Sukses

Kisah Pilu Penyanyi Jadul, 'Mendunia' setelah 35 Tahun Hilang

Liputan6.com, New York - "Kenalkan Connie Converse. Biasa-biasa saja, berkacamata, dan mungkin tak akan bisa membaur dalam pesta. Ketika sudah bernyanyi, ia mengubah segalanya!"

Itulah yang diungkapkan kartunis terkenal Gene Deitch mengenang seorang wanita yang menyanyi sembari memetik gitarnya di sebuah pesta di New York, tahun 50-an.  Ia tertarik dengannya. Mereka lalu berkenalan dan meminta Connie untuk merekam sejumlah lagi di rumahnya. Namun, tak ada perusahan label musik tertarik dengannya. Satu-satunya penampilan Connie di TV terjadi tahun 1954 dalam acara 'Morning Shows' di CBS.

Pada 1961, ia meninggalkan New York, menuju Ann Arbor, Michigan, di mana saudara laki-lakinya Philip Converse menjadi profesor di jurusan studi politik di Universitas Michigan. Connie memulai pekerjaannya sebagai sekertaris serta menjadi Managing Editor untuk Jurnal Conflict Resolution pada 1963.

Baca Juga

Tahun-tahun berikutnya Connie didera depresi. Ia minum dan merokok berlebihan, dan meminjam uang untuk proyek yang kemudian gagal.

Pada Augustus 1974 ia menulis berlembar-lembar surat untuk keluarganya dan teman-temannya. Dalam surat itu ia menyebut ingin memulai hidup baru di tempat lain.

"Biarkan saya pergi. Biarkan saja menjadi diri saya jika bisa. Jangan biarkan saya jika tak bisa."Kemanusiaan membuat saya terkesima dan kagum, juga mengisi hari-hari saya dengan suka dan duka. Namun saya tak bisa menemukan tempat untuk diri saya," begitu isi surat Connie.

Saat surat itu sampai, dia telah mengepak barang-barangnya di mobil VW Kodoknya dan pergi. Menghilang. Tak tahu di mana keberadaannya.

2 dari 3 halaman

Terkenal setelah 35 Tahun 'Hilang'

Namun, ada sejumlah orang yang tak rela Converse pergi. Termasuk Deitch.

Tahun 2004 lalu, Deitch yang kini berusia 89 tahun dan tinggal di Praha, diundang oleh ahli sejarah musik New York acara stasiun radio WNYC, Spinning on Air, untuk memutarkan musik kesukaannya. Ia mengikutsertakan salah satu musik Converse berjudul One by One.

Dan Dzula sedang berkendara di New Jersey dengan saudara laki-lakinya mendengar program radio itu, lantunan lagu dari Converse membuatnya sungguh kagum.

"Saya merasakan kekaguman luar biasa," ungkapnya pada News.com.au. "Lagu itu membuat kami emosional. Saya sungguh terpikat."

Dzula bergegas pulang dan merekam lagu dari acara radio, membaginya dengan teman-temannya selama beberapa tahun mendatang. Sesekali ia mencari nama Connie di Google, untuk mencari tahu kapan albumnya keluar.

Dzula, yang saat itu berprofesi sebagai penulis jingle iklan, tak sabar, dan menghubungi Deitch.

Kepada Dzula, Deitch mengungkapkan kisah hidup Connie

Dzula terdorong melakukan sesuatu, dan mengajak David Herman, rekan bisnisnya, memulai label rekaman independen.

Nama Squirrel Thing Recordings, yang diambil dari kutipan di lagu Talkin’ Like You (Two Tall Mountains) dari Connie dipilih menjadi nama label rekaman.

Keduanya menghubungi Phil Converse dan menemukan bahwa keluarganya masih menyimpan rekaman yang dibuat Connie di rumah.

Dzula dan Herman bekerja sama. Mereka memilih 15 dari 35 lagu terbaik, dan meningkatkan kualitas suaranya. Tahun 2009, mereka merilis album debut Converse, 'How Sad, How Lovely', 35 tahun setelah ia menghilang.

Label berhasil menjual ribuan album, dan dari seluruh dunia, penggemar Converse bermunculan.

3 dari 3 halaman

Konser dan Film Dokumenter

Di media sosial, versi cover lagu bermunculan. Konser tribute digelar, dan film dokumenter kehidupan Converse dibuat. Bahkan, ada yang berspekulasi film 'Inside Llewyn Davis' debutan sutradara kakak-beradik terkenal Cohen's brothers terinspirasi darinya.

Howard Fishman, musisi asal New York telah menulis pertunjukan mengenai kisah hidupnya, dan memproduksi album 'Connie Converse's Piano Songs', yang berisi lagu-lagu yang tak sempat direkam, namun kini menjadi lembaran lagu. Herman dan Dzula menyusun album yang berisi lagu-lagu Connie yang tak pernah didengar, dan penggemar pun bermunculan.

"Connie, satu hal yang dikatakan mengenai lagu-lagunya, adalah 'dicintai oleh puluhan orang dari seluruh dunia'. Setelah penggemarnya melewati sepuluh, kami sudah puas."

"Orang-orang menanggapinya, baik kisah hidupnya, lagu-lagunya, dan liriknya. Seniman yang terabaikan bukan hanya Connie, namun ia contoh yang sempurna. Ia berbakat di banyak hal. Ini kisah yang sedih, namun ia tetap menjadi pahlawan. Ia pribadi yang menawan," ungkap Dzula.

Seorang saudara percaya bahwa perempuan berkacamata bunuh diri, namun banyak yang tak percaya.

"Ia tak menulis surat bunuh diri," ungkap Dzula. "Ia mengungkapkan keinginan untuk memulau hidup baru."

Jika Connie masih hidup, usianya kini 90 tahun. Keberadaanya masih menjadi misteri.