Sukses

5-6-1870: Petaka Sepotong Arang di Konstantinopel Turki, 900 Orang Tewas

Liputan6.com, Konstantinopel - Sejarah mencatat hari ini, 150 tahun yang lalu, sebuah petaka memorak-porandakan Konstantinopel. Kota di Turki yang saat ini dikenal sebagai Istanbul.

Mengutip History.com, diceritakan bahwa sebagian besar Kota Konstantinopel, Turki, terbakar pada 5 Juni 1870. 

Seorang gadis muda yang membawa sepotong arang panas ke dapur keluarganya di sebuah panci besi dilaporkan tersandung, membuat arang ke luar jendela dan terpental ke atap rumah yang berdekatan. Api dengan cepat menyebar di Jalan Feridje, salah satu jalan raya utama Konstantinopel.

Petaka pun terjadi. Wilayah yang banyak dihuni umat Kristen di kota itu dengan cepat dilahap si jago merah.

Warga berbagai kelompok etnis yang menyebut kota itu rumah berupaya bahu-membahu memadamkan api. Kendati demikian, angin kencang membuat kobaran api menyebar dengan cepat.

Area seluas satu mil persegi di kota dekat Selat Bosporus hancur. Hanya bangunan batu, sebagian besar gereja dan rumah sakit, yang selamat dari kebakaran.

Ketika api padam dan asap akhirnya hilang, 3.000 rumah di Konstantinopel Turki dinyatakan hancur. Sementara 900 orang dilaporkan tewas.

Pada tahun 1887, Edmondo de Amicis menerbitkan mungkin kisah terbaik dari bencana di sebuah kota Turki ini dalam buku berjudul Constantinople.

Sementara itu, pada tanggal yang sama tahun 1981 - AIDS diakui untuk pertama kalinya.

2 dari 2 halaman

Konstantinopel Berubah Nama Jadi Istanbul

Menjadi kota paling kaya di dunia, Konstantinopel menawarkan kemakmuran tak berujung bagi seluruh warganya. Sejak dulu, Konstantinopel telah dikenal sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat di dunia.

Hingga Arab berkembang pada abad ke-7, Konstantinopel terus menjadi raksasa ekonomi di dunia. Konstantinopel yang berada di Turki ini akhirnya mampu menorehkan sejarah di dunia ekonomi karena kemakmurannya pada abad ke-10 hingga akhir abad ke-12.

Kota yang berada di Turki ini merupakan potret kemewahan dunia dengan berbagai harta yang dimilikinya. Hingga sekarang, Konstantinopel yang ketika berada dalam kepemimpinan Turki Usmani berubah nama menjadi Istanbul, masih menjadi pusat komersial paling penting di Eropa hingga Venice mulai mengambil alih sektor perdagangannya.

Di bawah Turki Usmani, Konstantinopel dibangun hingga menjadi salah satu pusat peradaban dunia. Kekuasaannya meliputi wilayah yang sangat luas, yakni Eropa Timur, Timur Tengah, hingga Afrika Utara. 

Nama Konstantinopel atau Constantinople diambil dari Kaisar Constantine. Selama ribuan tahun, kota kaya dan cantik, Konstantinopel bertahan sebagai ibukota Kerajaan Byzantine.

Konstantinopel lantas terus berkembang menjadi kota besar selama berabad-abad lamanya. Teknologi, seni, dan budaya di Konstantinopel berkembang jauh lebih pesat dibandingkan kota lain di Eropa.

Selama lebih dari seribu tahun, Konstantinopel memimpin perkembangan kota-kota di Eropa. Bagaimana tidak, Konstantinopel merupakan jalur utama penghubung jaringan perdagangan antara Eropa, Asia hingga Afrika.

Selain berhasil meluaskan wilayah, Turki Usmani pun menorehkan kemajuan di bidang arsitektur. Banyak masjid dan istana megah dibangun. Dibangun pula pasar, rumah sakit, sekolah, dan sarana-sarana penting lainnya.

Di antara masjid-masjid megah yang dibangun Turki Usmani adalah Masjid Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Biru atau Masjid Sultan Ahmad, dan Masjid Raya Sulaiman.

Konstantinopel, Kota terkaya di dunia

Kekayaan seperti di kota Konstantinopel tak akan ditemukan di seluruh dunia. Begitulah yang pernah ditulis Sieur de Villehardouin pada 1203. Tak akan ada yang percaya Konstantinopel dikelilingi tembok tinggi dan menara-menara mahal hingga melihatnya sendiri.

Konstantinopel merupakan kota yang tertutup. Padahal kota tersebut dipenuhi kastil-kastil indah dan gereja megah. Konstantinopel juga merupakan kota perdagangan yang kaya membuat banyak pihak bersengketa ingin menguasainya.

Di dunia, Konstantinopel pernah menjadi kota terkaya dengan penduduk terbanyak di dunia. Seluruh penduduknya hidup di tengah kekayaan logam dan perhiasan yang melimpah.

Perdagangan merupakan pondasi ekonomi Konstantinopel. Kota tersebut mengendalikan perdagangan internal dan internasional.

Selengkapnya di sini...