Sukses

4-6-1972: Aktivis Kulit Hitam Amerika Serikat Angela Davis Dibebaskan

Liputan6.com, California - Tepat hari ini pada tahun 1972, Angela Yvonne Davis, seorang militan kulit hitam, aktivis komunis dan mantan profesor filsafat di University of California dibebaskan dari tuduhan konspirasi, pembunuhan, dan penculikan oleh dewan pengadilan di San Jose, California.

Dikutip dari laman History.com, Kamis (4/6/2020) pada Oktober 1970, Davis ditangkap di Kota New York sehubungan dengan baku tembak yang terjadi pada 7 Agustus di ruang sidang San Raphael, California.

Dia dituduh memasok senjata kepada Jonathan Jackson yang menyerbu ke ruang sidang. Dalam upaya membebaskan tahanan di pengadilan di sana, dan menyandera siapa yang dia harapkan untuk ditukar dengan saudaranya George, seorang radikal hitam yang dipenjara di Penjara San Quentin.

Dalam baku tembak berikutnya dengan polisi, Jonathan Jackson terbunuh bersama dengan Hakim Pengadilan Tinggi Harold Haley dan dua narapida.

Davis yang memperjuangkan perjuangan tahanan kulit hitam dan berteman dengan George Jackson, didakwa melakukan kejahatan tetapi bersembunyi. Salah satu penjahat paling dicari Biro Federal Investigasi adalah dirinya dan ia ditangkap hanya dua bulan kemudian.

Persidangannya dimulai pada Maret 1972 dan menarik perhatian internasional karena kelemahan kasus penuntutan dan sifat politik yang jelas dari persidangan. Pada Juni 1972, dia dibebaskan dari semua tuduhan.

Setelah meninggalkan sistem peradilan pidana, ia kembali mengajar dan menulis pada 1980 adalah kandidat wakil presiden Partai Komunis AS.

Pada tahun 1991, ia menjadi profesor di bidang history of consciousness di Universitas California di Santa Cruz.

Empat tahun kemudian, ia diangkat sebagai ketua presiden di universitas, di tengah kontroversi yang berasal dari latar belakang komunis dan militan kulit hitamnya.

Tulisannya termasuk Angela Davis: An Autobiography and Women, Race, and Class.

Meskipun bukan lagi anggota Partai Komunis, Davis terus aktif dalam politik, terutama berbicara menentang hukuman mati.

2 dari 2 halaman

Sejarah Lain

Pada tanggal yang sama tahun 1975 tercatat sebagai hari lahir aktris ternama Angelina Jolie. Sementara pada 4 Juni 1943 terjadi kudeta militer di Argentina untuk menggulingkan Ramón Castillo.

Selain itu, tanggal yang sama tahun 2015 hujan deras tengah mengguyur kawasan Ghana, Afrika. Banyak orang-orang berteduh, termasuk di dekat salah satu pom bensin di ibukota Accra.

Namun tiba-tiba saja terjadi ledakan di pom bensin 'GOIL station', lalu kebakaran besar melanda. Sebanyak 96 orang yang tengah berteduh tewas terbakar, belakangan jumlah korban dilaporkan bertambah hingga 150 nyawa.

Dilansir dari VOA News edisi 4 Juni 2015, berbagai laporan dari tempat kejadian mengatakan, insiden itu dipicu api yang muncul di dekat pom bensin yang terletak di Kwame Nkrumah Circle di Accra bagian tengah.

"Ledakan itu disebabkan oleh kebakaran yang terjadi di bangunan di dekatnya kemudian merambat ke pompa bensin itu dan bangunan lainnya," ujar juru bicara pemadam kebakaran, Billy Anaglate.

Anaglate mengatakan, api merambat dari partikel bahan bakar di sekitar pompa bensin yang bercampur dengan banjir. Lalu, kebakaran juga menjalar ke bangunan lain, termasuk tempat di mana orang-orang sedang berteduh.

Gambar-gambar televisi dan foto di lokasi kejadian menunjukkan jasad manusia dan kendaraan yang hangus. Korban tewas kemudian dikirim ke 37 rumah sakit militer di sana.

BBC melaporkan, banjir yang terjadi telah membuat bahan bakar yang disimpan terhanyut ke arah api dan menyebabkan ledakan di stasiun pompa bensin dan menyebabkan kebakaran di gedung sekitarnya.

Seorang saksi mata melihat orang-orang sedang berteduh dari hujan ketika ledakan itu terjadi.

Presiden Ghana, John Mahama telah mengunjungi tempat kejadian itu, bersama dengan walikota Accra dan seorang anggota parlemen.

Mahama mengatakan banjir itu sebagian disebabkan oleh orang-orang yang membangun rumah dan bisnis di jalur air, sehingga menghambat sistem drainase kota itu. Dia mengatakan pemerintah harus mengambil beberapa tindakan, termasuk memindahkan beberapa bangunan itu, untuk mencegah bencana itu terulang kembali.

Accra dilanda hujan lebat selama dua hari yang telah membanjiri rumah-rumah, menyebabkan padamnya listrik, dan membuat beberapa jalan tidak bisa dilewati. Banjir juga menghambat operasi penyelamatan.

Presiden John Mahama mengumumkan negaranya berkabung selama tiga hari untuk menghormati para korban, dan bahwa pemerintah akan mengalokasikan sekitar US$12 juta untuk membantu operasi penyelamatan dan memperbaiki infrastruktur yang rusak.