Sukses

Li Hua, Pria dengan Tubuh Terlipat Akhirnya Bisa Berdiri Tegak Setelah 28 Tahun

Liputan6.com, Jakarta Seorang pria asal China, Li Hua (47 tahun) akhirnya bisa berdiri setelah 28 tahun berjuang melawan penyakitnya, Ankylosing spondylitis (AS) atau spondilitis ankilosa.

Li didiagnosis dengan AS sejak usianya masih 18 tahun. AS merupakan kondisi langka yang menyebabkan tulang menempel, membuat tulang belakang membungkuk ke depan sehingga tiga bagian tubuhnya menempel (dagu dengan dada, tulang dada dengan tulang pubis, dan wajahnya dengan tulang paha). 

"Li Hua memiliki disabilitas tulang belakang akibat ankylosing spondylitis. Penyakit persendian ini memberikan tekanan pada jantung dan paru-parunya yang dapat berdampak pada disfungsi organ. Maka hidupnya akan berada dalam bahaya. Itu juga bisa menekan sumsum tulang belakangnya dan berdampak pada paraplegia. Operasi yang kami jadwalkan untuk Li Hua sungguh menantang," jelas dokternya, Tao Huiren, seperti dimuat South China Morning Post.

Ibu Li bercerita, ia telah membawa anaknya ke banyak tempat untuk mencari pertolongan, namun tidak satupun pengobatan bekerja. "Saya sudah membayar biayanya, tapi anakku belum sembuh juga," ujar Tao.

Tak kuasa menahan tangis, ia mengatakan, tidak bisa mendapatkan perawatan yang layak untuk Li karena keluarganya bukan dari kalangan yang mampu. Sehingga kondisinya, terutama posturnya semakin memburuk, sampai tubuh bagian atasnya benar-benar menekuk hingga anggota tubuh bagian bawah. Ia mencemaskan bagaimana jika dirinya meninggal, siapa yang akan mengurus anaknya?

Tahun 2019, Li pergi ke Shenzhen University General Hospital dan bertemu dokter Tao Huiren yang bersedia menolongnya.

 

2 dari 4 halaman

Kasus Li paling rumit

Dr. Tao menghabiskan dua minggu untuk memikirkan rencana operasi Li. Untuk membantu Li Hua berdiri tegak, Dr. Tao memutuskan untuk mematahkan beberapa tulang, lalu merekonstruksinya.

Di antara pasien AS, kasus Li Hua dianggap kasus tersulit, paling rumit. Operasinya juga berisiko. Ia bisa mengalami syok Hemoragik (syok akibat kehilangan banyak darah sehingga asupan oksigen dan nutrisi ke jaringan tidak adekuat), menjadi paraplegia, atau bahkan meninggal. Siapapun harus bersiap secara mental untuk skenario ini.

Tentu ibunda Li sedih mendengar bahwa anaknya harus menderita lagi di ruang operasi, namun memikirkan masa depan anaknya yang telah menderita selama lebih dari 20 tahun, ia dan anaknya pun berani menerima konsekuensi tersebut.

Adapun operasi yang Li jalani terbagi ke dalam empat tahap: Femoral osteotomy, Cervical osteotomy, Lumbar spine osteotomy, dan mengganti sendi pinggul.

Operasi 1: Femoral osteotomy. Yaitu tahap mematahkan dan merekonstruksi tulang paha, untuk memperluas jarak antara wajah dan tulang pahanya.

"Jika kami tidak bisa memasukkan selang untuk anastesi maka kami tidak bisa melakukan operasi. Sehingga kami mau tidak mau harus menyerah dengan perawatan keseluruhan," ujar Dr. Tao.

"Kami harus memasukkan selang saat Li terjaga. Itu tidak hanya membutuhkan skill, tapi juga kerjasama Li. Sebelum operasi, kami tidak yakin dengan kondisi batang tenggorokannya berdasarkan deformasi tubuhnya. Jadi saya tidak yakin apakah kami akan sukses," ujar Sun Yanyuan, direktur departemen anastesi Shenzhen University Hospital.

Semua tenaga medis di ruang operasi Li terus menyemangati Li dan membuatnya rileks. Sehingga saat selangnya berhasil masuk, mereka semua sangat gembira. "Kami merasa seperti telah melalui penghalang terbesar," ujar Dr. Sun.

"Sendi pinggul Li Hua sangat kaku, karena tubuhnya telah menekuk sekian lamanya. Langkah pertama adalah mematahkan dan merekonstruksi tulang pahanya, sehingga kami bisa memperluas celah antara tulang paha dan mulutnya. Maka kami bisa melanjutkan ke tahap operasi berikutnya," ujar Dr. Tao.

Setelah tiga jam berlalu, operasi pertama dinyatakan sukses.

Operasi 2: Cervical osteotomy, Mematahkan dan merekonstruksi tulang belakangnya agar Li bisa mengangkat kepalanya.

"Tahap operasi kedua yaitu mematahkan dan merekonstruksi tulang di sekitar lehernya dan membantu mengangkat kepalanya. Lalu kami akan merekonstruksi tulangnya," jelas Dr. Tao. Operasi ini bisa mengakibatkan paraplegia. Setelah lebih dari 6 jam, akhirnya Li bisa mengangkat wajahnya. Setelah melihat Li yang sudah bisa mengangkat wajahnya, ibundanya pun tersenyum bahagia.

"Itu pertama kalinya saya melihat seluruh wajahnya. Dia tampak sangat muda! Kini saya bisa membayangkan masa depannya. Ia bisa bekerja, memiliki rumahnya sendiri, dan menikah," ujar sang ibunda dengan girang.

Operasi 3: Lumbar spine osteotomy, yaitu mematahkan dan merekonstruksi tulang belakang lumbal agar Li dapat berdiri tegak.

"Meskipun kebanyakan operasinya bukan hal yang baru, menggabungkan semuanya adalah terobosan baru. Kami membutuhkan dokter berbeda bidang, termasuk anastesiologi, ortopedi dan penyakit infeksi. Itu merupakan upaya keras banyak bidang departemen yang terlibat. Operasi ketiga juga cukup sulit. Dia (Li) telah memiliki osteoporosis parah, artinya sekrup yang kami masukkan ke tulangnya mudah terlepas. Jika itu terjadi, bisa menyebabkan paralisis," jelad Dr. Tao.

Setelah lebih dari 10 jam, akhirnya Li bisa berbaring tegak.

"Saya sangat senang. Akhirnya saya bisa berbaring. Saya belum pernah berbaring di atas punggung selama lebih dari 20 tahun," ujar Li senang. Namun setelah operasi ketiga, Li mengalami demam.

"Itu akan menjadi bencana jika ia mendapat infeksi. Tantangan terbesar yaitu ia harus menjalani operasi keempat-empatnya dalam waktu singkat. Sistem imunnya akan menyerangnya," ujar Dr. Tao. Beruntung, inflamasinya tidak terlalu serius dan Li berangsur-angsur pulih.

Operasi 4: Mengganti sendi pinggul untuk membantu Li berdiri.

"Operasi terakhir adalah mengganti sendi pinggulnya. Setelah kami mengganti sendi pinggulnya, ia akan bisa berdiri di atas kakinya dan berjalan," ujar Dr. Tao. Setelah 7 jam, Li menyelesaikan operasi terakhirnya.

"Setelah operasi, akhirnya saya bisa melihat ibuku lebih dekat. Dia tampak lebih tua dan rambutnya telah beruban. Saya merasa sangat bersalah. Dia tidak bisa menjagaku seumur hidupnya. Saya harap saya bisa cepat sembuh, sehingga dia bisa terbebas dari bebannya selama ini," ujar Li.

Namun karena ototnya yang menyusut, Li harus membutuhkan berbulan-bulan untuk rehabilitasi.

"Dr. Tao menyelamatkan hidup saya. Jika bukan karenanya maka tidak akan ada kesempatan bagi saya untuk sembuh," ujar Li.

"Kami sekeluraga sangat berterima kasih kepada rumah sakit ini, kepada para dokter, dan kepada para perawat. Saya sangat bahagia melihatnya sembuh," ujar ibunda Li terharu.

Pada Juli lalu, Li akhirnya keluar dari rumah sakit. Saya telah meninggalkan rumah selama setahun. Banyak keluarga saya yang tidak percaya bahwa saya tidak bungkuk lagi. Mereka semua ingin melihat saya.

Setelah 28 tahun, Li Hua khirnya bisa mengangkat kepalanya menghadap langit dan melihat dunia dengan pandangan yang baru.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

4 dari 4 halaman

Simak Juga Video Berikut Ini: