur. Arus masuk terpadat adalah melalui jalur yang disebut Jalan 204, yang diapit oleh pagar baja tinggi.

Arus di sana lambat tetapi tak terhindarkan, banyak orang tua yang jalannya lemah dipaksa maju dari belakang. Di arah depan, kerumunan makin padat dan secara inheren kepadatan tersebut cukup berbahaya.

Sebenarnya, mengapa hal ini terjadi masih menjadi pertanyaan pasalnya sudah ada pasukan keamanan yang ditempatkan di titik-titik rawan untuk mengatur arus.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Kepadatan Arus Jalan 204

Setelah insiden ini, diklaim bahwa tragedi berdesakan yang memakan korban tersebut disebabkan oleh Pangeran Saudi.

Klaim itu meyebut bahwa penyebab utama hal ini adalah keangkuhan para elit di Arab Saudi.

Benar atau tidak, fakta yang terjadi adalah pada pukul 9 pagi waktu Arab, situasi Jalan 204 sangat padat dan kritis dengan kerumunan yang sangat padat dan meningkat hingga orang-orang kehilangan kemampuan mereka untuk mengendalikan diri dan terdorong ke depan oleh kekuatan yang entah asalnya dari mana dan tak terbendung.

800 meter dari pintu masuk jembatan, ada sebuah jalan kecil yang terhubung dengan Jalan 204, yaitu Jalan 223. Jalan itu seharusnya kosong, tetapi pagi itu kerumunan besar jemaah memadati jalan tersebut, terdorong dari belakang ke tengah-tengah orang yang sedang berjalan di Jalan 204.

Hal tersebut membuat arus utama di mina macet dan padat, menghentikan laju menuju jembatan, dan warga semakin padat mengerumuni jalanan.

Tidak ada rekaman video yang muncul ke publik, selain itu ingatan para korban selamat saat itu sangat terbatas, tetapi yang pasti adalah mereka yang di tengah mustahil untuk melarikan diri. Saat tekanan makin besar karena padatnya kerumunan, dalam beberapa menit ada korban yang jatuh dan meninggal atau bahkan ada yang meninggal saat berdiri.

Keadaan menjadi lebih buruk ketika ada jemaah yang jatuh, membuat 'efek domino'  kepada para jemaah yang lain hingga ke hulu, bahkan di beberapa tempat ada korban yang menumpuk setinggi 10 orang.

Penyebab utama kematiannya bisa karena sesak napas.

Beberapa saksi kemudian melaporkan bahwa mereka melihat tubuh yang terkoyak-koyak.

Hal tersebut berakhir relatif cepat, tetapi berlangsung selama beberapa menit dari Jalan 204.

3 dari 4 halaman

Jemaah yang Hilang

Di antara korban tewas terdapat lebih dari seribu orang yang terluka, banyak dari mereka yang menangis atau berteriak minta tolong.

Butuh waktu 10 jam agar evakuasi dapat dilakukan. Banyak upaya yang terbuang untuk memindahkan korban tewas bahkan ketika korban luka-luka sebagian besar terbaring tanpa pengawasan dan akhirnya meninggal.

Setelah kejadian itu, jalan tersebut ditutup di hari lain, tetapi ibadah haji tetap berjalan seperti biasa.

Pemerintah Saudi mengumumkan bahwa sekitar 769 orang telah meninggal. Namun, ada jasad-jasad yang tidak pernah diidentifikasi dan dikuburkan dengan cepat.

Ada beberapa negara yang kehilangan jemaahnya seperti Iran yang kehilangan 464 jemaah, disusul dengan Mali yang kehilangan 312; Nigeria kehilangan 274; Mesir kehilangan 190; Bangladesh kehilangan 137; hingga Indonesia yang kehilangan 129 jemaah, dan datanya terus bertambah semenjak kejadian itu.

Apa yang terjadi di sana adalah tragedi berdesakan mematikan dalam sejarah. Hal tersebut tidak pernah luput dari perhatian dunia karena 1.426 orang tewas saat haji pada tahun 1990, dan ada serangkaian kematian massal lainnya yang terjadi di sana.

4 dari 4 halaman

Perhitungan Korban

AP News memperhitungkan bahwa insiden 24 September di Mina sebagai yang paling mematikan dalam sejarah ibadah haji. Hal ini terjadi hanya beberapa minggu seletah insiden crane runtuh di Makkah.

Arab Saudi menolak kritik dari saingannya, Iran, dan upaya dari negara lain untuk menyelidiki tragedi tersebut. Sementara itu, Raja Salman langsung memerintahkan penyelidikan  atas tragedi ini dan hanya sedikit rincian yang dipublikasikan.

Hitungan AP didasarkan pada laporan puluhan media dari sekitar 180 negara yang mengirim warga negaranya untuk mengikuti ibadah haji.

Iran terkena dampak yang paling parah, menurut hitungan AP, dengan 464 jemaah tewas. Mali mengatakan kehilangan 305 orang, sementara Nigeria kehilangan 274 orang dan 190 peziarah dari Mesir tewas.

Lainnya termasuk Bangladesh 137 jemaah tewas; Indonesia 129; India 120; Kamerun 103; Pakistan 102; Niger 92; Senegal 61; Ethiopia 53; Pantai Gading 52; Benin 50; Aljazair 46; Chad 43; Maroko 42; Sudan 30; Tanzania 25; Burkina Faso 22; Kenya 12; Somalia 10; Ghana, Tunisia, dan Turki masing-masing tujuh; Libya dan Myanmar masing-masing enam; China empat; Afghanistan, Djibouti, Gambia, dan Yordania masing-masing dua; dan Lebanon, Malaysia, Filipina, dan Sri Lanka masing-masing satu.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.