Sukses

Israel Akhirnya Membuka Rute Truk Pemasok Makanan ke Jalur Gaza

Liputan6.com, Gaza - Kerem Shalom, sebuah kibbutz (pemukiman komunal di Israel, biasanya berupa peternakan) yang terletak di perbatasan Jalur Gaza-Israel-Mesir, kembali aktif pada Rabu pagi waktu setempat setelah sebelumnya ditutup oleh Israel.

Tindakan ini dilakukan menyusul suasana tenang pascabentrokan di perbatasan Jalur Gaza dan Israel selatan sejak beberapa bulan lalu.

Orang yang bertanggungjawab atas keputusan itu adalah Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Liberman. Pihaknya juga telah mengizinkan truk-truk pembawa barang-barang komersial untuk masuk ke daerah kantong (enclave). Demikian seperti dikutip dari Jerusalem Post, Kamis (16/8/2018).

Israel meblokir Kerem Shalon pada 10 Juli 2018, menutup masuknya bahan bakar dan gas pada 17 Juli. Liberman sempat membuka kembali jalur persimpangan tersebut pada akhir bulan, tetapi kemudian menutupnya lagi pada 1 Agustus, saat bentrokan berlanjut dan demonstran menyerang Israel menggunakan layang-layang api dan balon udara.

Tentara Pertahanan Israel (Israel Defense Forces) sebelumnya mengatakan bahwa Kerem Shalom akan dibuka secara keseluruhan, sebagai hasil akhir dari kesepakatan bersama antara Liberman dan Kepala Staf IDF Letjen Gadi Eisenkot.

"Merujuk pada keputusan Menteri Pertahanan, Avigdor Liberman, yang telah berkonsultasi dengan Kepala Staf Umum, Letnan Jenderal Gadi Eisenkot, kargo yang menyeberang ke Jalur Gaza, persimpangan Kerem Shalom, akan dibuka kembali pagi ini untuk aktivitas sehari-hari," ujar IDF melalui akun Twitter-nya @IDFSpokeperson, Rabu 15 Agustus.

Israel juga memperluas zona pemancingan warga di Jalur Gaza menjadi 9 mil di lepas pantai selatan dan 6 mil di utara, lebih dekat ke Israel. Negeri Zionis ini juga memperluas zona penangkapan Gaza menjadi 9 mil laut di lepas pantai selatan dan 6 mil laut di utara, lebih dekat ke Israel.

Pada hari Selasa, Liberman berbicara dengan Eisenkot. Selama percakapan itu, Liberman mengklarifikasi bahwa ia ingin mengirim pesan kepada dua juta orang Palestina yang tinggal di Jalur Gaza bahwa perdamaian harus direalisasikan demi kepentingan terbaik bersama.

Menutup area persimpangan --yang merupakan jalur utama bagi truk-truk pemasok barang-barang komersial-- telah memperburuk krisis kemanusiaan bagi 2 juta penduduk di Jalur Gaza.

Israel dan Mesir telah mempertahankan blokade Jalur Gaza sejak Hamas mengambil kendali wilayah itu pada 2008. Kelompok hak asasi manusia dan PBB menggambarkan kebijakan itu sebagai hukuman kolektif.

Sementara itu, Mesir dan PBB terus berusaha untuk menengahi gencatan senjata antara Hamas dan Israel, setelah bentrok di perbatasan dua negara --Sirael dan Palestina-- meningkat menjadi peperangan.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

 

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

PM Israel Ingin Gencatan Senjata dengan Hamas di Gaza

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menginginkan "gencatan senjata penuh" dengan Hamas, organisasi perjuangan kemerdekaan Palestina yang menjadi penguasa de facto Jalur Gaza, menyusul meruncingnya konflik antara kedua belah pihak selama beberapa waktu terakhir.

Hal itu disampaikan Netanyahu pada Minggu, 12 Agustus 2018, beberapa saat sebelum dia memulai rapat kabinet.

Menggarisbawahi meruncingnya konflik di area perbatasan Israel-Gaza, Netanyahu berkomentar, "Kita berada di tengah kampanye melawan teror (Hamas) di Gaza. Telah terjadi sejumlah aksi balas-membalas serangan, dan ini tidak akan berhenti."

Menyikapi hal tersebut, Netanyahu mengatakan, "Tuntutan kami jelas," ujarnya. Dia kemudian melanjutkan, "Gencatan senjata penuh (dengan Hamas)." Demikian seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Senin 13 Agustus 2018.

"Tujuan kami adalah untuk mengembalikan perdamaian bagi para penduduk di selatan (Israel) dan wilayah sekitarnya (yang berbatasan dengan Gaza). Tujuan ini akan digapai secara penuh," dia menambahkan.

Prakarsa gencatan senjata itu muncul setelah rangkaian aksi balas-membalas serangan udara terbaru yang dilakukan oleh Hamas dan Israel pada Rabu hingga Kamis, 8-9 Agustus 2018 --menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak dan ibu hamil.

Hamas mengklaim bahwa gencatan senjata itu telah dicapai pada pertengahan pekan lalu, berkat langkah diplomatik Mesir dan komunitas internasional. Kendati demikian, pihak Israel menyanggah telah menyepakati gencatan senjata dengan pihak Hamas yang dimediasi oleh Mesir pada pertengahan pekan lalu --hingga akhirnya hal tersebut benar-benar dibahas oleh kabinet Netanyahu pada 12 Agustus. Demikian seperti dikutip dari Haaretz.

Di tengah simpang-siur mengenai kabar gencatan senjata itu, sejak Kamis hingga akhir pekan ini, tak ada laporan mengenai serangan udara yang dilancarkan oleh Hamas maupun Israel --walaupun ada beberapa kabar mengenai drone Israeli Defense Forces (IDF) yang terbang di wilayah Gaza demi menyisir potensi "ancaman", menurut pihak IDF.

Meski tak ada serangan udara, demonstrasi rutin warga Gaza di perbatasan Israel per hari Jumat, tetap digelar. Menurut kabar, hal itu dilaksanakan sebagai bentuk protes atas serangan misil Israel pada Rabu malam lalu. Demonstrasi Jumat, 10 Agustus lalu menewaskan tiga pria Palestina dan sekitar 130 orang terluka.

Mereka yang meninggal dalam demonstrasi Jumat, 10 Agustus lalu menjadikan angka orang Palestina yang tewas bertambah hingga setidaknya 168 jiwa. Sebagian besar tewas akibat bentrokan berdarah "The Great March of Return" yang rutin digelar di perbatasan Gaza-Israel pada Jumat setiap pekan sejak Maret 2018. Sementara sisanya, tewas akibat serangan udara Israel.

Berbulan-bulan ketegangan akibat protes dan bentrokan di sepanjang perbatasan Gaza, telah menimbulkan kekhawatiran akan perang keempat antara Israel dengan Hamas Palestina --yang mana konflik bersenjata terbuka terjadi terakhir kali pada 2008.

Artikel Selanjutnya
Uji Coba Senjata Nuklir Rahasia Israel 39 Tahun Lalu Terkuak Gara-Gara Domba?
Artikel Selanjutnya
Penasihat Presiden Palestina: Jangan Ada Perundingan Tersembunyi Antara Hamas-Israel