Sukses

Asteroid Seukuran Paus Melintas Dekat Bumi, Berbahaya?

Liputan6.com, Houston - Sebuah asteroid dijadwalkan melintas di dekat Bumi pada Jumat, 9 Februari 2018. Jarak lintasannya lima kali lebih dekat dibanding jarak Bulan ke Bumi.

Tepatnya, Asteroid yang dijuluki 2018CB itu akan melintas dalam jarak 64.000 km dari Bumi. Ukurannya sekitar 15 sampai 40 meter.

Meski jaraknya sangat dekat, asteroid seukuran paus itu tak berbahaya bagi Bumi.

"Meski 2018CB sangat kecil, itu bisa lebih besar dibanding asteroid yang masuk ke atmosfer Chelyabinsk, Rusia, hampir lima tahun yang lalu, pada 2013," ujar Manajer Center for Near-Earth Object Studies NASA, Paul Chodas, dalam sebuah pernyataan media seperi dikutip dari News.com.au, Kamis (8/2/2018).

"Asteroid sebesar ini tak biasanya mendekat ke planet -- mungkin hanya satu atau dua kali dalam setahun," imbuh Chodas.

Peristiwa Chelylabinsk terjadi saat sebuah meteor berukuran panjang 17 meter masuk menghantam kawasan Ural, Rusia.

Ketika meteor tersebut meledak di atmosfer, gelombangnya membuat 7200 bangunan rusak. Serpihannya pun beterbangan, di mana sebagian besar merusak kaca dan melukai 1.500 orang.

Teleskop Catalina Sky Survey milik NASA mendeteksi dua obyek dekat Bumi pada awal pekan ini.

Keberadaan asteroid 2018CB ditemukan oleh astronom pada Sabtu, 3 Februari 2018. Sementara itu asteroid lain, 2018CC, mendekati Bumi dengan jarak 184.000 km hanya 35 km sebelum Elon Musk meluncurkan roket Falcon Heavy pada Rabu, 7 Februari 2018.

1 dari 2 halaman

Asteroid Sebesar Bus Melintas Dekat Bumi

Pada 12 Oktober 2017 sebuah asteroid seukuran bus melintas di dekat Bumi pagi. Batu angkasa luar 2017 SX17 yang berukuran 8 meter itu, mengorbit Bumi dengan jarak rata-rata sekitar 384.600 km.

Menurut para peneliti di Center Near-Earth Object yang berbasis di Jet Propulsion Laboratory NASA, Pasadena, 2017 SX17 berada dalam jarak terdekatnya, yakni 26.310 km dari Bumi.

Asteroid 2017 SX17 ditemukan pada 24 September 2017. Asteroid tersebut telah dipelajari oleh beberapa teleskop dan sejumlah pengamatan, termasuk Steward Observatory dan Mount Lemmon Survey di Arizona, dan Panoramic Survey Telescope and Rapid Response System (Pan-STARRS 1) di Haleakala Observatory di Hawaii.

Berdasarkan pengamatan tersebut, diketahui bahwa asteroid itu menyelesaikan satu orbitnya setiap 467 hari.

Artikel Selanjutnya
Erupsi Dahsyat, Gunung Kilauea Semburkan Abu Setinggi 9.000 Meter
Artikel Selanjutnya
9 Fakta tentang Bumi yang Tidak Diajarkan di Sekolah