Sukses

Hari Penghapusan Perdagangan Budak, Masa Kelam Dalam Sejarah Manusia

Liputan6.com, Jakarta - Perdagangan budak dulu sering dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan akan sesuatu. Maka dari itu PBB kini telah menetapkan 23 Agustus sebagai International Day for the Remembrance of the Slave Trade and its Abolition atau dikenal sebagai Hari Mengenang Perdagangan Budak Sedunia.

Selama lebih dari 400 tahun, sebanyak 15 juta pria, wanita dan anak-anak menjadi korban dari perdagangan budak tragis, salah satu kejadian kelam dalam sejarah manusia.

Dilansir dari un.org pada Jumat (23/8/2019), Hari Mengenang Perdagangan Budak Sedunia dan Penghapusannya telah diputuskan Majelis Umum PBB pada 17 Desember 2007 untuk dikenang setiap tahunnya.

Perayaan ini bertujuan untuk menyerukan pembetukan program penjangkauan untuk memobilisasi lembaga-lembaga pendidikan, masyarakat sipil dan organisasi-organisasi lain.

Gunanya yaitu untuk menanamkan perdaganan generasi mendatang "penyebab, konsekuensi dan pelajaran dari perdagangan budak trans-Atlantik, dan untuk mengkomunikasikan bahaya rasisme dan prasangka.

2 dari 2 halaman

Awal Mula Perayaan

Pada malam 22 sampai 23 Agustus 1971, di Santo Domingo --sekarang menjadi Haiti dan Republik Dominika-- terjadi awal pemberontakan yang akan memainkan peran penting dalam penghapusan perdagangan budak trans-Atlantik.

Hal ini yang menjadi latar belakang Hari Mengenang Perdagangan Budak dan Penghapusannya yang dirayakan pada hari ini setiap tahunnya.

Peringatan ini untuk memperingati tragedi perdagangan budak yang dialami oleh masyrakat dunia.  Direktur PBB mengundang Menteri Budaya semua negara untuk merayakan hari ini pada 23 Agustus, termasuk kaum muda, seniman.

Pada peringatan bersejarah ini awalnya dirayakan di beberapa negara, seperti di Haiti pada 23 Agustus 1998, Gore dan Senegal pada 23 Agustus 1999.

Berbagai acara budaya juga turut meramaikan. Pada 2001, Mulhouse Texttile Museum di di Perancis dalam bentuk lokakarya yang berjudul "Indiennes de Traite" yang menampilkan mata uang pertukaran budak di abad ketujuh belas dan delapan belas.

 

 

Reporter: Aqilah Ananda Purwanti