Sukses

Takut Terinfeksi Corona COVID-19? Ternyata Ini Kelompok yang Lebih Rentan

Jakarta - Penyebaran Virus Corona di dunia kini sangatlah cepat. Bahkan, secara global, per Jumat 20 Maret 2020 sore, 244.553 kasus telah dikonfirmasi dengan lebih dari 10.000 kematian. 

Bahkan, diperkirakan dua pertiga populasi Jerman akan terinfeksi.

Seperti dilansir dari laman DW Indonesia, Jumat (20/3/2020), keadaan ini diprediksi tidak akan berubah meski cuaca menjadi lebih hangat atau dengan berakhirnya musim flu biasa, ujar Christian Drosten, ahli virologi terkemuka dari Sekolah Kedokteran Charité yang bertempat di Berlin, Jerman.

Walaupun virus ini dapat menginfeksi semua orang tanpa pandang bulu, namun tetap saja beberapa kelompok orang akan lebih rentan terinfeksi. Lantas, siapa saja mereka?

2 dari 6 halaman

Lansia Lebih Rentan

Orang lanjut usia memiliki risiko sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa angka kematian pada pasien berusia sekitar 65 tahun meningkat drastis. Di China, misalnya, angka mortalitas untuk orang yang terinfeksi yang berusia hingga 40 tahun hanya 0,2 persen.

Namun, bagi yang berusia di antara 70 hingga 79 tahun angka kematian mencapai 8 persen, dan mencapai 14,8 persen bagi yang berusia 80 tahun atau lebih.

Karena itulah, para orang tua mesti dilindungi terutama dalam beberapa minggu dan bulan ke depan. Mereka sebaiknya menghindari tempat-tempat berkumpulnya orang banyak seperti konser atau pameran. Para kakek dan nenek sebaiknya juga tidak merawat cucu yang sedang dikarantina. Anggota keluarga yang lebih muda pun dianjurkan untuk berbelanja bagi mereka, supaya mereka tidak perlu pergi ke pasar. 

3 dari 6 halaman

Mereka yang Punya Masalah Kesehatan Dasar

Hampir semua korban yang meninggal telah memiliki riwayat penyakit sebelum mereka terinfeksi.

Menurut analisis Badan Kesehatan Dunia, WHO, dalam sejumlah kasus di China, orang tua yang memiliki penyakit kardiovaskular, diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit pernapasan kronis, dan kanker sangat berisiko.

4 dari 6 halaman

Lelaki Lebih Sering Terinfeksi

Menurut data WHO, jumlah laki-laki yang meninggal karena virus SARS-CoV-2 secara signifikan lebih tinggi daripada perempuan. Tingkat kematian di China pada pertengahan Februari mencapai 2,8 persen untuk laki-laki dan 1,7 persen untuk perempuan. Hal yang serupa juga terjadi ketika wabah SARS melanda Hong Kong pada 2003. Bahkan penyakit flu biasa cenderung berdampak lebih buruk bagi laki-laki ketimbang perempuan.

Secara umum, sistem kekebalan tubuh perempuan memang lebih tahan banting daripada laki-laki. Hormon estrogen pada perempuan bertanggung jawab merangsang sistem kekebalan tubuh dan memerangi patogen dengan lebih cepat dan lebih masif.

Selain itu, ada juga "alasan genetik," ujar virolog molekuler Thomas Pietschmann kepada DW. Alasannya adalah bahwa "beberapa gen yang relevan dengan kekebalan, misalnya gen yang bertanggung jawab untuk mengenali patogen, dikodekan dalam kromosom X." Perempuan punya dua kromosom X, sedangkan laki-laki hanya punya satu.

Ada pula faktor gaya hidup. Laki-laki seringnya memiliki gaya hidup yang lebih tidak sehat dibandingkan dengan perempuan. Di China misalnya, sekitar 52 persen laki-laki merokok, pada perempuan jumlah perokok hanya mencapai 3 persen. Paru-paru yang melemah akibat rokok lebih rentan terserang infeksi pernapasan.

5 dari 6 halaman

Risiko Anak-Anak Rendah

Anehnya, anak-anak tidak termasuk yang rentan terhadap infeksi Virus Corona jenis baru. Sejauh ini, tidak ada anak yang meninggal.

Tentu saja, anak-anak juga tertular virus ini, tetapi mereka tidak sakit atau hanya menunjukkan gejala ringan. Belum ada klarifikasi yang jelas mengapa ini terjadi. Namun dokter berasumsi bahwa pada tubuh anak-anak ada sebuah "sistem tidak spesifik" bawaan yang bekerja.

Sebagai perlindungan terhadap penyakit, ibu telah memberikan perlindungan kekebalan khusus kepada janin, dan kemudian kepada bayi yang baru lahir melalui air susu ibu. Contoh sistem kekebalan bawaan ini seperti misalnya sel darah putih yang menyerang semua patogen yang masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir atau kulit.

'Imunisasi pasif' ini biasanya akan melindungi anak-anak hingga mereka dapat membangun sistem kekebalan sendiri. Anak-anak mengembangkan pertahanan kekebalan tubuh spesifik hingga sekitar usia 10 tahun. Bahkan setelah itu, sistem kekebalan tubuh manusia akan tetap mampu menyesuaikan diri sepanjang hayat ketika patogen jenis baru bermunculan.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: