Sukses

Presiden Yudhoyono, Nomine Nobel Perdamaian 2006

Liputan6.com, Stockholm: Para tokoh di balik lahirnya kesepakatan damai di Nanggroe Aceh Darussalam difavoritkan meraih Nobel Perdamaian tahun ini. Mereka adalah mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan kelompok Gerakan Aceh Merdeka. Peraih Nobel Perdamaian akan diumumkan Jumat (13/10).

Komite Nobel Swedia menilai penandatanganan kesepakatan damai yang dilakukan di Helsinki, pertengahan Agustus 2005, dinilai sebagai prestasi cemerlang [baca: Merangkul Saudara, Memaafkan Masa Lalu]. Pasalnya penandatanganan damai tersebut terjadi saat upaya damai yang tengah diupayakan di belahan dunia lain, seperti di Timur Tengah dan Srilanka justru berjalan di tempat.

Di antara ketiga nomine, peluang Ahtisaari untuk mendapatkan penghargaan Nobel paling besar. Maklum, bersama lembaga Crisis Management Initiative yang dipimpinnya, Ahtisaari melahirkan sejumlah karya besar di bidang perdamaian. Di antaranya kemerdekaan Namibia pada 1989 dan penyelesaian krisis Kosovo pada 1999.

Selain, Yudhoyono, Ahtisaari, dan GAM, sejumlah nama besar lainnya menjadi nomine penghargaan serupa. Di antaranya vokalis band U2 Paul David Hewson alias Bono, yang juga terlibat aktif dalam kampanye antikelaparan di Afrika dan kampanye pembebasan utang luar negeri negara dunia ketiga. Penyanyi yang juga aktif menggalang dana kemanusiaan Bob Geldof juga difavoritkan meraih penghargaan ini.

Komite Nobel Swedia sudah mengumumkan peraih Nobel Kesusastraan 2006 yang jatuh ke tangan sastrawan Turki, Orhan Pamuk. Pria berusia 54 tahun ini dinilai pantas mendapat penghargaan Nobel karena kemampuannya menampilkan simbol baru bagi perbenturan budaya. Pamuk yang telah kerap meraih berbagai penghargaan, berhak atas hadiah cek senilai sepuluh juta kronor atau sekitar Rp 12 miliar.(ORS)