Sukses

25-8-1989: Voyager 2 Berhasil Mendekat dan Mengabadikan Planet Neptunus

Liputan6.com, Jakarta - Hari ini. tepat 30 tahun lalu, pesawat angkasa luar milik NASA bernama Voyager 2, berhasil melakukan penerbangan jarak dekat ke planet Neptunus.

Mereka juga memberikan gambar Neptunus pertama bagi semua orang di Bumi. Setelah misi Voyager 2 ini selesai, tidak ada lagi pesawat angkasa luar yang mengunjungi Neptunus.

"Program planet Voyager benar-benar merupakan kesempatan untuk menunjukkan kepada publik tentang apa sains itu," kata Ed Stone, seorang profesor fisika di Caltech dan ilmuwan proyek Voyager sejak 1975.

"Setiap hari kami belajar sesuatu yang baru," tambahnya, demikian Today in History dikutip dari situs publikasi NASA pada Sabtu (24/8/2019). 

Selama penerbangan berlangsung, tim teknik dengan sangat hati-hati mengubah arah dan kecepatan sehingga bisa secara jelas mendekati bulan dari planet Neptunus, yaitu Triton.

Wahana itu menunjukkan bukti permukaan yang muda secara geologis dan geyser aktif yang juga memuntahkan material ke angkasa.

Ini menunjukkan bahwa Triton bukan sekadar bola es padat, meskipun memiliki suhu permukaan terendah dari semua benda alami yang diamati oleh Voyager yaitu minus 391 derajat Fahrenheit (setara minus 235 derajat Celcius).

Pada saat Voyager 2 mencapai Neptunus, tim misi di dalamnya menyelesaikan lima pertemuan planet, namun mereka sedikit kesulitan untu bisa mengabadikan planet biru itu.

Sekitar 30 kali lebih jauh dari Matahari daripada Bumi, planet es raksasa ini hanya menerima sekitar 0,001 kali jumlah sinar matahari dari yang bumi dapatkan.

Dalam cahaya redup seperti itu, kamera Voyager 2 membutuhkan eksposur yang lebih lama untuk mendapatkan gambar berkualitas.

Tetapi karena pesawat antariksa akan mencapai kecepatan maksimum sekitar 60.000 mil per jam (sekitar 90.000 kph) relatif terhadap Bumi, waktu eksposur yang lama akan membuat gambar buram, seperti mengambil gambar dari dalam mobil yang sedang melaju kencang.

Jadi, mereka memutar pesawat mereka untuk bisa menjaga fokus kamera pada targetnya tanpa menganggu kecepatan dan arah keseluruhan pesawat.

Saat itu juga mereka kesulitan dengan jarak yang terlalu jauh, sinyal Voyager 2 melemah jika dibandingan dengan sinyal pesawat NASA lainnya.

Namun, pesawat Voyager 2 ini punya keuntungan yaitu bisa berkomunikasi dengan Bumi via Deep Space Network (DSN) menggunakan antena radio yang ada di Madrid, Canberra, dan Goldstone.

Stasiun komunikasi ini berguna untuk memastikan para ahli bisa mendengar Voyager dengan keras dan jelas. Serta bisa lebih mudah melihat berapa banyak data yang dikirim ke Bumi.

2 dari 2 halaman

Voyager 2 Masih Menelusuri Angkasa Luar

Saat foto dikirim, tim Voyager mengerumini monitor karena rasa penasaran ingin melihat benda-benda angkasa luar itu. Mereka melihatnya di Laboratorium NASA di Pasadena, negara bagian California.

"Salah satu hal yang membuat perjumpaan planet Voyager berbeda dari misi hari ini adalah bahwa tidak ada internet yang memungkinkan seluruh tim dan seluruh dunia untuk melihat gambar pada saat yang sama," kata Stone.

"Gambar-gambar itu tersedia secara real time di sejumlah lokasi terbatas." imbuhnya.

Tetapi tim berkomitmen untuk memberikan update kepada publik secepat mungkin, sehingga pada 21-29 Agustus, mereka akan membagikan penemuan mereka dengan dunia selama konferensi pers harian.

Pada 24 Agustus, sebuah program yang disebut "Voyager All Night" menyiarkan update reguler dari pertemuan terdekat probe dengan planet ini, yang berlangsung pukul 9 malam waktu setempat.

Hingga kini Voyager 1 dan 2 masih ada di luar angkasa dan mereka masih mengirimkan temuan-temuan mereka ke antena DSN.

"Setiap hari mereka bepergian ke suatu tempat yang belum pernah dilakukan penyelidikan manusia," kata Stone. "Empat puluh dua tahun setelah peluncuran, dan mereka masih menjelajah."

Sementara itu, tanggal yang sama pada 1609, Galileo mendemonstrasikan teleskop pertamanya di hadapan pejabat Venesia. 

Juga, tanggal yang sama pada 1910, Yellow Cab alias taksi berwarna kuning yang menjadi ciri khas kota New York, resmi beroperasi untuk pertama kalinya di distrik Lower Manhattan. 

 

Reporter: Windy Febriana

Loading
Artikel Selanjutnya
17-9-1862: Pecahnya Pertempuran Antietam di AS
Artikel Selanjutnya
16-9-1978: Guncangan Gempa Iran Tewaskan 26 Ribu Orang