Sukses

Terinsiprasi Anaknya yang Autisme, Seorang Ibu Membuat Sensori Kit untuk Petugas Medis

Liputan6.com, Jakarta Seorang ibu yang memiliki anak autisme tentu mengetahui secara langsung tantangan apa yang dihadapi anak-anak dengan masalah sensorik di kehidupan sehari-hari mereka. Seperti yang dirasakan Amber Horton, ibu dari Max. Ia melihat anaknya terstimulasi berlebihan oleh pemandangan dan suara tertentu.

Horton bekerja sebagai teknisi medis darurat, jadi ia menyadari pentingnya mencari cara untuk menyelamatkan anak-anak seperti Max. Pandangan inilah yang membuat sang ibu mengembangkan "sensory kit", yaitu alat bagi pasien autisme untuk mengatasi lampu dan sirine yang berkedip saat mengendarai ambulans.

"Saat itu saya menyadari betapa menyulitkannya bagi seseorang dengan masalah sensorik untuk mengendarai ambulans. Sehingga saya berusaha mencari cara untuk mengatasinya," kata Horton kepada MLive.

Peralatan tersebut terdiri dari selimut tebal, penutup telinga yang dapat meredam bising, kacamata hitam untuk meredupkan cahaya dan alat komunikasi untuk menggambarkan rasa sakit yang dirasakan anak-anak.

Sejak saat itu, Horton telah memasang sensori kit di setiap ambulans untuk membantu paramedis mengatasi stimulasi berlebihan setiap naik ambulans pada setiap pasien autisme di Muskegon County.

 

2 dari 3 halaman

Menerima Hibah

Ide Horton yang muncul beberapa tahun lalu ini telah menerima hibah $ 700 (sekitar Rp10 juta) dari Michigan Community Service Commission. Dengan hibah tersebut, memungkinkannya untuk membuat 20 sensory kit dan melengkapi semua 17 ambulans Pro Med.

Horton mengatakan kalau ia memilih setiap item yang masuk ke dalam kit setelah penelitiannya berbulan-bulan. Dia mengatakan kalau anaknya, Max yang kini berusia 5 tahun, ia jadikan 'kelinci percobaan' untuk memilih apa yang harus dimasukkan ke dalam sensori kit.

"Aku melihat apa yang disukai Max, apa yang tidak disukainya. Saya akan berada di Home Depot setiap hari, melihat kenop dan pipa kecil dan apa pun yang bisa saya gunakan, dan kemudian saya akan berada di Walmart mencoba semua bahan hanya untuk memastikan itu adalah jenis bahan yang tepat, karena mereka (penderita autisme berlebih) sangat sensitif."

Horton mengatakan sensori kitnya tidak hanya penting untuk membuat pasien merasa nyaman, tetapi juga menjaga mereka agar tidak berpotensi melukai diri sendiri.

Menurut Horton, ketika seorang autisme dengan sensorinye terstimulasi berlebihan, mereka akan masuk ke mode sangat panik.

"Mereka benar-benar akan panik. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, mereka hanya ingin berada jauh dari situasi tersebut, dan itu menyebabkan mereka memiliki keadaan darurat medis. Bahkan mereka bisa mati. Makanya aku ingin menghindarinya," jelas Horton.

Sembari terus memasok ambulans dengan sensori kit, Horton juga bekerja sambil mengajarkan rekan-rekannya tentang spektrum autisme dan seperti apa bentuknya.

"Ini penting karena sering kali orang keliru mengira orang autisme dengan pengguna narkoba, atau Anda hanya sekedar tahu itu perilaku abnormal," kata Horton.

Horton mengadakan pelatihan dengan setiap petugas Pro Med untuk mengajari mereka cara menggunakan sensori kit dan cara menangani pasien yang mengalami autisme dengan gangguan spektrum.

"Kami belum memiliki kurikulum yang tepat untuk itu, dan saya mencoba mengubahnya. Saya perlu membuat petugas garda depan yang terlatih, saya perlu melatih petugas pemadam kebakaran, polisi perlu pelatihan,” kata Horton.

Dan bagi Horton yang seorang petugas Pro Med, pelatihan ini merupakan kesempatan baik bagi paramedis untuk belajar bagaimana membantu pasien autisme.

"Sampai sekarang, kami belum dapat mengidentifikasi sumber daya untuk petugas medis kami dalam membantu pasien anak yang membutuhkan transportasi ambulans," kata Chad Crook, manajer pengoperasian Pro Med.

Mereka pun akhirnya menyadari kebutuhan akan cara menangani pasien autisme dan bagaimana membantu meringankan pengalaman bagi petugas maupun bagi pasien.

Di Muskegon, ada 11.000 kunjungan ruang gawat darurat pediatrik dan 2.000 panggilan ambulan anak setiap tahun, menurut petugas Pro Med. Diperkirakan 6 persen dari populasi memiliki gangguan sensori yang berarti 780 anak-anak berpotensi membutuhkan sensori kit.

Horton mengatakan bahwa langka selanjutnya yaitu membawa idenya ke ruang gawat darurat dan rumah sakit di Muskegon City untuk mengadvokasi alat sensori agar tersedia bagi pasien. Dia mengatakan rencananya untuk mengajukan lebih banyak hibah untuk mendapatkan dana yang dia butuhkan untuk mengembangkan kit tambahan.

"Saya ingin (pasien autisme) memiliki kesempatan untuk berkomunikasi, merasa nyaman. Saya ingin mereka tidak takut pada penanganan pertama. Jadi, saya berharap dapat membantu dengan itu," kata Horton.

3 dari 3 halaman

Simak Video Menarik Berikut Ini: