Sukses

Ikan Ini Buktikan Mampu Bertahan Hidup Meski Dunia Hadapi Perubahan Iklim

Liputan6.com, Montreal - Perubahan iklim menambah polemik bagi bumi seperti kerusakan habitat dan perubahan suhu yang tinggi. Alhasil banyak spesies yang diambang kepunahan. Namun, bisakah para ilmuwan memprediksi apakah ada hewan yang mampu beradaptasi sekaligus bertahan hidup di tengah perubahan iklim?

Para peneliti dari McGill University di Montreal, Kanada pun melakukan studi melalui pengurutan genom. Mereka menemukan bahwa masih ada beberapa hewan yang mampu bertahan terhadap perubahan iklim.

Salah satunya, ikan punggung duri atau stickleback threespine. Ikan ini dapat beradaptasi dengan sangat cepat terhadap perubahan musim yang ekstrem. Jadi kemungkinan ikan ini bisa selamat dari dampak perubahan iklim.

Ahli ekologi evolusi mengidentifikasi stickleback melalui bentuk, ukuran, dan perilakunya yang berbeda. Mereka bisa hidup di air laut dan air tawar. Menariknya lagi mereka mampu bertahan di bawah kisaran suhu yang luas.

2 dari 3 halaman

Mampu Bertahan di Air Tawar dan Air Laut

Seperti yang dilansir dari Sciencedaily pada Kamis (24/06/2021). Penulis studi Alan Garcia-Elfring, Kandidat Doktor di bawah pengawasan Rowan Barrett, Ketua Penelitian Ilmu Keanekaragaman Hayati Kanada di Universitas McGill.

Ia mengungkapkan gagasan Darwin tentang evolusi melalui seleksi alam, dapat menyatakan bahwa organisme dengan gen yang mendukung kelangsungan hidup dan reproduksi cenderung akan meninggalkan lebih banyak keturunan daripada rekan-rekan mereka sehingga menyebabkan gen meningkat frekuensinya dari generasi ke generasi.

"Akibatnya, populasi menjadi beradaptasi atau lebih cocok dengan lingkungan mereka dari waktu ke waktu."

"Namun, proses ini biasanya telah dipelajari secara retrospektif, pada populasi yang beradaptasi dengan lingkungan mereka saat ini di masa lalu. Hal ini dapat membuat sulit untuk memahami urutan peristiwa - misalnya, sifat mana yang paling penting dan kapan - itu menyebabkan adaptasi mereka," tambahnya.

Berikutnya, para peneliti mencoba membuktikan ketangguhan ikan tersebut. Mereka melacak enam populasi ikan stickleback threespine sebelum dan sesudah perubahan musim di lingkungan mereka

Stickleback yang ditemukan di muara yang berbeda di sepanjang pesisir California. Penemuan ini memberikan kesempatan langka untuk mempelajari seleksi alam saat itu .

Perubahan musim yang didorong oleh musim dingin yang basah dan musim panas yang kering mengakibatkan perubahan drastis dalam struktur habitat.

Terbukti hanya ikan punggung duri yang mampu mentolerir perubahan cepat ini dan bisa bertahan ke musim selanjutnya.

Perairan muara secara berkala terisolasi dari laut karena pembentukan gundukan pasir selama berbulan-bulan pada musim panas yang kering.

"Perubahan ini mungkin menyerupai pergeseran habitat yang dialami oleh populasi stickleback. Ketika mereka menjajah banyak danau air tawar yang baru dibuat dari laut setelah gletser surut 10.000 tahun yang lalu," beber Profesor Barrett.

3 dari 3 halaman

Menambah Wawasan Para Ilmuwan Terhadap Evolusi Spesies Hewan

Hebatnya, para peneliti menemukan bukti perubahan genetik yang didorong oleh perubahan musiman di habitat yang mencerminkan perbedaan. Studi ini menemukan populasi air tawar dan air asin yang sudah lama ada.

"Perubahan genetik ini terjadi pada populasi independen selama satu musim, menyoroti seberapa cepat efek seleksi alam dapat dideteksi," kata Alan Garcia-Elfring.

"Temuan ini penting karena mereka menyarankan bahwa kita mungkin dapat menggunakan perbedaan genetik yang berkembang di masa lalu sebagai cara untuk memprediksi bagaimana populasi dapat beradaptasi dengan tekanan lingkungan seperti perubahan iklim di masa depan," tandasnya.

Melalui studi ini, dapat disimpulkan pentingnya mempelajari spesies di lingkungan yang dinamis. Dalam penelitian lebih lanjut, mereka berencana untuk menyelidiki seberapa berulang perubahan genetik yang diamati.

Mereka akan menganalisis hewan yang muncul dari tahun ke tahun. Dengan begitu mereka bisa memprediksi masa depan evolusi populasi lebih cermat.

 

Reporter: Bunga Ruth