Sukses

Tantang Penguasa di Pilpres 2018, Eks Jenderal Mesir Ditangkap

Liputan6.com, Kairo - Seorang pensiunan jenderal Mesir dilaporkan ditangkap oleh militer di Kairo setelah mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri dalam Pilpres 2018 yang akan digelar bulan Maret mendatang.

Ia berpotensi jadi lawan presiden petahana Abdel Fatah Al Sisi. Kabar penangkapannya tersebut disampaikan oleh staf kampanyenya

Sami Anan, yang juga mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mesir, dituduh oleh pihak tentara atas tuduhan penghasutan, demikian seperti dikutip dari The Guardian (23/1/2018).

Militer Mesir belum memberikan komentar mengenai dugaan penahanan tersebut. Begitu pun dengan Kementerian Dalam Negeri Mesir yang masih diam seribu bahasa.

Seorang juru bicara untuk Sami Anan mengatakan dalam sebuah pernyataan di televisi bahwa tentara telah memanggil sang mantan jenderal karena pengumuman tersebut.

Sang jubir menyebut, militer menilai pengumuman pencalonan dirinta itu "dimaksudkan untuk mendorong perpecahan antara angkatan bersenjata dan rakyat Mesir."

Sang jubir juga mengatakan bahwa Anan dituduh telah memalsukan dokumen resmi yang menyatakan bahwa ia telah berhenti dari dinas militernya.

Lepas dari keanggotaan di angkatan bersenjata adalah salah satu persyaratan bagi para mantan pejabat militer untuk mencalonkan diri dalam Pilpres di Mesir.

Sami Anan menjabat sebagai Kepala Staf sampai tahun 2012, di bawah kepemimpinan mantan Presiden Mohammed Morsi dari faksi Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin).

Namun, Morsi dan sejumlah jajaran kabinetnya --termasuk Anan-- dikudeta oleh kelompok pro-presiden Mesir yang kini menjabat, Abdel Fatah Al Sisi.

2 dari 2 halaman

Berikrar Akan Membawa Perubahan

Pada Sabtu 20 Januari 2018, Jenderal Sami Anan mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden yang akan datang pada bulan Maret 2018 mendatang.

Pengumuman Anan disampaikan sehari setelah presiden petahana Mesir Abdel Fatah Al Sisi menegaskan niatnya untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan keduanya.

Pemilu tersebut merupakan yang ketiga digelar di Mesir sejak pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak.

Pengumuman tersebut juga disampaikan setelah Sisi mencopot kepala intelijennya usai skandal dugaan kebocoran dokumen intel yang kontroversial ke New York Times.

Dokumen itu mengungkapkan upaya rahasia sekelompok pejabat Mesir untuk meyakinkan masyarakat Negeri Piramida agar mendukung rencana Donald Trump memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem.

Anan mengumumkan akan maju pada Pilpres melalui sebuah video di halaman Facebook-nya. Dalam video itu, ia juga meminta lembaga negara Mesir untuk "tetap netral" dan tidak memihak dalam pemilihan.

Mantan panglima militer tersebut juga mengatakan bahwa situasi keamanan Mesir yang memburuk di seluruh negeri dan Sinai adalah akibat dari "kebijakan yang salah", dan ia mengikrarkan akan membawa perubahan untuk Negeri Piramida.

Loading
Artikel Selanjutnya
Batu 'Alien' yang Jatuh di Mesir Ini Berisi Silsilah Semesta?
Artikel Selanjutnya
12-01-1984: Pemugaran Piramida Agung Giza Terpaksa Dihentikan