Sukses

Penyandang Disabilitas Berbagi Pengalaman untuk Menyiapkan Kurikulum Inklusif

Liputan6.com, Jakarta Nikhil Kishore, penyandang disabilitas yang tumbuh dengan dikelilingi orang-orang non-disabilitas, membagikan tips untuk aksesibilitas di bidang pendidikan.

Menurutnya, seiring bertumbuh dewasa, Nikhil menyadari kurangnya representasi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara sekolah mungkin membuat akomodasi untuk lingkungan fisik dan pendekatan instruksional untuk membantu siswa penyandang disabilitas belajar dan tumbuh, kebanyakan memilih diam atau menutupi disabilitasnya dan tidak berkontribusi untuk memperbaiki kurikulum agar lebih mudah diakses.

Maka Nikhil berupaya meningkatkan kesadaran tentang disabilitas dan menjelaskan apa artinya menjalani cara hidupnya dan penyandang disabilitas lainnya, seperti dilansir dari Edutopia:

Prevalensi Disabilitas

Disabilitas fisik dan mental berdampak pada kehidupan orang Amerika yang tak terhitung jumlahnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) memperkirakan bahwa satu dari empat orang dewasa di Amerika Serikat hidup dengan disabilitas.

"Jika seseorang mempertimbangkan orang-orang yang sekarang menyandang disabilitas, orang-orang yang yang kemungkinan akan mengembangkan disabilitas di masa depan, dan orang-orang yang sedang atau akan menjadi difabel, terpengaruh oleh disabilitas orang-orang yang dekat dengan mereka. Maka disabilitas memengaruhi hari ini atau akan memengaruhi kehidupan kebanyakan orang Amerika di masa depan," dikutip dari The Future of Disability in America, oleh Institute of Medicine of the National Academies.

Guru dan perancang kurikulum menciptakan pengalaman belajar yang lebih beragam yang menggabungkan individu dari semua latar belakang, dan sangat penting untuk juga memasukkan penyandang disabilitas ke dalam pengajaran kurikuler. Untuk memastikan bahwa individu penyandang disabilitas lebih terintegrasi ke dalam kurikulum sekolah dan, oleh karena itu, masyarakat Amerika, sekolah harus merevisi narasi instruksional mereka dan mengadopsi sumber daya yang lebih inklusif dan representatif.

 

2 dari 2 halaman

Rekomendasi untuk Mmebuat Kurikulum yang Lebih Inklusif

Kurikulum dan sumber daya sekolah harus membantu siswa membangun pemahaman yang lebih dalam tentang identitas pribadi mereka; membantu mereka mengembangkan empati, pengertian, dan rasa hormat terhadap orang lain; dan memberdayakan mereka untuk memperbaiki ketidakadilan dan memperbaiki dunia. Guru harus mempertimbangkan poin-poin berikut, yang dikembangkan oleh Nikhil Kishore dan Carl Cooper.

1. Merancang unit instruksional yang memungkinkan siswa belajar tentang disabilitas. Misalnya, guru dapat menggunakan Ableism Bingo, yang merupakan sumber yang berguna untuk mengajar siswa tentang kemampuan. Sebagai alternatif, pembuat film Crip Camp: A Disability Revolution mengembangkan kurikulum, panduan diskusi, dan rencana pelajaran yang dapat digunakan guru untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman tentang disabilitas dan penyandang disabilitas yang ditawarkan oleh film Netflix.

2. Kemukakan dan hadapi representasi yang salah dari penyandang disabilitas. Bekerja untuk menghilangkan prasangka dalam sastra, media, dan masyarakat. Pembicaraan TED Stella Young, "Saya Bukan Inspirasi Anda, Terima Kasih Banyak," menentang ideologi bahwa mereka yang hidup dengan disabilitas menginspirasi hanya karena mereka memilikinya.

3. Memanfaatkan buku dan sumber daya yang berpusat pada individu penyandang disabilitas. Artikel Rebekah Gienapp “6 Stereotype-Busting Children's Books Starring Disabled Characters” menawarkan beberapa rekomendasi kuat. Namun, ketika membaca buku-buku ini di kelas, penting bagi guru untuk fokus pada orang-orang yang menjalani kehidupan mereka, bukan disabilitas.

4. Mengakui kehidupan dan kontribusi individu penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas telah memberikan kontribusi pada sains, seni, politik, dan masyarakat secara keseluruhan. “10 Majorly Successful People With Disabilities” karya Tiffiny Carlson mendokumentasikan 10 orang terkenal di seluruh dunia yang hidup dengan disabilitas. Karena guru memasukkan lebih banyak keragaman dalam kurikulum, mereka harus fokus pada interseksi identitas. Ras, gender, orientasi seksual, kemampuan dan disabilitas, dan kelas sosial semuanya merupakan kontributor penting bagi identitas dan masyarakat.

5. Memasukkan disabilitas ke dalam narasi sejarah. A Disability History of the United States, oleh Kim E. Nielsen, memusatkan pengalaman historis individu penyandang disabilitas dari pra-1492 hingga sekarang dan merupakan alat yang luar biasa bagi guru dan perancang kurikulum. juga mencakup sumber daya untuk membantu memperluas dan membuka narasi sejarah. Misalnya, organisasi Proyek Pendidikan Zinn (yang membantu memperluas narasi sejarah) menyarankan agar guru sejarah Amerika menggunakan materi dari Hak Disabilitas dan Gerakan Hidup Mandirikoleksi digital di University of California, Berkeley. Koleksinya mencakup sejarah lisan yang dapat dicari dan makalah arsip yang merupakan alat yang ampuh untuk mendukung penyelidikan dan penelitian sejarah. Proyek Pendidikan Zinn juga merekomendasikan agar para guru memanfaatkan garis waktu virtual dari 400 SM hingga abad ke-20 yang dibuat oleh Museum of disABILITY History.

6. Merancang peluang PBL (Problem-Based Learning) yang mengikutsertakan individu penyandang disabilitas. Guru juga dapat menggunakan SDGs untuk menyusun tantangan pembelajaran berbasis masalah yang inklusif.

Kurikulum yang lebih akurat, representatif, dan inklusif akan mendukung rasa memiliki siswa dan pengembangan komunitas sekolah yang sehat, dan, pada akhirnya, akan mendorong masyarakat yang lebih adil, demokratis, pluralistik, dan egaliter.