Sukses

Tatyana MCFadden, Pemenang Paralimpik Menghancurkan Stereotip Tentang Atlet Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta Memiliki disabilitas bukanlah hal yang memalukan. Itulah dirasakan awalnya, termasuk Tatyana McFadden yang terlahir dengan spina bifida (cacat lahir pada sumsum tulang belakang) saat akhirnya berinteraksi dengan orang lain selain dengan lingkungan panti asuhannya.

Saat itu Tatyana baru berusia 15 tahun dan dia memenangkan medali Paralimpiade pertamanya. Dia adalah anggota termuda dari Tim AS dan baru memulai karirnya, namun tidak ada sambutan meriah yang harusnya ia dapatkan saat menaiki podium di Athena. Sebagian besar tribun kosong. Bahkan sejak awal ia masuk sekolah menengah, ia bahkan tidak diizinkan untuk balapan dengan tim lari sekolahnya.

"Saya adalah satu-satunya pembalap wanita kursi roda. Mereka akan menghentikan seluruh perlombaan an kemudian saya akan lari sendiri. Itu cukup memalukan. Saya merasa malu karena disabilitas. Saya merasa sangat tidak disukai dalam olahraga yang saya sukai," kata Tatyana.

Perlakuan tersebut tak lantas diterima begitu saja oleh Tatyana. “Itu hanya ketidaktahuan dan kurangnya pendidikan. Saya merasa itu adalah tanggung jawab saya untuk memberikan pendidikan itu dan berkata, 'Tidak, tidak, tidak. Saya tidak akan mengambil apa pun dari Anda.' Saya ingin membuat olahraga menjadi lebih baik. Untuk membuat komunitas menjadi lebih baik," tuturnya kepada Glamour.

Atas dasar itulah ia menuntut hak penyandang disabilitas untuk sama-sama berpartisipasi dalam olahraga sekolah menengah. Ia mengaku betapa sulitnya untuk mencoba menjadi anggota parlemen pada usia 15 tahun.

Bahkan kasusnya pernah menarik perhatian media nasional dan padan 2013 menjadi undang-undang federal. “Orang-orang menyuruh saya untuk mengubah impian saya, tetapi pada kenyataannya, kami perlu mengubah persepsi orang — bukan impian saya.”

 

2 dari 3 halaman

Kehidupan di Panti Asuhan

Terlahir dengan kondisi spina bifida bukan keinginannya. Ia menghabiskan enam tahun pertama hidupnya di Panti Asuhan Nomor 13 di St. Petersburg, Rusia. “Saya tidak mendapatkan perawatan medis, saya tidak bersekolah. Dan tidak ada kursi roda. Jadi saya berlari dengan cepat atau berjalan dengan tangan saya. Saya ingin menjadi seperti anak-anak lain, pergi ke tempat yang mereka tuju. Saya ingin diikutsertakan, jadi begitulah cara saya melakukannya" katanya.

Ketika dia berusia enam tahun, ibu McFadden, mantan Komisaris Disabilitas AS yang berperan penting dalam menulis Undang-Undang Penyandang Disabilitas Amerika, mengunjungi panti asuhan Tatyana dalam perjalanan kerja. Tak lama setelah itu, dia mengadopsi Tatyana dan membawanya pulang ke AS, tempat kursi roda pertamanya telah menunggu.

Tatyana harus menjalani banyak operasi untuk meluruskan kakinya. “Ketika saya menjalani semua operasi itu, dokter tidak mengira bahwa saya akan bertahan hidup. Tapi orang tua saya berpikir, Oh tidak, tidak, tidak. Kami akan membuatnya memiliki kehidupan yang luar biasa," ujarnya.

Bersyukur memiliki orang tua seperti McFadden, membuat Tatyana terus berusaha memberi timbal balik yang positif. Dan hasilnya, ia menjadi salah satu wanita tercepat di dunia. Dia memegang 17 medali Paralimpiade (termasuk perak untuk ski lintas alam, yang dia menangkan di negara asalnya Rusia pada tahun 2014) dan menjadi orang pertama (dengan disabilitas) ang memenangkan empat maraton besar dunia pada tahun yang sama pada tahun 2014, 2015, dan 2016.

Kisahnya ini akhirnya dibuat film berjudul "Rising Phoenix" yang tayang perdana kemarin di Netflix. Film dokumenter ini mengikuti sembilan atlet, termasuk McFadden, dalam perjalanan Paralimpiade mereka dan menghancurkan persepsi bahwa penyandang disabilitas adalah keterbatasan. Dalam wawancara dengan Glamour, McFadden berbicara tentang mengubah persepsi penyandang disabilitas, memperjuangkan lebih banyak peluang, dan mengapa Paralimpiade adalah olahraga yang hebat.

Saat berada di panti asuhan, ia tidak merasa begitu berbeda. Ia bermain dengan semua anak di sana. Saat itu ia belum tahu apa-apa tentang dunia luar. Teman-temannya pun di panti asuhan tidak membedakannya karena mereka hanya bermain.

Begitulah yang Tatyana tanamkan dalam benaknya saat memasuki dunia maraton. Awalnya konferensi pers dilakukan terpisah untuk komunitas maraton. Lalu Tatyana berinisiatif berdiskusi dengan direktur perlombaan dan memberi tahu mereka bahwa mereka tidak akan melihat dirinya tahun depan. Mereka berkata, "Kamu pemenang kami." Lalu Tatyana menjawab, "Ya, tapi saya tidak akan berada di sini jika saya akan mengikuti konferensi terpisah. Jika semuanya begitu terpisah, saya tidak akan berada di sini tahun depan."

Tatyana tidak menganggap dirinya berbeda yang berhak diperlakukan secara terpisah hanya karena dirinya duduk di kursi balap. Menurutnya itu olahraga yang sama. Ia melakukan pelatihan yang sama seperti pelari berbadan sehat biasa; kami melakukan 120 mil seminggu, kami mengangkat beban dua kali seminggu. Dalam komunitas marathon, saya selalu duduk bersama para pelari berbadan sehat. Saya tidak pernah benar-benar berpikir, Oh, kita sangat berbeda karena saya menggunakan kursi roda dan Anda tidak.

Mengubah persepsi itu sulit. Tapi dengan itu membuat Tatyana memasuki pertandingan pertamanya tahun depan di Tokyo dan mendapatkan bayaran yang sama. Tentunya tak terbayangkan olehnya akan berkesempatan dalam karirnya.

"Butuh waktu cukup lama agar perubahan itu terjadi, tetapi saya senang ketika itu terjadi. Sekarang setiap medali yang kita peroleh akan datang dengan jumlah hadiah uang yang sama dengan yang dibayarkan oleh Olympian. Sebelumnya, perbedaan gaji cukup besar," katanya, seperti dikutip dari Glamour.

"Saya juga melihat transformasi yang luar biasa untuk memiliki lebih banyak sponsor dan lebih banyak liputan media. Saya tidak terlalu takut untuk blak-blakan tentang itu. Saya telah melakukan banyak percakapan dengan NBC dan berkata, 'Hai. Saya akan menjadi orang yang paling menyebalkan, tetapi dengan cara yang baik karena menurut saya Anda perlu menambah jam liputan untuk Paralimpiade.'"

Hal tersebut dirasa mengganggunya karena jam liputan yang dimiliki paralimpiade lebih sedikit daripada kepada atlit lainnya. "Para atlet ini memiliki kisah yang luar biasa dan perjalanan yang menakjubkan, dan orang-orang ingin menontonnya. Tapi Anda harus menunjukkannya. Jika Anda tidak menunjukkannya, orang tidak akan tahu dan tidak mendengarkan."

Ia berharap setiap orang yang menonton Rising Phoenix menyadarkan penyandang disabilitas dan menjadikannya norma, bukan tabu. Lebih baik lagi jika ornag yang menontonnya berkata, “Oh, saya bisa mempekerjakan penyandang disabilitas. Itu benar-benar tidak masalah."

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: