Sukses

21 Oktober 1600: Pengkhianatan Besar dalam Pertempuran Sekigahara yang Mengubah Sejarah Jepang

Liputan6.com, Sekigahara - 21 Oktober 1600, dua pasukan dari barat dan timur Jepang tiba di Sekigahara, provinsi Mino. Ini adalah perang yang menentukan takdir Jepang selama ratusan tahun setelahnya.

Pasukan barat dipimpin oleh Mitsunari Ishida. Ia merupakan seorang perwira militer yang usianya masih relatif muda, sekitar 40 tahun. Mitsunari merupakan loyalis dari Hideyoshi Toyotomi yang wafat dua tahun sebelumnya.

Pasukan timur diarahkan oleh Ieyasu Tokugawa. Ia merupakan tokoh daimyo yang kekuatannya paling senior di Jepang. Ieyasu sudah aktif di dunia politik-militer sejak Nobunaga Oda berusaha menyatukan Jepang dari kekacauan.

Setelah Hideyoshi meninggal, Ieyasu mulai menunjukkan taringnya untuk berkuasa.

Menurut Brittanica, Ieyasu membawa 89 ribu pasukan yang terdiri atas klan-klan dari timur Jepang, sementara Mitsunari membawa nyaris 81 ribu pasukan.

Meski jumlahnya lebih sedikit, Mitsunari berhasil tiba lebih awal di lembah Sekigahara. Pasukan barat lantas berhasil menggelar formasi di tempat-tempat strategis. 

Mitsunari sayangnya tidak tahu bahwa Ieyasu telah menyiapkan kartu joker. Dan kartu joker itu bersembunyi pasukan barat.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Pengkhianatan Besar

Pasukan barat relatif unggul di awal pertempuran. Namun, sebelum tengah hari, sesuatu yang ganjil mulai terjadi. 

Pada pukul 11 siang, Mitsunari Ishida memerintahkan Hideaki Kobayakawa agar menyerang. Hideaki adalah seorang daimyo muda. Ia berperan penting sebab ia membawa 15 ribu pasukan ke Sekigahara.

Perintah Mitsunari malah dibaikan, dan Hideaki tak bergerak dari atas gunung Matsuo.

Yoshitsugu Otani, yang merupakan penasihat Mitsunari, langsung khawatir bahwa Hideaki akan berkhianat, sehingga pasukannya bersiaga. 

Intuisinya benar. Hideaki Kobayakawa ternyata sudah dilobi oleh Ieyasu Tokugawa untuk berkhianat. Ieyasu terus mendesak Hideaki agar segera bergerak, sehingga menembakan senjata api ke arah pasukan Hideaki.

Mungkin karena ketakutan, akhirnya pasukan Hideaki mulai turun gunung.

Targetnya adalah pasukan barat.

3 dari 3 halaman

Era Tokugawa

Pengkhianatan Hideaki Kobayawa membawa kehancuran bagi pasukan barat. Posisi Hideaki Kobayakawa relatif strategis, yakni berada di sisi kanan pasukan barat. 

Begitu Hideaki berkhianat, pasukan Yoshitsugu Otani langsung porak-poranda. Yoshitsugu akhirnya memutuskan bunuh diri. 

Kekacauan di pasukan barat amatlah dahsyat hingga Ieyasu bisa dengan mudah mengumumkan kemenangan pada jam 14.00. 

Mitsunari Ishida akhirnya dihukum mati, sehingga memuluskan jalan klan Tokugawa berkuasa selama ratusan tahun. 

Para klan dari timur mendapatkan hadiah dari Ieyasu Tokugawa agar wilayah mereka diperluas. Hideaki Kobayakawa juga dapat bonus. 

Dua tahun kemudian Hideaki meninggal dunia tanpa keturunan. Usianya sekitar 25 tahun. Klan Kobayakawa lantas berakhir.