Sukses

Kasus Corona COVID-19 Terus Melonjak, Warga Dunia Sulit Buka Perekonomian

Liputan6.com, Jakarta - Kasus Virus Corona COVID-19 di seluruh dunia sudah menembus 11,5 juta, banyak negara mengalami kesulitan dalam membuka kembali perekonomian mereka.

Beberapa di antaranya bahkan memberlakukan kembali aturan karantina wilayah atau menangguhkan rencana pembukaan kegiatan perekonomian, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (8/7/2020).

Di Australia, para pejabat pada Senin 6 Juli mengumumkan ditutupnya perbatasan antara Victoria dan New South Wales, dua negara bagian terpadat, setelah terjadinya lonjakan infeksi baru.

Penutupan itu tak dikenai batas waktu dan menandai langkah pertama semacam itu di Australia sejak pandemi flu 100 tahun lalu.

Israel pada Senin 6 Juli juga mengumumkan akan menutup semua bar, kelab malam, sasana kebugaran dan kolam renang umum karena adanya lonjakan kasus di negara itu.

Israel juga akan mengurangi kapasitas di restoran dan rumah ibadah. Negara itu memiliki lebih dari 30.000 kasus dan lebih dari 330 kematian akibat Corona.

Di AS, di mana kasusnya bertambah di sebagian besar negara bagian, pihak berwenang di beberapa wilayah, termasuk Florida dan Texas, telah memberlakukan ulang pembatasan.

Para pejabat di county terbesar di Florida, Miami-Dade, Senin kemarin juga memerintahkan penutupan restoran, sasana kebugaran, dan tempat-tempat dalam ruangan lainnya.

Wali kota county itu, Carlos Gimenez, mengijinkan toko-toko ritel dan salon kecantikan untuk tetap buka. Pantai-pantai di county itu akan dibuka lagi Selasa 7 Juli setelah tutup selama akhir pekan 4 Juli.

2 dari 3 halaman

Pandemi Persulit Hidup Pekerja Migran Indonesia di Luar Negeri

Dalam rekaman video, sejumlah pekerja migran menyampaikan kesulitan yang mereka hadapi dalam pandemi Virus Corona COVID-19 di luar negeri.

April, pekerja migran Indonesia di Malaysia, mengatakan sudah hampir tiga bulan ia tidak bekerja. Keadaan diperparah karena harus tetap membayar uang sewa kamar dan untuk kebutuhan makan minum sehari-hari.

"Jadi selama enggak kerja, saya memanfaatkan uang simpanan yang ada. Jangankan untuk kerja, untuk keluar rumah saja, kemarin masih was-was karena daerah rumah saya ini masuk ke dalam zona merah. Jadi setiap jalannya diblok dan dijaga oleh polisi dan tentara Malaysia," kata April.

Pekerja migran Indonesia lainnya di Malaysia, Solahuddin, juga menyampaikan dirinya tidak bisa ke luar rumah dan bekerja karena kebijakan pembatasan mobilitas yang diterapkan pemerintah negara jiran tersebut.

"Selama lebih kurang tiga bulan itu, kami kekurangan bahan makanan dan segala macamnya. Juga kami tidak bisa bayar tempat tinggal. Itu mungkin hal yang paling berat kami rasa akibat adanya COVID-19 ini.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut: