Sukses

Ini 3 Isu Utama yang Akan Dibahas dalam Pertemuan Puncak Korsel dan Korut

Liputan6.com, Jakarta - Sebelas tahun berlalu setelah pertemuan antara pemimpin Korea Selatan dan Korea Utara terjadi pada 2007 silam.

Kini, kedua negara akan mengulang pertemuan serupa, tapi dengan beberapa tambahan agenda yang diprediksi menjadi sejarah baru.

Seperti yang diinformasikan langsung oleh Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-beom, Selasa (19/4/2018) di Jakarta, kedua negara akan melangsungkan pertemuan puncak pada 27 April mendatang.

Pertemuan itu akan dilangsungkan di The Peace House, yang berjarak 130 meter di selatan Zona Demiliterisasi.

Lokasi tersebut akan menjadi saksi sejarah baru, karena untuk pertama kalinya pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, melintasi perbatasan ke Korea Selatan.

Dijelaskan oleh Chang-beom, pertemuan puncak kedua negara akan membahas tiga isu utama yang berkaitan dengan perdamaian di Semenanjung Korea.

Isu pertama adalah tentang seruan denuklirisasi, yang menurut Chang-beom, merupakan hal krusial dalam menjaga stabilitas perdamaian di wilayah Asia Timur.

"Meski belum ada keputusan pasti, tapi sinyal-sinyal positif yang disampaikan pemerintah Korea Utara sudah bisa dikatakan sebagai kemajuan yang baik," jelas Chang-beom.

Adapun isu kedua adalah membahas bagaimana langkah-langkah untuk menciptakan stabilitas politik di Semenanjung Korea. Selain itu, poin ini juga membahas tentang bagaimana militer kedua negara berperan satu sama lain dalam mewujudkan perdamaian.

Sedangkan isu ketiga adalah peningkatan hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara dalam berbagai bidang, yang mampu memberi manfaat satu sama lain.

"Kami pikir masih cukup waktu untuk membahas detai-detail lainnya, yang mungkin dapat dibahas guna memperat hubungan kedua negara," jelas Chang-beom.

Ditambahkan olehnya bahwa jika pertemuan puncak kedua negara berhasil dilaksanakan, maka berpotensi memberi imbas positif terhadap wilayah sekitarnya. 

Meski begitu, Chang-beom mengingatkan agar sebaiknya tidak bersikap terlalu optimistis tentang hal-hal di luar upaya stabilisasi keamanan dan perdamaian di Semenanjung Korea. 

"Satu-satunya harapan terbesar kami adalah agar kedua negara dapat sama-sama membina perdamaian," ujarnya. 

 

Simak video pilihan berikut: 

 

 

 

1 dari 2 halaman

Pejabat Korsel: Sosok Kim Jong-un Berbeda dengan Apa yang Diberitakan Media

Sementara itu, menurut seorang pejabat Korea Selatan, Kim Jong-un digambarkan sebagai sosok yang berbeda dari yang sering ditampilkan di media.

"Dia sangat normal ketika bicara tentang berbagai topik, seperti musik, budaya, hingga olahraga," ujar Menteri Kebudayaan Korea Selatan Do Jong-hwan kepada CNN, seperti dikutip Liputan6.com, pekan lalu.

Do duduk di dekat Kim Jong-un dan istrinya, Ri Sol Ju, saat menyaksikan konser bintang K-pop di Pyongyang bulan lalu.

Konser bintang Korea Selatan, yang pertama di Pyongyang selama lebih dari 10 tahun terakhir itu, menunjukkan tanda jelas dari mencairnya hubungan kedua negara jelang pertemuan puncak antara Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in.

Usai tatap muka dengan Kim Jong-un, Do menjelaskan bahwa ia optimistis dengan pertemuan kedua kepala negara. Menurutnya, Kim Jong-un "tulus dan murni" ingin memperbaiki hubungan dengan Seoul.

"Jika (pertemuan) tidak berhasil, itu akan buruk untuk semua orang ... Korea Selatan, China, Korea Utara, dan Amerika Serikat," katanya. "Jika itu berhasil, berarti masalah antar-Korea dan nuklir bisa diselesaikan, itu baik untuk semua orang."

Artikel Selanjutnya
Protes ke AS, Korut Batalkan Agenda Pertemuan dengan Korsel
Artikel Selanjutnya
Penasihat Kepresidenan AS: Denuklirisasi Korea Utara Turut Melibatkan Fasilitas Kami