Sukses

Terkuak, Desa 'Penyembuh' Bagi Para Pesohor Selama Ratusan Tahun

Liputan6.com, Perugia - Para pesohor seperti paus, uskup, dan raja-raja telah mengunjungi tempat berikut untuk melakukan penyembuhan secara 'ajaib'. Di manakah itu?

Maurizio Cancelli tinggal di sebuah desa kecil di pelosok Umbria, Pegunungan Apennini, Italia, yang dijuluki 'LittleTibet' karena spiritualitasnya. Dikelilingi oleh ladang apel emas, truffle, dan asparagus, lokasi tersebut diberi nama keluarga Maurizio yakni 'Cancelli' yang berarti gerbang dalam bahasa Italia.

Untuk semua orang yang telah disembuhkannya, Cancelli merupakan sebuah gerbang penyembuhan.

Ketika dilihat sekilas, Maurizio Cancelli tak tampak seperti shaman atau 'dukun'. Dalam kesehariannya ia menggunakan topi Cowboy, jeans, berkumis, dan memakai sepatu trekking.

Namun Maurizio bukanlah pria biasa. Kekuatan penyembuhan itu rupanya telah diturunkan selama berabad-abad oleh St. Paul dan St. Petrus ketika mereka melakukan penyebaran agama di seluruh Italia.

Pada suatu malam, mereka mengetuk pintu Cancelli untuk mencari penginapan dan makanan. Sebagai balasannya, mereka memberi kekuatan penyembuhan kepada seluruh anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki dengan hanya menempatkan tangan di badan mereka.

"Aku belajar segala hal dari ayahku. Orang-orang yang sakit memanggilnya dan ayah tak ingin dibayar. Ia berkata bahwa itu sudah merupakan tugasnya untuk membantu orang lain. Itu semua karena keyakinan, bukan uang. Agar kekuatan penyembuhan itu dapat bekerja, Anda harus mempercayainya," ujar Cancelli.

Cancelli merupakan nama desa yang diambil dari nama keluarga Maurizio Cancelli (Silvia Marchetti/News.com.au)

Pada suatu hari, ia merasakan getaran di tangannya ketika hendak pindah ke Jerman. Lalu Cancelli memutuskan untuk tetap berada di desa tersebut. Jika seorang shaman pindah, maka kekuatannya akan hilang.

Dikutip dari News.com.au, Minggu (5/6/2016), Cancelli memiliki keahlian untuk menyembuhkan linu panggul. Selain itu, ia juga mengobati beberapa penyakit seperti nyeri tulang belakang, artritis, dan sakit tulang.

"Selama berabad-abad, pihak gereja menentang keluargaku dan memanggil kita penipu. Tapi suatu hari seorang uskup terkenal terkena linu panggul parah, dan dia dibawa ke sini lalu langsung sembuh," cerita Cancelli.

Maurizio Cancelli seorang shaman dari garis keturunan Cancelli (Silvia Marchetti/News.com.au)

Setelah pemulihan ajaib tersebut, sang uskup kemudian membujuk Tahta Suci untuk memberikan orang-orang Cancelli semacam izin melakukan praktik penyembuhan dan mengakui profesi mereka.

Orang-orang yang menderita sakit tulang pun melakukan perjalanan ke tempat yang dianggap suci di pusat desa. Praktik tersebut dibangun di atas reruntuhan sebuah kuil pagan yang dulunya digunakan untuk menjadi kediaman Cancelli.

Di pintu masuk terdapat dua simbol St. Paulus dan St. Petrus yang terbuat dari perak. Di sebuah ruangan berbatu bawah tanah dan diterangi lilin, di sana terbaring jasad mereka.

Ruang bawah tanah tempat jasad St. Paul dan St. Peter dibaringkan (Slivia Marchetti/News.com.au)

Bangku kayu berbaris di dekat dinding dan orang-orang berlutut di depan altar dan berdoa. Cancelli kemudian memberikan 'tanda' di belakang mereka, dari kepala sampai mata kaki, dan menggambar salib di tubuh mereka beberapa kali.

Di atas ruang bawah tanah itu terdapat sebuah gereja indah yang dibangun pada tahun 1700-an, yang dibangun oleh Raja Italia atas ucapan terima kasih karena penyembuhan oleh Cancelli.

Selain bertugas sebagai shaman, Cancelli juga memiliki perkerjaan lain. Ia merupakan guru seni di sebuah sekolah menengah dan merupakan pelukis yang galerinya berada di sebelah rumahnya. Hasil karyanya pernah dipamerkan di kantor pusat PBB di Jenewa, Swiss.

Gereja di atas ruang bawah tanah (Silvia Marchetti/News.com.au)

Tak hanya itu, ia juga memiliki warung makan kecil yang menyajikan menu khas Italia. Tempat itu ramai dikunjungi pada hari Minggu oleh para pesepeda.

Cancelli kebanjiran pengunjung pada Bulan Juni, ketika Roma merayakan hari St. Paul dan St. Peter. Para pengunjung pun harus antri untuk bertemu dengan shaman.

"Aku menghabiskan hariku dengan 'memberi tanda' ratusan peziarah. Sangat melelahkan, namun itu merupakan panggilanku" ujar Cancelli.