Sukses

Eks WNI Ditangkap di AS karena Corat-coret Anti-Yahudi

Liputan6.com, New York - Seorang warga AS keturunan Indonesia ditangkap Kepolisian Kota New York atas dugaan perbuatannya membuat grafiti atau coretan anti-Yahudi di sejumlah kendaraan dan dinding bangunan di kawasan Brooklyn, New York.

Michael Setiawan, yang juga bekas anggota kepolisian di New York, ditangkap pada Minggu 4 Mei 2014 waktu setempat setelah warga melaporkannya ke polisi.

Pria berusia 36 tahun itu dilaporkan membuat coretan dengan cat semprot berupa lambang swastika dan lambang anti-Yahudi lainnya di kawasan Borough Park, Brooklyn.

Polisi mengatakan, dia menuliskan kata-kata hinaan ke Yahudi , seperti "F**k you Jew" and "Jews ain’t s**t" di mobil dan dinding bangunan, termasuk sekolah Yahudi B’nos Zion Bobov yeshiva.

Menurut sejumlah saksi mata, seperti dimuat BBC, Selasa (6/5/2014), coretan cat warna merah yang dilakukan Setiawan ditemukan pada 15 kendaraan dan 4 bangunan di dekat rumah ibadah umat Yahudi (sinagog) Bnos Zion dan sekolah yang dikelola komunitas ultra-Ortodoks Bobov.

Dari rekaman kamera pengintai di sekolah tersebut, juga terlihat aksi si tersangka. Namun kepolisian belum memastikan apakah orang tersebut adalah Michael.

Seperti dikutip dari New York Post, atas perbuatannya, Michael didakwa dengan 19 tuduhan tindak kriminal, termasuk menyebarkan kebencian.

Laporan polisi menyebutkan, Michael dan orangtuanya tinggal di kawasan Queens, New York. Sang ayah, Thomas Setiawan, mengaku terbangun pada Minggu pagi saat aparat kepolisian mendatangi rumahnya.

Dia kemudian membangunkan anaknya di kamarnya, sebelum akhirnya polisi menangkap Setiawan. ''Apa salah anak saya? Apa yang diperbuatnya?" ujar Thomas yang merupakan imigran asal Indonesia kepada BBC.

Thomas mengatakan, Michael memang tengah bermasalah dengan kesehatan mentalnya. "Dia mengalami depresi dan mencoba bunuh diri setelah keluar dari kepolisian," katanya.

Michael Setiawan merupakan mantan polisi yang bertugas di sektor kepolisian Canarsie, di bawah naungan resor kepolisian Brooklyn. Dia berhenti sebagai polisi pada 2007 lalu.

Sebelum menjadi polisi, Michael pernah dipecat dari pekerjaannya di sebuah pabrik kosmetik di Long Island, kata sang ayah.

Thomas yang merupakan pensiunan sopir taksi limusin ini menuturkan ia dan keluarga pindah dari Jakarta ke AS pada 1989 setelah mereka menang lotere green card. Saat itu, Michael baru berusia 12 tahun. (Yus)