Sukses

Kembangkan Kemampuan Bisnis Penyandang Disabilitas, Akademi Ini Berikan Beasiswa Sertifikasi

Liputan6.com, Jakarta Penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk mengembangkan kehidupan dengan pekerjaan yang layak.

Namun, mencari pekerjaan bagi sebagian besar penyandang disabilitas bukan lah hal yang mudah. Berbagai spesifikasi mulai dari latar belakang pendidikan, pengalaman, dan skill menjadi pertimbangan setiap perusahaan.

Sedangkan, kebanyakan penyandang disabilitas tidak mengenyam pendidikan tinggi. Jika pun mengenyam pendidikan tinggi, mereka tetap sering mendapatkan penolakan dengan berbagai alasan.

Berangkat dari masalah tersebut, forum edukasi pengelolaan bisnis dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang diinisiasi oleh Gadjian (PT Fatiha Sakti Group) Gadjian Academy, membuka kesempatan beasiswa.

Beasiswa ini ditujukan bagi penyandang disabilitas dan pebisnis Usaha Kecil Menengah (UKM) dari daerah tertinggal untuk mengikuti program sertifikasi yang dinamai Chartered People Officer (CPO).

Program sertifikasi ini merupakan kolaborasi Gadjian dengan konsultan berpengalaman yang telah menangani beragam program pembenahan korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pungki Purnadi. Beberapa badan usaha yang telah ditangani oleh Pungki di antaranya PT Kereta Api Indonesia (KIA) dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

CEO Gadjian, Afia Fitriati menjelaskan, beasiswa ini merupakan bukti peran aktif Gadjian, selaku pengembang aplikasi pengelolaan SDM, untuk mendukung program SDM Indonesia Unggul yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.

2 dari 4 halaman

Pembelajaran dalam Program CPO

Pihak Afia berharap dengan adanya beasiswa ini, para penyandang disabilitas dan pebisnis UKM daerah terpencil lebih termotivasi dan mudah mendapatkan akses edukasi bisnis dan pengelolaan SDM yang berkualitas untuk mengembangkan bisnis.

Dalam program CPO yang akan berlangsung dalam kurun waktu 6 minggu selama bulan Juli hingga Agustus 2022 ini, peserta sertifikasi akan mempelajari materi-materi terkait fundamental pilar-pilar pengelolaan bisnis dan SDM. Seperti langkah-langkah rekrutmen, strategi penentuan kompensasi karyawan, dan masih banyak lagi.

“Proses belajar mengajar dilakukan secara daring sehingga dapat diakses peserta dari seluruh Indonesia,” mengutip keterangan pers Selasa (14/6/2022).

Sejak 2016, Gadjian Academy telah mengadakan lebih dari 100 lokakarya pengelolaan SDM dan mengedukasi lebih dari 3.000 praktisi bisnis dan SDM dari seluruh penjuru Indonesia. Kerja sama dengan konsultan Pungki Purnadi yang berpengalaman lebih dari 20 tahun di sektor swasta, BUMN dan pemerintahan diharapkan akan semakin meningkatkan nilai tambah yang diterima oleh peserta program CPO.

3 dari 4 halaman

Dukungan bagi Penyandang Disabilitas

Sebagian penyandang disabilitas masih mampu bekerja secara mandiri. Hanya saja, stigma yang berkembang membuat berbagai pihak tidak yakin.

Seperti yang disampaikan Co-Founder Pijar Psikologi, Regis Machdy, penyandang disabilitas intelektual ringan masih bisa melakukan pekerjaan sederhana sehari-hari secara mandiri jika diberikan akses dan fasilitas yang memadai.

“Orang-orang dengan disabilitas intelektual range-nya kan macam-macam ada juga yang masih bisa bekerja, pekerjaan yang teknis dan repetitif itu mereka masih bisa lakukan,” ujar Regis dalam kuliah umum yang ia bagikan di saluran YouTube pribadinya (Regis Machdy), dikutip Rabu (14/4/2021).

Ia mencontohkan beberapa pekerjaan yang bisa dilakukan oleh penyandang disabilitas intelektual ringan yakni melinting rokok, membungkus, membersihkan meja, dan pekerjaan sederhana lain yang polanya jelas.

Dalam mendukung perkembangan penyandang disabilitas intelektual di kehidupan sehari-hari, lingkungan memiliki peran tersendiri.

Menurut Regis, dukungan berkaitan dengan strategi dan sumber daya yang dibutuhkan seseorang agar individu dapat berfungsi dalam lingkungannya.

4 dari 4 halaman

Peran Lingkungan

Misal, lanjutnya, ketika penyandang disabilitas intelektual haus maka ia harus tahu di mana letak gelas dan air yang ia butuhkan.

Orangtua dalam hal ini dapat mengajarkan anaknya tentang tempat menyimpan gelas dan tempat mengambil air sehingga anak dapat melakukannya sendiri di kemudian hari.

“Kalau dia mau ke toilet, dia perlu tahu pintu mana yang menuju ke toilet, cara membuka retsleting, cara menekan flush. Itu kan kemampuan dasar yang orang kebanyakan dengan melihat waktu kecil bisa langsung tahu cara pipis dan lain-lain.”

“Tapi, bagi orang dengan disabilitas intelektual, itu semua adalah sebuah konsep yang butuh diajarkan secara perlahan dengan alur yang sangat jelas langkah demi langkahnya supaya mereka paham dan berfungsi di lingkungan.”

Dukungan bagi penyandang disabilitas intelektual juga bisa dalam bentuk teknologi, lanjut Regis. Misal, diberi tablet atau ponsel pintar untuk membantunya berkomunikasi.

“Jadi mereka semacam punya tablet gitu, ada berbagai gambar yang bisa mereka klik ketika mereka mau ngomong sesuatu tapi tidak punya kapasitas verbal yang cukup,” tutupnya.