Sukses

Pengantin ISIS Buron Paling Dicari Prancis Dikabarkan Tewas di Suriah

Liputan6.com, Damaskus - Hayat Boumeddiene, seorang pengantin ISIS yang sempat berstatus sebagai "wanita paling dicari di Prancis" dinyatakan telah meninggal dalam sebuah serangan udara di Suriah pekan lalu.

Hal itu disampaikan oleh Dorothee Macquere, seorang pengantin militan yang diwawancarai media pascaevakuasi dari Baghuz.

Menurut Macquere, Boumeddine tewas terbunuh dalam serangan menargetkan ISIS yang menabrak bunker yang dijuluki sebagai "Rumah Prancis", sebagaimana dikutip dari laman Daily Mail pada Kamis (7/3/2019).

Boumeddiene adalah istri Amedy Coulibaly, penyerang toko makanan di Paris yang membunuh empat sandera dan seorang polisi wanita.

Boumeddiene dikabarkan kabur ke Suriah pada 2015 dalam keadaan hamil, saat penyelidik Prancis memburu keberadaannya dalam rangka mengusut tuntas kasus yang menjerat sang suami. Ia diduga menjadi kaki tangan serangan Coulibaly saat itu.

Serangan Coulibaly terjadi beberapa hari setelah dua militan bersaudara, Cherif dan Said Kouachi membantai staf media Charlie Hebdo.

Suami Boumeddiene, Coulibaly tewas dalam serbuan kepolisian, begitu pula Kouachi bersaudara --meskipun dalam serangan yang berbeda.

Sesampainya di Suriah, Macquere mengatakan bahwa Boumeddiene telah memulai hidupnya yang baru. Ia disebut telah menikah lagi, kemungkinan juga dengan anggota ISIS, namun tidak memiliki anak.

Salah seorang pengungsi asal Prancis-Maroko mengatakan Boumeddiene telah mengatakan kepadanya bahwa ia tidak tahu menahu dengan serangan 2015 di Paris maupun rencana yang dimiliki suaminya.

 

Simak pula video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Suami Macquere Juga Tewas dalam Serangan Mortir

Dalam kesempatan yang sama, Dorothee Macquere juga menceritakan pengalaman dirinya hidup sebagai pengantin ISIS.

Ia mengatakan bahwa suaminya, Jean-Michael Clain, seorang militan ISIS yang menulis lagu kebangsaan 'kekhalifahan' juga tewas dalam serangan mortir selama akhir pekan.

Clain bertahan lebih dari seminggu setelah serangan udara. Macquere mengatakan bahwa ia telah mencoba untuk mengobati suaminya, namun kakinya terkoyak dan satu sisi tubuhnya hancur.

Serangan yang dimaksud terjadi hampir bersamaan dengan proses evakuasi lebih dari 10.000 perempuan, tersangka pejuang, dan anak-anak dari Baghouz.

Macquere, yang telah melarikan diri dari Baghouz mengatakan bahwa situasi di tempat itu sangat menakutkan. Terdapat berbagai pembantaian di sana, dengan penembakan yang tidak pernah berhenti.

Ia menceritakan bahwa orang-orang harus berbaring rata untuk menghindari baku tembak. Sang pengantin ISIS menambahkan bahwa "tidak ada lagi rumah" dan mereka terpaksa hidup di bawah tanah, terowongan, dan tenda.

Putrinya yang berusia tujuh tahun terbunuh, sedangkan putrinya yang lain terluka akibat ledakan. Adapun dua putranya yang lain tewas sebelumnya dalam tembakan pemerintah Suriah.

Meskipun keadaannya saat ini sangat memprihatinkan, Macquere mengatakan tak ingin pulang ke Prancis.

"Mereka (Prancis) membunuh suamiku, anak-anakku. ... Aku tidak ingin apapun dari mereka. Mereka sudah cukup membahayakan. Saya ingin mereka meninggalkan saya bersama anak-anak saya," katanya. Saat itu ia tengah menggendong putranya yang berumur dua minggu, yang merupakan salah satu dari lima anaknya yang masih hidup.

Loading
Artikel Selanjutnya
400 Militan ISIS Tertangkap Saat Kabur dari Kantong Terakhirnya di Suriah
Artikel Selanjutnya
Kisah Eks Sniper Inggris: Saya Bunuh 250 Militan ISIS, tapi...