Sukses

14 April 1944: 1.300 Orang Tewas dalam Ledakan Besar di Dermaga Mumbai

Liputan6.com, Mumbai - Pada 14 April 1944, kapal kargo Fort Stikine meledak di sebuah tempat berlabuh di dermaga Mumbai, India. Ledakan tersebut menewaskan 1.300 orang dan melukai 3.000 lainnya.

Dikutip dari History, Selasa (13/4/2021), awalnya ledakan tersebut disebabkan oleh sabotase dari Jepang. Namun, faktanya, insiden itu hanyalah kecelakaan yang tragis.

Kapal uap buatan Kanada itu mempunyai berat sekitar 8.000 ton dan membawa ratusal bal kapas, emas batangan, dan 300 ton dinamit.

Sebelum berlabuh di Mumbai, Fort Stikine meninggalkan Birkenhead, Inggris, pada 24 Februari dan sempat berhenti di Karachi, Pakistan.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 3 halaman

12 Kapal Lainnya di Dermaga Ikut Rusak

Di tengah pemuatan barang-barang, asap terlihat keluar dari bal kapas dan petugas pemadam kebakaran dikirim untuk menyelidikinya. Walau begitu, tindakan darurat untuk membanjiri bagian kapal tersebut dengan air tidak dilakukan.

Sebaliknya, sekitar 60 petugas pemadam kebarakan mencoba memadamkan api dengan selang dan dinamit yang ada dalam kapal juga tidak dibongkar selama upaya pemadaman tersebut.

Petugas pemadam kebarakan kemudian diperintahkan untuk turun dari kapal dan terus memadamkan api dari dermaga. Upaya mereka menjadi sia-sia karena pada pukul 16:07 waktu setempat, dinamit dalam kapal meledak.

Kekuatan ledakan itu mengangkat kapal dari teluk ke darat. Jendela yang jaraknya hampir dua kilometer hancur dan semua yang ada di sekitar kapal tewas.

Selain itu, 12 kapal lain di dermaga itu hancur dan banyak lagi yang rusak parah. Kebakaran terjadi di seluruh pelabuhan, menyebabkan ledakan lebih lanjut.

Pasukan militer dibawa untuk memadamkan api yang terus berkobar dan beberapa bangunan dihancurkan untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut. Pusat bisnis Bombay menjadi tidak aman selama tiga hari setelah ledakan.

 

Reporter: Paquita Gadin

3 dari 3 halaman

Infografis 9 Tips Lansia Tetap Sehat Bebas Covid-19