Sukses

21-4-1975: Merasa Dibohongi AS, Presiden Vietnam Selatan Mengundurkan Diri

Liputan6.com, Hanoi - Dalam kurun waktu 1957-1975, terjadi Perang Vietnam antara Vietnam Utara (Republik Demokratik Vietnam) dan Vietnam Selatan (Republik Vietnam). Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin antara dua kubu ideologi besar, yakni Komunis dan SEATO.

Akhir dari pertempuran ini diawali dengan pengunduran diri Presiden Vietnam Selatan, Nguyen Van Thieu, tepat pada 44 tahun silam. Dalam siaran radio dan televisi, Thie menyatakan alasannya bahwa tentaranya telah gagal menghentikan serangan dari kubu Vietnam Utara.

Thieu merasa dikhianati oleh Amerika Serikat yang sebelumnya berjanji akan memberikan bantuan dana militer untuk melawan Vietnam Utara, namun anggaran tersebut tak kunjung dikucurkan. Hal ini yang, menurutnya, membuat Vietnam Selatan kalah.

"Amerika ingkar janji. Sebelumnya mereka bilang akan memberikan bantuan, tapi kata-kata itu sudah tidak bisa dipercaya lagi," ungkap Thieu, seperti dimuat BBC.

"Amerika tidak membantu kami yang tengah memperjuangkan kemerdekaan," imbuh Thieu, yang juga menuding AS memaksa dirinya untuk menyerahkan kekuasaan.

Presiden AS kala itu, Gerald Ford, membantah pihaknya meminta Thieu menyerahkan kekuasaan. Ford juga menegaskan bantuan militer yang telah disetujui presiden AS sebelumnya tidak diberikan, karena tak mendapat persetujuan dari kongres AS.

"Tidak ada tekanan dari kami. Thieu membuat keputusannya sendiri," ujar Ford.

Thieu menjabat sebagai presiden Vietnam selama 10 tahun sejak 1965. Ia berkuasa usai berhasil menggulingkan pemimpin sebelumnnya, Ngo Dinh Diem, dengan bantuan pasukan AS. 

Beberapa bulan sebelum mengundurkan diri, Thieu terus didesak untuk mundur oleh berbagai kalangan, terutama para politisi di Saigon. Hal ini lantaran Thieu dianggap bersikap diktator dalam menjalankan pemerintahan.

Saat Thieu mengundurkan diri dan menyerahkan pemerintahan ke Wakil Presiden Tran Van Huong, tentara Vietnam Utara telah memadati Saigon untuk mengambil alih kekuasaan.

Benar saja, beberapa hari kemudian, Saigon berhasil diduduki. Artinya Vietnam Selatan telah dilumpuhkan oleh Vietnam Utara.

Hal ini menjadi awal bagi bersatunya Vietnam Utara dan Vietnam Selatan yang kini menjadi negara Republik Sosialis Vietnam.

Sejarah lain mencatat pada 21 April 1944, perempuan di Prancis memperoleh hak untuk mengikuti pemilu.

Sementara di Indonesia, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini --tokoh pergerakan wanita. Raden Ajeng Kartini sendiri lahir pada tahun 1879.

Loading
Artikel Selanjutnya
WN Vietnam di Kasus Pembunuhan Kim Jong-nam Akan Bebas 3 Mei 2019
Artikel Selanjutnya
Batavia Hanoi, Restoran Halal Indonesia yang Berkibar di Vietnam