Sukses

Bisa Jadi Sumber Penghasilan Disabilitas, Yuk Ikutin Cara Bikin Pot Handuk

Liputan6.com, Jakarta Para penyandang disabilitas memerlukan berbagai pelatihan keterampilan untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah secara mandiri.

Salah satu pelatihan yang sering diberikan kepada penyandang disabilitas adalah pelatihan membuat kerajinan. Yayasan disabilitas di Sidoarjo, Jawa Timur memiliki ide untuk membuat pot dari handuk bekas.

Selain alat dan bahan yang diperlukan terbilang sederhana, pembuatannya pun cukup mudah dan bisa dikerjakan oleh penyandang disabilitas.

Ketua Yayasan Ananda Mutiara Indonesia (Y-AMI), Yenni Darmawanti SE mengatakan bahwa ide awal pembuatan pot dari handuk adalah ketika yayasan menerima donasi handuk bekas dari donatur.

“Awalnya saya coba-coba dari handuk yang terkumpul dari donasi. Awal mencoba hasilnya cukup bagus. Lalu saya telepon teman yang punya usaha handuk, dia mengirimkan handuk-handuk bekas ke Y-AMI,” ujar Yenni kepada Disabilitas Liputan6.com melalui pesan suara, Rabu (7/9/2022).

Dalam satu bulan, Yenni bisa menerima sekitar 75 kilo handuk bekas dari rekannya. Dengan begitu, yayasan memiliki kesempatan untuk membuat pot handuk dalam jumlah yang lebih besar.

“Jadi kami enggak usah mikirin bahannya karena sudah tersedia.”

Ia pun merinci alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat pot dari handuk yang meliputi:

- Handuk bekas

- Semen

- Cat bekas

- Cat pilox

- Penyangga

- Kaleng bekas (kaleng biskuit, kaleng cat, dan lain-lain).

Alat dan bahan untuk membuat pot handuk cukup mudah didapatkan dan kebanyakan terdiri dari barang-barang bekas. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Cara Membuat

Setelah alat dan bahan tersedia maka pembuatan pot dari handuk bekas bisa dimulai. Menurut Yenni, langkah-langkah pembuatannya sebagai berikut:

- Basahi handuk dengan air biasa

- Setelah dibasahi, handuk dicelup ke dalam adonan semen

- Setelah dicelup, handuk dicetak menggunakan kaleng bekas agar membentuk pot

- Keringkan handuk selama satu hingga dua hari

- Setelah kering dan mengeras, lapisi kembali dengan semen agar lebih halus dan tebal

- Keringkan lagi selama satu hari

- Setelah kering, pot handuk bisa dilapisi cat bekas di bagian dalam

- Sedangkan, di bagian luar pot bisa diwarnai dengan cat pilox agar warnanya lebih cerah.

“Kalau pakai cat pilox itu jauh lebih cepat tapi memang boros, lebih cepat habis dibanding cat dinding atau cat besi. Memang sempat disarankan untuk menggunakan cat kapal tapi pasti harganya lebih mahal lagi. Jadi sejauh ini cat yang kami gunakan adalah cat pilox.”

3 dari 4 halaman

Mudah bagi ABK

Yenni menambahkan, Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang dilibatkan dalam pelatihan ini adalah anak-anak yang sudah cukup besar. Pelatihan ini juga sangat mudah diikuti oleh ABK.

“Ini sangat mudah untuk diajarkan kepada ABK karena enggak perlu banyak langkah, cukup celupkan handuk, aduk-aduk semen dengan air, dan yang paling menyenangkan biasanya tahapan mengecat. Anak-anak bisa bermain warna.”

Pot handuk ini bisa menjadi ide bisnis bagi para penyandang disabilitas karena memiliki nilai jual. Satu pot ukuran kecil atau besar dibanderol dengan harga Rp50.000.

“Untuk penjualannya Alhamdulillah respons dari teman-teman saya cukup banyak yang membantu jadi tidak menemui kesulitan.”

Beberapa pihak tak segan membeli pot hasil karya anak-anak disabilitas. Bahkan ada yang membeli 5 hingga 15 pot.

Selain pelatihan membuat pot dari handuk bekas, yayasan ini juga melakukan berbagai pelatihan seperti kelas potong rambut, kelas memasak, hingga kelas membaca Al-Quran.

4 dari 4 halaman

Aktif Berikan Pemberdayaan

Y-AMI sendiri adalah yayasan yang memberikan pemberdayaan kepada orangtua dan ABK di Kabupaten Sidoarjo.

Yayasan ini aktif memberikan pemberdayaan, pelatihan hingga khitan massal gratis kepada ratusan ABK di Kabupaten Sidoarjo dan Jawa Timur.

Visi Y-AMI adalah memberikan ruang yang inklusif kepada ABK dan orangtuanya agar tetap dapat berdaya.

“Sudah hampIr tiga tahun kami berjuang, Alhamdulillah respons orangtua dengan ABK sangat positif. Karena mereka mengaku tidak banyak yayasan yang memberikan kesempatan luas seperti kami,” kata Yenni.

Menurut perempuan yang juga dikaruniai tiga putra berkebutuhan khusus itu, Y-AMI membuka banyak kelas untuk semua anak istimewa dan orangtuanya.

“Ada kelas menari, yoga, kreasi, pencak silat, haircut class, membaca Al-Quran metode wafa, calistung, kelas tata boga, jadwal terapi untuk ABK, hingga kelas parenting untuk orangtuanya,” papar Yenni.

Semua kelas yang dibuka oleh Y-AMI bersifat sukarela dan cenderung gratis. Pasalnya, kebanyakan kondisi perekonomian orangtua ABK tersebut masuk dalam kategori menengah ke bawah.

“Latar belakang ekonomi mereka menengah ke bawah, meski ada beberapa dalam kondisi baik dan mampu. Ya kita saling subsidi silang gitu deh.”

“Banyak orangtua ABK berstatus single parent ditinggal kabur suaminya karena tidak dapat menerima anaknya yang berkebutuhan khusus,” pungkasnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS