Sukses

Liputan6.com Meraih Peringkat ke-6 Jajaran Top Media Inklusif

Liputan6.com, Jakarta Sebagai media yang kerap memberitakan warga disabilitas, Liputan6.com dengan bangga masuk peringkat ke-6 dalam Indeks Media Inklusif (IMI) 2020, Sebuah kajian yang mengukur inklusivitas media yang dilakukan oleh Remotivi.

Kajian ini menilai pemberitaan dari 10 media daring Indonesia, mengenai 4 kelompok marginal:

- Warga dengan disabilitas

- Komunitas religius yang mengalami diskriminasi

- Perempuan dalam kekerasan, dan

- Keragaman gender dan orientasi seksual.

"Inklusivitas media penting untuk mendorong kesetaraan akses informasi sertapelenyapan diskriminasi terhadap kelompok marginal. Tapi media seringkali mengabaikan hal ini. Kita pun tidak punya acuan untuk mengukur sudah sejauh mana kualitas media dalam hal inklusivitas," kata Direktur Eksekutif Remotivi Yovantra Arief dalam keterangan pers, ditulis Selasa (15/12/2020).

"Pemaparan hasil riset ini disampaikan oleh Roy Thaniago selaku Peneliti Utama IMI. Sebagai studi awal, IMI membatasi risetnya terhadap sepuluh media daring yang dipilih berdasarkan ragam kepemilikan media, popularitas di Alexa.com, dan ragam karakter media," ujarnya.

Liputan6.com dinilai mendapat skor yang baik terutama pada klaster Disabilitas: peringkat 4 di IMI dan peringkat 2 di survei inklusivitas.

"Skor Liputan6.com yang baik pada klaster disabilitas semakin memperkuat asumsi bahwa mutu berita akan naik bila media memberikan perhatian khusus lewat rubrikasi," tulis Remotivi.

 

2 dari 4 halaman

Memenuhi aspek jurnalisme

Riset ini menganalisis 1.938 berita yang kemudian dinilai dari tiga aspek, yaitu standar jurnalisme, afirmasi media terhadap kelompok marginal, serta aksesibilitas website bagi kelompok disabilitas.

Febriana Firdaus, Jurnalis Investigasi Independen yang menjadi pembicara dalam acara peluncuran IMI mengatakan bahwa salah satu masalah yang menghambat media dalam membuat jurnalisme yang inklusif adalah rendahnya keberagaman di kalangan jurnalis.

"Untuk bisa membuat jurnalisme yang mengangkat isu marginal dengan baik,butuh jurnalis yang berasal dari latar belakang yang beragam, dan memang menguasai isu marginal."

Febriana juga menyoroti minimnya pelatihan bagi jurnalis untuk meliput isu marginal, serta beban kerja jurnalis yang sangat berat sehingga menghambat dalam merekadalam mempelajari isu-isu baru.

"Hal ini jadi pekerjaan yang harus didorong oleh setiap perusahaan media," tuturnya.

Selain Febriana, peluncuran hasil riset IMI juga turut menghadirkan Wahyu Dhyatmika, Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia. Wahyu berpendapat bahwa struktur industri media daring juga punya andil dalam menghambat terwujudnya pers yang inklusif.

“Mulai dari persepsi audience yang monolitik, model bisnis yang butuh impresi, pola pikir rating dari pengiklan," tuturnya.

Salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran media mengenai hak kelompok marginal adalah dengan memperbanyak perjumpaan. “Perjumpaan media dengan kelompok marginal bisa jadi alternatif untuk menumbuhkan empati sehingga medial ebih sensitif," tuturnya.

"Pintu masuk terbaik adalah dari asosiasi untuk mewadahipertemuan ini, seperti AJI atau AMSI.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: