Sukses

Bomber Berantai AS Dieksekusi Mati pada Usia 83 Tahun

Liputan6.com, Alabama - Walter Leroy Moody, pernah menjadi headline di seluruh surat kabar Amerika Serikat pada tahun 1990-an. Kala itu, ia dijatuhi hukuman mati atas kejahatannya-- yang pada masanya dipandang mengerikan--, yakni bomber berantai.

Setelah lebih dari dua dekade berlalu, akhirnya hukuman itu datang jua. Mahkamah Agung menolak permintaan pengacara Moody agar eksekusi ditunda. Moodey, disuntik mati pada Kamis 19 April 2018 di Lembaga Permasyarakatan Holman, di Atmore, Alabama.

Di usianya yang ke-83 tahun, Moody adalah tahanan tertua yang dieksekusi mati semenjak hukuman itu dihidupkan kembali pada 1976. Demikian seperti dikutip Newsweek pada Jumat (20/4/2018).

Korban pertama Moody adalah Hakim Pengadilan 11thCircuit, Robert S. Vance, yang terbunuh pada 16 Desember oleh bom paku di rumahnya. Istri Vance, Helen, terluka parah dalam serangan itu. Dua hari kemudian, pengacara hak sipil Robert E. Robinson dibunuh oleh perangkat yang sama.

Dua bom lainnya berhasil dilumpuhkan oleh polisi sebelum meledak.

Satu bom dikirim ke gedung pengadilan utama 11thCircuit di Atlanta dan yang lainnya ke kantor NAACP di Jacksonville, Florida. Namun, di kantor NAACP, polisi belum sempat berhasil melumpuhkan. Bom paku itu meledak setelah didahului ledakan gas air mata.

Saat penyelidikan sedang berlangsung, stasiun televisi Atlanta menerima surat yang mengancam lebih banyak serangan terhadap hakim, pengacara, dan pejabat NAACP.

Setelah diselidiki, bom itu memiliki desain yang sama dan ahli forensik menyimpulkan bahwa ledakan telah dibuat oleh orang yang sama.

Bukti membawa mereka ke Moody, yang pada tahun 1972 dihukum karena memiliki sebuah bom pipa yang meledak di rumahnya dan melukai istrinya, sebuah kejahatan yang membuatnya dihukum selama tiga tahun di penjara. Penyidik melihat kesamaan antara bom Moody, dirakit setidaknya 19 tahun kemudian.

Moody telah belajar di sekolah hukum, dan bahkan bertindak sebagai pengacara bagi dirinya sendiri.

Jaksa Agung Alabama, Steve Marshall mengatakan, Moody menjadi terobsesi dengan keyakinannya pada tahun 1972 bahwa ada seseorang yang ingin mengacaukan hidupnya.

Dalam pembelaan Moody yang gagal itu, jaksa mengatakan dia membuat alasan dan tuduhan palsu. Dan semenjak usahanya itu gagal, Moody mulai membuat sejumlah bom untuk membalas dendam.

Moody dihukum atas tuduhan pembunuhan federal pada tahun 1991 dan tuduhan negara bagian Alabama pada tahun 1996. Dia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Alabama pada tahun 1997. Moody mempertahankan ketidakbersalahannya dan mengklaim bahwa dia telah dijebak.

"Moody telah menghabiskan sisa hidupnya yang lebih baik setelah tiga dekade berusaha menghindari keadilan," kata pejabat pengadilan setelah eksekusi hukuman mati.

"Malam ini, permohonan Tuan Moody akhirnya berakhir dengan benar, yakni keadilan telah ditegakkan," tutup sang pejabat usai eksekusi hukuman mati itu. 

 

 

1 dari 2 halaman

Hukuman Mati Bagi Napi Lansia AS Diperdebatkan

Populasi narapidana hukuman mati di AS makin menua, dan itu membuat pengadilan semakin bergulat dengan pertanyaan apakah sesuai konstitusional atau tidak untuk menjalankan hukuman mati padahal mereka secara mental dan fisik telah lemah.

"Itu akan menjadi masalah yang semakin meningkat dalam melaksanakan hukuman mati Amerika Serikat," kata Robert Dunham, direktur eksekutif Pusat Informasi Hukuman Mati di Washington. "Kami mencapai tahap usia tahanan hukuman mati makin menua, dan semakin banyak."

Sekitar 2.800 orang terpidana menanti hukuman mati di penjara nasional Amerika Serikat.

Dan sekitar 1.200 dari mereka berusia di atas 50, kata kelompok nirlaba tersebut.

Tinjauan Associated Press terhadap data grup menunjukkan usia rata-rata seorang narapidana yang dieksekusi di AS naik dari 34 menjadi 46 tahun antara 1983 dan 2017. Menurut pengamat hal itu terkait dengan pengajuan banding memakan waktu lebih lama - kadang-kadang beberapa dekade.

Walter Leroy Moody, 83 tahun, adalah narapidana tertua yang dieksekusi mati pada Kamis 19 April 2018.

"Banyak dari para terdakwa ini telah melakukan hal-hal yang mengerikan. Orang-orang terpecah antara keinginan untuk menghukum dengan berat dan keyakinan bahwa bagaimana bisa negara menghukum sesorang yang pada dasarnya sudah sekarat," kata Dunham.

"Ini jelas menantang moral dan rasa kemanusiaan kita," ucapnya.

Kent Scheidegger, direktur hukum dari lembaga pro-kematian, Yayasan Hukum Peradilan Pidana, mendukung langkah-langkah untuk mengurangi waktu antara hukuman seorang narapidana dan eksekusi.

"Tidak ada masalah konstitusional dari usia, sekalipun narapidana mengalami demensia. Pertanyaan mendasar adalah, sampai sejauh mana kita harus memulai eksekusi, tanpa harus menunda-nunda," ucapnya.

 

Artikel Selanjutnya
Venezuela Bebaskan Warga AS yang Ditahan Selama Dua Tahun
Artikel Selanjutnya
27-5-1999: Presiden Yugoslavia Didakwa Kasus Kejahatan Perang