Sukses

Evakuasi Pertama dari Wilayah ISIS di Irak - Suriah Berhasil Selamatkan 600 Orang

Liputan6.com, Damaskus - Lebih dari 600 orang telah dievakuasi dari wilayah kekuasaan ISIS di Irak dan sebagian Suriah timur, kata sebuah lembaga pemantau, ketika para pemberontak yang didukung Amerika Serikat (AS) bersiap untuk serangan terakhir di daerah itu.

Sebagian besar dari mereka, terutama wanita dan anak-anak, dievakuasi dengan 25 bus yang dikirim oleh Pasukan Demokrat Suriah (SDF), kata Observatorium Suriah, lembaga pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Inggris.

Dikutip dari The Guardian pada Senin (14/1/2019), Kepala Observatorium, Rami Abdel Rahman, mengatakan bahwa beberapa lusin militan ISIS yang membelot, termasuk di antara rombongan evakuasi ke daerah-daerah yang dipegang oleh aliansi Kurdi-Arab.

Pada September lalu, sepak terjang SDF, yang didukung oleh serangan udara dari koalisi pimpinan AS, meluncurkan serangan untuk mengusir ISIS dari cengkeramannya yang diproklamirkan pada 2014.

Abdel Rahman mengatakan sekitar 16.000 orang, termasuk 760 militan ISIS, telah meninggalkan daerah itu sejak awal Desember.

"Tetapi, ini adalah pertama kalinya bus disediakan oleh SDF dan koalisi", katanya, menunjukkan bahwa kemungkinan kesepakatan telah dicapai antara pihak-pihak yang bertikai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan Jumat lalu bahwa secara keseluruhan, sekitar 25.000 orang telah melarikan diri dari kekerasan selama enam bulan terakhir, ketika para ekstremis berupaya mempertahankan benteng pertahanan mereka yang kian melemah.

Sementara itu, sebanyak 2.000 warga sipil masih terperangkap di daerah sekitar kota Hajin, di mana koalisi pimpinan AS pada hari Sabtu, menembakkan lebih dari 20 rudal terhadap militan ISIS.

Di waktu bersamaan, sekitar 300 pasukan SDF telah dikerahkan di dekat desa Sousa dalam persiapan terhadap kemungkinan serangan terakhir ke wilayah kekuasaan ISIS, pada awal pekan ini.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Penyelesaian Ketegangan AS-Turki

Di lain pihak, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan dia telah berbicara dengan mitranya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, melalui sambungan telepon pada akhir pekan lalu, dan mengatakan bahwa keduanya "optimis" dalam mencapai kesepakatan untuk melindungi para pasukan Kurdi.

Meski begitu, Pompeo tidak memberikan detail lebih lanjut terkait pernyataannya itu.

Berbicara di Abu Dhabi pada hari Minggu, Pompeo mengatakan AS mengakui "hak rakyat Turki dan hak Erdogan untuk mempertahankan negara mereka dari teroris".

"Kami juga tahu bahwa mereka yang bertarung bersama kami selama ini layak dilindungi juga," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, SDF yang didukung oleh AS telah lama dianggap sebagai kelompok Kurdi yang mengancam keamanan nasional Turki. 

Selanjutnya di Riyadh, pada awal pekan ini, Pompeo diperkirakan akan membahas tentang campur tangan Iran serta konflik yang terjadi di Yaman dan Suriah.

Laporan beberapa media AS juga menyebut bahwa kunjungan Pompeo ke Riyadh akan turut mengulik informasi terbaru tentang penyelidikan atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Loading
Artikel Selanjutnya
Peran Berbeda 2 Dodi dalam Tragedi Bom Sarinah 3 Tahun Lalu
Artikel Selanjutnya
Simpatisan ISIS Ancam Meracuni Makanan yang Disantap Kate Middleton