Sukses

Kaleidoskop 2019: Diawali Gerhana Bulan Total, Diakhiri Gerhana Matahari Cincin

Liputan6.com, Jakarta - Banyak fenomena astronomi terjadi sepanjang 2019. Di awali dengan terjadinya Gerhana Bulan Total dan diakhir Gerhana Matahari Cincin.

Selain gerhana, mendekatnya sejumlah asteroid bahkan nyaris menabrak Bumi juga terjadi pada 2019.

Hujan meteor dan penampakan sejumlah planet juga menghiasi langit pada 2019. 

Berikut ini 7 fenomena astronomi yang terjadi sepanjang 2019:

2 dari 9 halaman

1. Gerhana Bulan Total Berpadu Supermoon

Pemandangan yang satu ini mungkin akan memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para pengamat langit. Unik dan langka, saat dua fenomena alam, Gerhana Bulan Total dan Supermoon berpadu jadi satu.

Bulan, Bumi, dan matahari akan berada pada satu garis akhir pekan ini untuk peristiwa Gerhana Bulan Total tahun ini dan tahun depan. Pada saat yang sama, Bulan akan berada pada posisi yang begitu dekat dengan Bumi dan tampak sedikit lebih besar dan lebih terang dari biasanya --atau yang dikenal dengan fenomena Supermoon.

"Fenomena alam ini khususnya sangat menarik," ujar astrofisikawan Patrick Hartigan dari Rice University, Senin 21 Januari 2019.

"Bukan hanya fenomena Supermoon dan pada saat yang sama juga Gerhana Bulan Total, namun Gerhana Bulan Total ini juga berlangsung cukup lama. Fenomena ini berlangsung kurang lebih satu jam."

Gerhana Bulan tersebut akan mulai pada Minggu malam atau Senin dini hari, tergantung pada lokasi, dan akan berlangsung sekitar tiga jam.

Baca selengkapnya...

3 dari 9 halaman

2. Asteroid Hantam Jupiter

Astronom amatir Ethan Chappel berhasil menemukan hal spektakuler dengan teleskopnya. Temuan ini didapatkan ketika Chappel tengah merekam kilatan terang di permukaan Jupiter.

Planet terbesar di Tata Surya ini secara rutin memang memberikan gambaran menakjubkan. Namun, kilatan yang berhasil direkam Chappel diprediksi merupakan dampak dari benda asing yang menabraknya.

Chappel mulanya mengarahkan teleskopnya ke planet yang terbuat dari kumpulan gas itu. Ia kemudian menangkap penampakan material warna putih di sisi kanan planet tersebut, pada 7 Agustus 2019.

Meski belum dikonfirmasi pengamat, foto itu terlihat seperti asteroid besar yang menabrak planet Jupiter.

Lampu kilat singkat dan cepat hilang itu membuat orang berpikir bahwa kemungkinan ada dampak dari kejadian tersebut.

Selengkapnya di sini...

4 dari 9 halaman

3. Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor Perseid mungkin adalah hujan meteor paling populer yang terjadi pada Agustus 2019.

Namun, Perseid yang terkenal karena pancaran cahayanya yang terang, diprediksi akan kalah pamor dari sinar rembulan yang sedang mendekati purnama. Pengamat langit atau skywatcher hanya bisa melihat 10-15 meteor per jam atau lebih sedikit, ketika penampakan meteor memasuki jam puncaknya, yaitu pada 12-13 Agustus malam waktu setempat.

Hal tersebut diungkapkan pakar meteor NASA, Bill Cooke. Menurutnya, pada tahun-tahun ketika cahaya Bulan meredup (seperti pada 2016), jumlah meteor yang tampak jelas di langit bisa mencapai antara 150-200 meteor per jam.

"Sayangnya, Bulan sedang mendekati purnama pada malam puncak (meteor), yang akan membuat Perseid terlihat lebih redup," kata Cooke.

"Tenang saja, kita masih bisa melihatnya, karena Perseid seperti bola api. Sinarnya tidak sepenuhnya kalah total dari Bulan. Namun, cahaya Bulan akan merusak sebagian besar penampakan Perseid," tambahnya.

Baca selengkapnya...

5 dari 9 halaman

4. Asteroid Nyaris Tabrakan Bumi

Sebuah Asteroid nyaris bertabrakan dengan Bumi pada Juli 2019. Asteroid bernama 2019 OK ini membuat kaget lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA.

Fakta Asteroid 2019 OK hampir menabrak Bumi muncul setelah sebuah grafik mengerikan dirilis ASAS-AN di University of Ohio. Grafik itu memetakan lintasan asteroid yang mendekati Bumi dari jarak hanya 45.360 mil (65.000 km).

Asteroid 2019 OK dapat terlihat terus mendekati orbit Bumi sebelum hampir menabrak planet manusia.

Para astronom melihat Asteroid 2019 OK beberapa hari sebelum pertemuannya yang dekat dengan Bumi, tetapi tampaknya tidak ada yang menyadari rute asteroid itu.

Bila saja asteroid itu menghantam Bumi, kekuatan tumbukannya mencapai "30 kali energi ledakan atom di Hiroshima," menurut Associate Professor Universitas Swinburn, Alan Duffy.

Profesor Duffy berkata, "Itu adalah asteroid pembunuh kota. Tetapi karena sangat kecil, sangat sulit untuk melihat sampai pada menit terakhir. Asteroid itu menyusup ketat di antara orbit Bulan. Jelas terlalu dekat untuk jarak aman."

Selengkapnya...

6 dari 9 halaman

5. 5 Planet Terlihat dari Bumi

Venus dilaporkan masih muncul rendah di langit barat-barat daya sesaat setelah matahari terbenam pada Oktober 2019. Akan tetapi, posisi tersebut membuat pengamatan terhadap planet bercincin ini agak bermasalah, meskipun ia jauh lebih terang dari planet-planet lain. 

Anda mungkin memerlukan teropong atau teleskop untuk mengamatinya. Sementara itu, dalam jarak yang relatif dekat dengan Venus adalah Merkurius, sedangkan Jupiter berada lebih rendah di barat daya dan Saturnus ada di barat daya ketika senja sore memudar.

Mars, yang diklasifikasikan sebagai objek magnitudo kedua yang redup, adalah satu-satunya planet yang terdegradasi ke langit pagi. Terbit tepat saat fajar mulai menerangi langit timur. 

Ada 5 planet yang bisa disaksikan selama Oktober 2019. Yakni: Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus.

Selengkapnya di sini... 

7 dari 9 halaman

6. Asteroid Meledak di Atas Laut Karibia

Sebuah asteroid kecil melesat mendekati Bumi dengan kecepatan 14,9 kilometer per jam, tetapi NASA mengaku tidak tahu batu angkasa luar itu akan sampai di Bumi.

Asteroid yang dikenal sebagai 2019 MO tersebut punya lebar tiga meter dan meledak ketika menghantam atmosfer Bumi pada 22 Juli di atas Laut Karibia.

Namun, cara 2019 MO mendekati Bumi secara mendadak, menegaskan kembali bahwa para astronom dan badan antariksa dunia perlu lebih hati-hati ketika 'mengintai' langit.

Mengetahui kejadian itu, NASA mengatakan: "Ketika pertama kali terlihat, 2019 MO berjarak sekitar 310.000 mil (500.000 kilometer) dari Bumi, lebih jauh dari orbit Bulan kita."

"Ini kira-kira sama dengan menemukan sesuatu seukuran nyamuk dari jarak 310 mil (500 kilometer)," imbuh NASA.

Davide Farnocchia, seorang ilmuwan di Center for Near Earth Object milik NASA, menjelaskan bahwa ukuran asteroid 2019 MO jauh lebih kecil dari apa yang dilacak oleh timnya di NASA.

Baca selengkapnya...

 

8 dari 9 halaman

7. Gerhana Matahari Cincin

Gerhana matahari terakhir dalam tahun ini telah melanda Bumi. Fenomena alam pada Kamis 26 Desember 2019 ini disebut punya efek bahaya bagi mereka yang menyaksikannya.

Gerhana matahari yang terjadi sehari setelah Natal ini adalah gerhana matahari cincin. Fenomena ini terjadi karena Bulan baru, yang sedikit lebih jauh dari Bumi dan tampak lebih kecil di langit, akan menutupi 97 persen cakram Matahari saat berada dalam garis lurus atau sejajar. 

Pada puncak gerhana, matahari akan terlihat seperti cincin, dengan durasi maksimal 3 menit dan 40 detik.

Menurut penulis buku "A Stargazing Program for Beginners: A Pocket Field Guide" Jamie Carter, gerhana matahari cincin ini adalah yang paling berbahaya. Maksudnya? 

Bahaya yang dimaksud tak ada hubungannya dengan bencana alam. Namun, ia memperingatkan, siapapun yang ingin menyaksikannya wajib menggunakan kacamata khusus gerhana matahari untuk menghindari ancaman kebutaan.

"Itu menjadikannya gerhana matahari paling berbahaya tahun 2019," ungkap Jamie dalam artikelnya di Forbes.

Simak selengkapnya...

9 dari 9 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
7 Foto Menakjubkan dari Antariksa Sepanjang 2019
Artikel Selanjutnya
Kaleidoskop 2019: 6 Pemain Internasional Paling Bersinar Tahun Ini