Sukses

Taman Baru di Bangkok Tuai Protes, Aktivis Sebut Tak Bisa Diakses Penyandang Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta Baru-baru ini Bangkok memiliki taman baru, Khlong Nonsi. Namun taman ini menuai kritik penyandang disabilitas

Dilansir dari Coconuts, seorang aktivis hak penyandang disabilitas Nalutporn mengatakan bahwa kota itu telah menghabiskan sejumlah besar uang pembayar pajak untuk pekerjaan umum yang tidak dapat diakses oleh semua pembayar pajak.

“Saya melihat orang-orang membicarakan proyek ini secara online. Saya melihat bahwa proyek tersebut diklaim inklusif dan sama-sama dapat diakses oleh warga untuk bersantai. Saya warga negara, dan saya memiliki hak untuk menggunakan ruang itu juga,” kata Nalutporn Krairiksh, yang mengadvokasi hak-hak disabilitas di Thisable.Me.

Ia merinci banyak kendala yang ia hadapi saat mencoba mengunjungi taman tersebut, sedangkan diketahui bahwa pemerintah menghabiskan jutaan uang untuk membangunnya ulang, mengatasi kanal yang bau. Adapun yang ditemui mereka yang mencapai taman tersebut adalah betapa taman baru ini tidak bisa diakses pengunjung penyandang disabilitas.

Tantanagn pertama bagi penyandang disabilitas menurut Nalutporn adalah bahwa untuk mencapainya, masih terlalu jauh dari transportasi umum. Sehingga ia harus mengemudikan kursi rodanya melintasi delapan jalur lalu lintas yang sibuk di persimpangan tanpa tanda dengan pengawalan sepeda motor yang membantunya menghindari mobil. Lain halnya jika datang dengan kendaraan motor dapat mencapai daerah atasnya dengan penyeberangan melintasi Jalan Naradhiwas Najagharindra.

 

Simak Video Berikut Ini:

2 dari 3 halaman

Menyulitkan pengguna kursi roda

Meskipun jalannya sedang dibangun tetapi tidak mencapai taman langsung, kata Nalutporn.

“Saya keluar dari lift, dan saya berada di tengah jalan. Setelah saya menyeberang jalan, tidak ada akses kursi roda ke jalan setapak," katanya.

Aksesibilitas adalah keluhan utama para kritikus yang menuduh kota memiliki keuntungan besar. Proyek miliaran baht ini direncanakan untuk mempercantik kanal sepanjang 4,5 kilometer menyusuri Naradhiwas dari Jalan Surawong ke Sungai Chao Phraya.

“Mengapa membangun taman di tengah jalan, di mana polusi udara sangat buruk?” ungkap Niramon Serisakul dari Pusat Desain dan Pengembangan Perkotaan Chulalongkorn University baru-baru ini dalam sebuah wawancara. Pada pertemuan yang diadakan awal bulan ini, Prapas Luangsiri, direktur transportasi dan lalu lintas kota, mengatakan 12 pintu masuk di masa depan akan ditentukan, setengahnya akan menjadi jalan penyeberangan dengan lampu lalu lintas.

Arsitek lanskap terkenal Kotchakorn Voraakhom, yang perusahaan Landprocessnya telah mengerjakan proyek tersebut, mengatakan pada akhirnya akan ada akses yang lebih dari cukup. Jalan yang menghubungkan Chong Nonsi Skywalk ke taman diharapkan akan dibuka bulan depan.

Manit Inpim, yang melawan Balai Kota di pengadilan selama bertahun-tahun untuk membuat BTS Skytrain dapat diakses, dibawa sebagai konsultan pada proyeknya. Ia menyarankan perancangan proyek dan Balai Kota untuk memasukkan akses kursi roda bersama dengan fitur lain seperti penyeberangan yang ditinggikan dan karena CCTV.

"Saya mencoba menengahi. Tapi apakah mereka akan melakukan seperti yang saya rekomendasikan lain lagi ceritanya," kata pria yang pernah terkenal mendobrak pintu kaca lift BTS setelah mengalami terlalu banyak penghinaan. Manit juga menyatakan akan mengunjungi taman itu sendiri setelah Tahun Baru, yang menurutnya, Nalutporn berhak mengangkat isu aksesibilitas ini agar semua orang kedepannya, terlepas dari kemampuan fisiknya, dapat mengakses tempat-tempat umum.

“Ini adalah hak asasi manusia bahwa setiap orang dapat bepergian,” katanya.

 

3 dari 3 halaman

Jalannya Tertutup

Nalutporn mendokumentasikan usahanya ke taman lewat lebih dari 40 foto, yang telah dibagikan oleh puluhan ribu orang.

Foto-foto itu menunjukkan bukti dari ia naik lift BTS, menaikkan kursi rodanya di Naradhiwas menuju Sathon Road. Lalu sesampainya disana, aktivis berusia 28 tahun itu tidak punya pilihan selain mempertaruhkan semuanya melintasi delapan jalur lebih dari Sathon, bukan sesuatu yang akan diambil risiko oleh siapa pun jika mereka tidak mencoba untuk menjelaskan maksudnya. Lebih parah lagi, tampak trotoar terhalangi oleh tiang rambu lalu lintas yang ditempatkan dengan buruk.

"Tidak hanya saya khawatir setiap kali menyeberang jalan, saya bahkan tidak bisa turun ke jalan setapak karena ada tiang di tengah jalan saya," katanya.

“Ketika seorang teman membantu saya turun [dari jalan setapak], saya harus menunggu lama sampai saya tahu bagaimana menyeberang jalan dengan begitu banyak mobil,” tambahnya. “Saya berterima kasih kepada salah satu sepeda motor yang membantu saya dengan perlahan-lahan naik di sebelah saya sampai saya berhasil menyeberang jalan.”

Dari sisi selatan Naradhiwas, dia bisa menggunakan zebra cross untuk mencapai taman kanal. Desainnya yang berjenjang tidak repot untuk menyertakan sarana navigasi bagi mereka yang tidak bisa menaiki anak tangga.

“Jika saya datang ke sini dengan teman-teman saya, di mana saya akan bergaul dengan mereka? Di mana saya akan berada tanpa menghalangi jalan orang lain?” keluhnya.

Adapun Nalutporn tidak hanya mengeluhkan masalah tersebut, melainkan juga menawarkan solusinya. Ia merincikan hal-hal yang dibutuhkan kota ini, seperti jalan setapak yang aman dan dapat dilalui dengan berjalan kaki untuk semua orang, bukan hanya untuk penyandang disabilitas.

“Memiliki jalan setapak yang baik adalah hak dasar orang. Beberapa orang mengatakan kepada saya bahwa saya harus menunggu sampai skywalk selesai, tetapi saya pikir ini menunjukkan betapa piciknya mereka. Artinya penyandang disabilitas belum bisa datang melihat proyek kanal?” kata Nalutporn. Ia menyebutkan kalau fase proyek selanjutnya sudah diakomodasi dengan lebih baik, ia akan berkunjung lagi.