Sukses

Menlu China Direncanakan Kunjungi Jepang, Bertemu PM Suga?

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri China Wang Yi direncanakan akan mengunjungi Jepang paling cepat Oktober 2020 untuk melakukan pembicaraan dengan mitranya, Toshimitsu Motegi dan Perdana Menteri Yoshihide Suga.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Minggu (27/9/2020) kunjungan itu dilakukan setelah Suga pada hari Jumat, 25 September mengadakan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden China Xi Jinping.

Kedua pemimpin sepakat untuk melakukan kontak tingkat tinggi dalam upaya untuk mempromosikan stabilitas regional dan internasional.

Suga, yang menjadi perdana menteri bulan ini, harus mengelola hubungan dengan tetangga Jepang yang lebih besar karena hubungan antara China dan Amerika Serikat memburuk di tengah pandemi Virus Corona dan gesekan perdagangan yang berkepanjangan.

Tokyo juga berselisih dengan Beijing mengenai kepemilikan pulau-pulau di Laut China Timur.

Ia juga telah menyatakan keprihatinannya tentang peningkatan aktivitas militer China di wilayah tersebut.

 

2 dari 3 halaman

China-AS Bersitegang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan pidatonya di Sidang Umum PBB ke-75 untuk menyerang China. Trump mengajak dunia dan PBB untuk menuntut tanggung jawab dari China.

Pada kesempatan itu, Donald Trump kembali memakai istilah "Virus China." Ia berkata China membiarkan penerbangan internasional beroperasi sehingga dunia terinfeksi virus corona.

"Kita sedang menggelorakan pertempuran ganas melawan musuh tak terlihat: Virus China yang telah merenggut banyak nyawa yang tak terhitung di 188 negara," ujar Presiden Trump dalam pidatonya yang disiarkan online.

"Kita harus menuntut tanggung jawab negara yang menyebarkan wabah ini ke dunia: China. Pada awal-awal pandemi, China melakukan lockdown penerbangan domestik sementara mengizinkan penerbangan internasional meninggalkan China dan menginfeksi dunia," lanjut Donald Trump.

Selain itu, Trump menuduh WHO dikendalikan oleh China dan menyebar informasi palsu terkait pandemi. WHO sempat memuji China ketika virus baru menyebar pada awal 2020.

Saat ini, ada 31,4 juta kasus COVID-19 di dunia dan 967 ribu meninggal.

Donald Trump lantas meminta agar PBB agar meminta pertanggungjawaban dari pemerintah China dan WHO.

"Pemerintah China dan WHO yang dikendalikan China memberikan deklarasi palsu bahwa tak ada bukti penularan antar-manusia. Kemudian, mereka memberikan klaim palsu bahwa orang-orang tanpa gejala tak bisa menyebarkan virus ini," kata Trump.

"PBB harus menuntut tanggung jawab dari China atas tindakan-tindakan mereka," tegas Donald Trump.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

  • Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    China
  • Amerika Serikat adalah salah satu negara republik konstitusional federal di Benua Amerika
    Amerika Serikat adalah salah satu negara republik konstitusional federal di Benua Amerika
    Amerika Serikat